Super Rich System

Super Rich System
Bertemu serigala



Bismillah.


Zidan dan Hana sudah sampai di SMP 30, masih banyak siswa-siwi yang berlalu lalung di area sekolah, karena memang waktu lonceng belum tiba.


Para siswa dan siswi baru saja berdatangan. Mungkin ada juga yang sudah datang sejak pagi-pagi sekali. Tidak dengan Hana, dia akan datang ke sekolah sama seperti siswa-siswi yang lain.


"Hana." teriak Melia.


Hana menutup kupingnya rapat-rapat mendengar suara teriakan cempreng milik Melia. Anak SMP yang satu itu memang hobi sekali berteriak.


Melia sudah berada di sebelah Hana, keduanya jalan bersejajar. Zidan yang melihat kedekatan Hana dan Melia merasa bersyukur, karena adiknya masih memiliki teman baik di sekolah. Tidak seperti dirinya dulu yang selalu saja jadi korban bullying.


Sampai Zidan dewasa pun, dia masih merasa bullyan dari orang yang Zidan kenal. Bahkan hampir merenggut nyawa Zidan sendiri.


"Loh bang Zidan kan? Abang Hana?" tanya Melia saat menyadari keberadaan Zidan.


"Benar." jawab Zidan.


Kini ketiga orang itu jalan bersama, saat di tengah-tengah jalan menuju kelas Hana, Zidan berpisah dengan Hana dan Melia. Dia harus ke ruang kepala sekolah yang terletak di sebelah barat, sedangkan kelas Hana terletak dibagian seletan. Itu artinya Hana dan Melia harus berjalan lulus, sedangkan Zidan harus belok kiri.


"Abang ke ruang kepala sekolah dulu ya." pamit Zidan.


"Iya bang."


Sebelum Zidan benar-benar pergi dari hadapan Hana, dia mengingatkan adik perempuannya lebih dulu.


"Ingat Hana, belajar yang bener. Titip Hana ya Mel." pesan Zidan.


"Siap bang, akan selalu dijaga biar tidak nyontek." sahut Meliam


"Bagus kalau begitu. Abang pergi dulu."


"Huksss, sono pergi abang! Ngeselin banget dah jadi orang." songong Hana pada abangnya.


Setelah kepergian Zidan, Hana maupun Melia segera menerukan langkah mereka menuju kelas.


Zidan berjalan santai menuju ruang kepala sekolah, walaupun baru sekali Zidan menginjakkan kaki di ruang pak kepsek, tapi dia masih ingat tempat dan jalanya.


"Zidan." sapa Kanza yang kebetulan keluar dari ruang guru tak tahu mau menuju kemana.


Merasa namanya disebut Zidan menoleh, ternyata seorang gadis cantik berseragam guru tengah menyapa dirinya.


"Hai Kanza, apa kabar?" sapa Zidan.


"Alhamdulillah baik, oh iya, mau kemana nih?"


"Ketemu pak Heru, kamu sendiri?" Zidan kini balik bertanya.


"Sama, yuk bareng aja." ajak Kanza gang membuat Zidan mengangguk setuju.


Zidan dan guru Kanza berjalan bersebelahan, tanpa keduanya sadari ada orang yang menatap tak suka pada Zidan.


"Siapa laki-laki yang bersama ibu Kanza?" ucap orang itu, dia memperlihatkan tatapan tak suka pada Zidan.


Tak butuh waktu lama Zidan dan Kanza sudah sampai di depan ruang kepala sekolah, dengan segera Kanza mengetuk ruang tersebut.


Tok....tok...tok....


"Masuk." suruh orang dari dalam ruang.


Sudah mendapatkan persetujuan dari yang memiliki ruang, barulah Kanza dan Zidan masuk.


"Ada perlu apa Kanza?" tanya pak Heru tanpa menatap Kanza, beliau masih fokus pada layar komputernya.


Pak Heru tahu kalau yang masuk ke ruangnya Kanza keponakan sendiri, tapi pak Heru tidak tau kalau ada Zidan juga yang hadir.


"Mau ngasih berkas yang bapak minta kemarin."


Barulah pak Heru mengangkat kepalanya untuk meriah berkas yang dibeirkan oleh Kanza.


"Loh, Zidan sudah datang rupanya." ucap pak Heru.


"Silakan duduk."


