
Bismillah.
"Akhirnya kita sampai juga." ucap Rizal.
Setelah perjuangan keras Rizal dan Bagus berjalan di atas dinding, kini dua orang itu berhasil masuk ke dalam ruangan yang sangat mencurigakan.
"Itu asap apa?" tanya Rizal heran.
"Seet! Diamlah Rizal! jangan banyak tanya dulu kalau kita ketahuan bisa gawat." peringat Bagus.
"Iya Maaf."
Rizal dan Bagus terus memperhatikan asap hitam yang dibuat oleh beberapa orang, di dalam ruangan yang terlihat lebih mendominasi dari pada ruangan yang lainnya.
"Bukankah itu asap yang setiap pagi keluar dari gedung ini?"
"Kamu benar Bagus, tapi itu asap apa?"
"Aku juga kurang tau, lebih baik kita ambil sebagai bukti saja." usul Bagus.
Rizal mengangguk setuju, setelahnya mereka berdua mencari tempat yang aman, agar bisa lebih leluasa mencari informasi dari dalam ruang itu.
Tak
Tak
Tak
Suara sendal orang yang berjalan mendekati ruangan tersebut, "Seet jangan berisik, sepertinya ada orang yang mau masuk." ucap Rizal kali ini.
Keduanya masih bersembunyi dibalik lemari yang sudah tidak dipakai lagi, tapi masih diletakkan di dalam ruang tersebut.
Benar saja tak lama setelah itu 2 orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruang asap, orang tersebut satu laki-laki dan satu lagi perempuan.
"Siapa mereka?"
"Mana aku tahu Rizal! Berhentilah bertanya, fokus saja perhatikan apa yang kamu lihat!" kesal Bagus.
"Iya, iya, iya."
Keberadaan Rizal dan Bagus tidak terlalu jauh dari tempat pembuatan asap, tapi untung keduanya menggunakan masker.
"Bagaimana asap hipsotisnya sudah jadi?" tanya laki-laki yang masuk bersama perempuan yang berada disebelahnya.
"Sudah bos, hanya tinggal menunggu agar bisa bereaksi untuk besok." jawab anak buahnya.
"Hahahahahahaha." keduanya tertawa bersama terlihat bahagia sekali.
"Kerja bagus."
"Kalian terus awasi dan kembangkan asap ini, karena asap ini kita dapat menghipnotis seluruh kota agar tidak curiga dengan gedung kita, malah terpana dengan gedung ini. Tidak akan ada yang pernah tau, jika gedung ini gedung ilegal, tepat memperjualbelikan manusia dan narkoba, juga minuman keras hahaha." gadis itu tertawa jahat.
Diikuti oleh laki-laki yang ada di sebelahnya, "Kamu memang pintar sekali Karin sayang." puji laki-laki yang bernama Aksa.
"Tentu saja, aku memang terlahir begitu pintar."
Tidak ada yang menyadari kehadiran Rizal dan Bagus, kedua orang itu juga sudah merekam semuanya, tentang apa yang ada di dalam gedung hitam dan asap hipnotis.
Diketahui kedua orang itu adalah sepasang suami istri, "Teruskan pekerjaan kalian." suruh Aska.
"Baik bos!" jawab semua kompak.
"Ayo kita memantau tempat lain sayang." ajak Aska pada Karin.
Aska dan Karin segera pergi dari tempat itu, saat melihat lemari jelek di dalam ruangan Aska memberhentikan lagkahnya.
"Ada apa Aska?" tanya Karin heran.
Deg!
Jantung Rizal dan Bagus seakan tak bedetak lagi, kala mereka tau Aska tengah mendekat ke lemari tempat persembunyian mereka.
'Ya Allah selamatkan kami.' doa Rizal maupun Bagus dalam benak masing-masing.
"Sayang kamu mau kemana?" cegah Karin sebelum Aska mendekat ke lemari tersbut.
"Eh, tidak apa aku hanya mau melihat lemari ini, sudaj jelek tapi kenapa belum dipindahkan juga."
"Ohh, sudah biarkan saja, nanti suruh anak buah kita yang keluarin." ujar Karin.
"Ayo kita pergi." Aska mengangguk setuju.
