Super Rich System

Super Rich System
Dendam



Bismillah.


"Paul lihat, orang itu bukankah mirip sekali dengan Aska yang berada di dalam rekaman video Bagus dan Rizal."


Zidan mencoba menyenggol lengan Pual yang sedang tertidur, begitulah kebiasaan Paul selalu tidur sembarangan. Pual yang mendengar suara pelan Zidan akhirnya terperanjat kaget, apalagi saat mendengar nama Aska disebut.


"Mana Zidan?" tanya Paul tanpa menoleh pada Zidan.


Dia langsung saja mencari orang yang Zidan maksud dan bertepatan saat itu juga Aska muncul dari sebuah ruangan.


"Tidak salah lagi Zidan! Aku rasa kita tidak perlu melaporkan tentang gedung hitam saat ini. Bagaimana kalau kita jebak saja si Aska itu agar tertangkap bahasa oleh pihak polisi, sekaligus dengan para antek-anteknya." usul Paul.


"Kali ini aku sangat-sangat setuju denganmu Paul, hal itu juga yang saat ini ada di otakku. Aku berharap yang lain bisa menyelesaikan tugas mereka dengan cepat, sekarang ayo ikut aku."


Zidan berdiri dari tempat duduknya setelah hampir 30 menit menunggu kedatangan Aska, akhirnya Paul dan Zidan berubah pikiran setelah melihat dengan jelas dan pasti orang yang berada di kantor polisi dan di video sama.


Aska memang sudah lama menjabat sebagai jenderal di polad kota D, dengan adanya Aska yang bertugas sebagai jenderal di kantor polisi. Posisi gedung indah akan tetap aman karena tidak pernah dilakukan pemeriksaan.


Para polisi juga sudah percaya dengan Aska, karena ada beberapa pihak polisi yang berada sisi Aska. Sebagai lain polisi sudah terkena hipnotis jangka panjang yang biasa digunakan oleh pemilik gedung indah.


Zidan kembali menghampiri komanda polisi yang dulu memberi penghargaan untuk Zidan. Beliau begitu ramah dengan Zidan sampai saat ini.


"Paul kamu awasi terus si Aska, jangan sampai dia melihat kita. Aku harus bicara dengan pak Anto lebih dulu." ujar Zidan.


"Beres Zidan kamu tenang saja." ujar Paul.


Saat Zidan menemui pak Anto, disaat itu juga Paul terus mengawasi Aska. Agar tidak segera keluar dari ruangannya lebih dulu.


"Pak Anto saya dan teman saya akan kembali besok saja, sepertinya jenderal Aska memang benar-benar sibuk." ujar Zidan.


Pak Anto memang belum mengetahui kalau jenderal Aska sudah datang sedari tadi, hanya saja orang itu sibuk berada di ruangannya entah apa yang dia kerjakan.


"Baiklah Zidan, maaf karena telah membuat kalian menunggu lama."


"Tak apa pak Anto kami permisi."


Setelah berpamitan pada pak Anto, Zidan dan Paul segera pergi meninggalkan kantor polisi agar tidak jadi bertemu dengan Aska.


5 menit setelah kepergian Zidan dan Paul, Aska akhirnya muncul menemui pak Anto untuk membahas beberapa hal mungkin.


"Pak Aska rupanya sudah datang, sedari tadi ada orang yang ingin bertemu pak Aska."


"Bertemu saya?" tanya Aska kembali memastikan.


"Benar pak, tapi sayang orangnya sudah pergi 5 menit yang lalu. Padahal tadi mereka menunggu lama juga pak disini."


"Mereka menunggu saya?"


"Benar pak dua orang pemuda menemui bapak, tapi bapaknya saya kira tidak ada."


"Sudah lupakan."


Tak tahu kenapa pak Anto seakan tidak ingin menyebutkan nama Zidan di hadapan Aska. Entah pak Anto lupa atau dia juga memilik kecurigaan pada Aska.