Sudah diperbolehkan duduk baru Zidan duduk, tepat di hadapan pak Heru. Sedangkan Kanza sudah pamit setelah memberikan berkas tadi.


"Pasti sebelumnyan Hana sudah mengatakan kalau saya mengundang kamu ke sekolah ini."


"Benar pak."


"Baik langsung saja pada intinya ya Zidan. Kamu ingat saya pernah menawarkan pekerjaan?"


"Tentu saya sangat mengingatnya pak."


"Syukurlah, apa Zidan lusa bisa melakukan tes untuk pertimbangan Zidan lolos atau tidaknya bekerja di sekolah ini. Tes hanya untuk memastikan apa Zidan bisa pengobatan atau tidak. Walaupun saya tahu Zidan bisa. bagimana pun tes harus tetap dilaksanakan." jelas pak Heru.


"Insya Allah saya sudah sangat siap pak "


"Terima kasih banyak Zidan, semoga kedepannya hubungan kerja sama kita akan semakin baik."


"Aamiin."


Pak Heru dan Zidan mengobrol sejenak sebelum Zidan pamit unduru diri, dia harus segeea ke markas Herman.


Tak terasa 30 menit berlalu akhirnya Zidan pamit, entah apa yang Zidan dan pak Heru bicarakan sampai lama sekali.


Dari sekolah Hana, Zidan segera menuju markas Herman dan yang lain. Disaat perjalan menuju markas Herman Zidan mmerasa ada yang sedang mengikuti dirinya. tampa memberhetikan langkahnya Zidan segera memasang kuda-kuda waspada menyadari diri sedang terancam bahanya.


Dia tidak tahu siapa atau apa yang kini tengah mengikuti dirinya.


Ting! sistem rich muncul disaat seperti ini. Pasti sistem akan memberikan informasi tentang yang tengah Zidan alami saat ini.


Menyadari kehadrian sistem Zidan segera bertanya pada sistem yang sudah menemaninya selama beberapa bulan terakhir ini.


"Siapa sebenarnya yang mengikutiku sistem?" tanya Zidan hanya untuk memastikan.


(Biar sistem periksa terlebih dahulu.) sistem segera menyalahkan laser berwaran hijau transparan yang tidak bisa dilihat oleh siapa saja, bahkan Zidan pun saka sekali tidak dapat melihat laser tersebut.


Sistem segera menditekasi tempat yang saat ini Zidan lewati. Sampai layar hijau milik sistem menunjukan titik merah yang terlihat di kamera penghubung laser.


(Berhati-hatilah Zidan ada bahaya yang mengintai) peringat sistem pada tuannya.


"Siapa yang mengikutiku sistem?"


(Tidak dapat terlihat jelas Zidan, karena terhalang sesuatu.)


Zidan masih penasaran ingin tau, siapa yang membuntutinya sampai ikut masuk ke dalam hutan. Menuju markas Herman dan kawan-kawan memang melewati hutan sebentar. Lama Zidan memutar otaknya sampai dia menemukan ide yang menurut Zidan bagus.


"Sistem aku ingin membeli fitur menghilang."


(Untuk apa Zidan? Bukankah tidak perlu menggunakan fitur menghilang)


"Sudah lakukan saja sistem."


(Baiklah, permintaan anda sedang di proses)


Ting!


(Fitur menghilang telah aktif, fitur ini sudah bisa digunakan. Fitur menghilang sudah diperbaharui agar lebih baik lagi.)


Berhasil mendapatkan fitur menghilang, Zidan segera mencari tempat untuk bersembunyi agar yang sedang membuntuti dirinya tidak curiga. Merasa sudah aman Zidan segera menggukan fitur menghilang.


Setelah itu Zidan menunggu apa yang tadi membuntutinya, dengan semua anggota badan tidak terlihat lagi Zidan bisa lebih leluasa.


Krek!


Benar saja tak lama setelah itu Zidan bisa melihat rombongan serigala seperti sedang mencari sesuatu. Zidan hanya mampu menatap ngeri rombongan serigala-serigala yang berada tak jauh darinya.


"Ini lebih mengerikan dari pada manusia." ucap Zidan begitu lirih.


(Pantas saja saat sistem berhasil menditeksi bahaya, tidak terlihat bahaya apa yang sedang menjumpai Zidan. Ternayat segerombolan serigala berbulu putih)