Melihat Aska tidak jadi mendekat membuat Rizal maupun Bagus menghela nafas lega, sambil mengelus dada mereka masing-masing.
"Ayo kita pergi." ajak Rizal.
Setidaknya kedua orang itu sudah mendapatkan bukti tetang kebenaran gedung hitam yang sangat terkenal di kota.
"Kita harus mencari, Zidan dan yang lainnya."
"Jangan pikirkan itu dulu Rizal, sekarang pikirkan cara agar kita bisa keluar dari dalam sini."
"Ya kita lewat atap seperti tadi apa susahnya sih Bagus!"
"Noh kamu lihat." Bagus menujuk atap yang bisa mereka lewati tadi, atap itu kini sudah transparan.
"Astagfirullah, jadi bagaimana ini?" Bagus mengangguk lemah.
Bagus yang lemah seperti itu membuat Rizal menggeleng kesal, "Jangan nyerha kamu mau kita mati disini?"
"Tidak!"
Dibagian timur Zidan masih berusaha menyelamatkan Paul yang jatuh ke dalam lubang api.
"Zidan cepat sedikit aku sudah tidak kuat lagi! Ini sangat panas."
"Sabar Paul! Sabar." kesal Zidan.
Zidan tengah berpikir keras untuk menyelamatkan Paul. (Zidan gunakanlah tali yang Zidan beli dari toko sistem)
"Kenapa tidak muncul dari tadi sistem! Kamu lihat Paul hampir mati! Sekarang mana talinya tolong keluarkan.
(Baik Zidan permintaan diproses, mengambil tali milik Zidan yang disimpan oleh sistem)
Ting!
(Tali sudah berhasil diambil, ada di belakang Zidan)
Tanpa banyak basa-basi lagi Zidan yang sudah mendapatkan informasi dari sistem, langsung menarik tali tersebut.
Zidan segera mengulurkan tali pada Paul yang berada di dalam lubang tersebut.
"Ayo Paul pegang yang kuat talinya." intruksi Zidan.
Paul mengangguk patuh, saat tali sudah dipegang erat oleh Paul, Zidan segera menarik tali itu sangat kuat.
Duk!
Bruk!
"Alhamdulillah." ucap Zidan.
Setelah Zidan berhasil menarik Paul keluar dari lubang api.
"Ayo kita harus cepat pergi, sebelum kembali ketahuan oleh para penjaga yang berada di tempat ini." ajak Zidan.
"Benar ayo, tapi jangan kencang-kencang jalanya bokong dan kakiku masih terasa sangat panas.
Zidan patuh saja, perkiraan Zidan sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tawanan para orang-orang yang tidak bersalah.
Parahnya lagi orang yang ditawan di dalam gudang itu hampir rata-rata perempuan isinya. Benar saja tak lama Zidan dan Paul sudah bisa melihat lautan manusia yang dikurung di dalam kandang.
"Ini semua orang?" kaget Paul.
"Menurut kamu apa? Jangan berisik lihat penjaga disini banyak sekali, sekarang kita harus memikirkan cara agar bisa membebaskan mereka semua."
Zidan maupun Paul berpikir keras, tidak tau bagaimana caranya agar mereka bisa membawa seluruh lautan manusia itu bisa keluar dari gedung hitam, mereka saja penuh perjuangan agar bisa masuk.
"Sistem apakah ada cara? Atau sistem bisa mengeluarkan semua orang dari dalam gedung ini?"
(Mungkin ada cara, Zidan bisa menggunakan lorong waktu milik sistem, tapi Zidan harus bisa paham akan seluk beluk lorong waktu, jika tidak kalian semua akan terjebak di dalamnya)
"Bagaimana caranya aku bisa memahami seluk-beluk lorong waktu? Bentuknya saja aku tidak tahu seperti apa?"
Ting!
(Akan sistem tunjukkan!)
Sebuah layar transapan sudah berada di hadapan Zidan, hanya Zidan yang dapat melihat layar hijau transparan tersebut, di dalam benda transparan itu ada gambar yang sangat rumit tidak Zidan pahami.
"Gambar apa ini sistem?"
(Itu adalah lorong waktu, Zidan harus menghafal dengan cepat, tidak ada waktu, jika gagal maka apa yang sistem katakan akan terjadi)
Zidan hanya mampu menghela nafas berat.