Zidan dan Pual sudah sampai kembali di markas, ternyata Herman dan Aceng sudah menunggu kehadiran mereka semua.


Zidan menatap Herman dan Aceng secara bergantian, rasanya dia ingin segera menceritakan tentang Aska pada mereka semua. Sayangnya Bagus dan yang lain belum kembali.


Perasaan cemas yang tadinya diraskan oleh Herman dan Aceng, karena teman-teman mereka belum datang juga. Kini dirasakan oleh Paul dan Zidan pula.


Mereka bertempat sangat berharap sekali Bagus, Rizal dan Panji berhasil melakukan tugas mereka.


Kini beralih pada Bagus dan Rizal yang masih terus mengawasi Panji untuk berpura-pura sudah tak bernyawa lagi.


Masuklah orang kepercayaan Aska ke dalam ruang pengatur mesin di penjara gedung hitam.


"Kita kecolongan! Ternyata Panji sudah tak bernyawa urus semua mayat jangan laporkan dulu hal ini pada bos!"


Mereka segera mengurus para penjaga yang sudah menjadi mayat, disaat semua orang keluar dari ruang mesin. Saat itu juga Bagus dan Rizal beraksi bersama Panji.


Sebelum itu mereka mengganti mayat Panji dengan yang palsu. Merasa sudah aman barulah ketiga orang itu segera pergi dan kembali melanjutkan tugas mereka yang selanjutnya.


Untung saja tidak ada yang curiga dan tidak ada yang melihat kehadiran 3 orang itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zidan masih sibuk dengan misinya, di tempat lain berbeda dengan Saga yang masih menyimpan dendam dengan Zidan.


Keadaan Saga sudah membaik dari sebelumnya, dia juga sudah diperbolehkan pulang walaupun harus terus rawat jalan.


"Gue udah sembuh sekarang waktunya kita membalas si miskin itu." ucap Saga mengebu-ngebu.


"Lo bener Saga, kita harus segera kasih pelajaran si Zidan. Biar nggak songong." timpal Lion.


Pak Kasim yang mendengar rencana anak bersama kedua sahabat anaknya akan membalaskan dendam mereka pada Zidan segera ikut bergabung. Bapak-bapak tua berwajah botak itu tidak mau ketinggalan, dia juga ingin membalas Zidan yang setimpal.


Padahal pak Kasim sudah sangat tua, berjalan juga sudah sedikit susuah, seharusnya lebib mendekatkan diri pada Tuhan ini malah membalas dendam di hari tuanya.


Bapak dan anak tidak ada bedanya ternyata, benar kata orang-orang buah tak akan jatuh dari pohonnya. Bapak sama akan kelakuan sama.


Saga juga tak mungkin menjadi orang jahat kalau bukan didikan dan oleh orang tuanya sendiri.


"Bapak ikut kalian dan bapak punya rencana untuk membalas si Zidan!"


"Caranya?" tanya ketiganya kompak sambil mantap cengo pak Kasim.


Pak Kasim tersenyum jahat, sepertinya otak jahat dan otak licik pak Kasim sudah mulai bekerja untuk membalas Zidan.


Aneh memang padahal Zidan sama sekali tidak mencari gara-gara pada mereka. Bahkan Zidan yang menjadi korban bully orang-orang tidak tahu diri itu, tidak merasa dendam.


Seharusnya yang dendam itu Zidan bukan mereka. Yah, begitulah orang sirik seperti pak Kasim ini.


"Kita bisa meminta bantuan pada orang yang memiliki gedung indah."


"Hah! Bapak yang benar saja sedang bercada ya, masa kita minta bantuan pada orang-orang gedung indah, mereka bisa apa pak? Bukan mereka hanya orang-orang yang suka membantu orang lain." protes Saga.


"Kalian tidak tahu ada apa sebenarnya dibalik gedung indah. Andai kalian tahu seperti apa orang-orang gedug indah yang sebenarnya." ujar pak Kasim.