Super Rich System

Super Rich System
Mencari rumah



Bismillah.


"Bagimana? Apakah kalian ditangkap polisi, atas kasusu pembunuhan." Zidan sedang menginterogasi kelima temannya.


Kini mereka tengah berada di markas dadakan yang Zidan buat di dalam gedung. Zidan sudah memutuskan gedung inda sudah beralih nama menjadi gedung Hajri (Hajir) dia akan memikirkan lebih lanjut gedung Hajri akan dibuat untuk membuka bisinis apa nantinya.


Herman dan 4 anak buahnya mengehela nafas berat. "Tergantu keputusan keluarga korban." Jawab Herman.


Berani berbuat harus berani bertanggung jawab bukan. Zidan sebenarnya sudah nyamab bersama Herman dan kawan-kawan. Hanya saja orang bersalah tetap harus mendapatkan hukum mereka. Apa lagi kasus Herman dan keempat temanya tentang pembunuhan, jadi Zidan tak bisa berbuat banyak.


"Tak apa aku di penjara, asal hal ini bisa menembus kesalahku di masa lalu. Ganti rugi yang banyak juga aku sanggup." Ucap Aceng mantap.


"Aku juga." Sahut keempat lainnya kompak.


"Tapi kalian masih sebagai tahana bukan? Ini saja kalau aku tak memberi jaminan pada pak Anton agar kalian tidak kabur, mana mungkin kalian ada disini."


"Itu memang benar Zidan, lalu ada perlu apa sampai memanggil kami kesini? Bukan kita bisa bertemu di lapas saja?" bingung Paul.


"Aku hampir melupakan tujuanku. Sudah lama aku menyiapkan upah untuk kalian semala, kalian menolong ku untuk membongkar tentang gedung indah. Ini untuk kalian." Zidan melempar sebuah amplop pada mereka masing-masing.


"Di dalam amplop itu ada uang 100.000.000 untuk masing-masing dari kalian. Hanya itu yang bisa aku berikan maaf tidak banyak dan aku tidak menerima penolakan." Imbuh Zidan. Cepat dia menyelesaikan kalimatnya sebelum salah satu dari mereka angkat bicara.


"Terima kasih Zidan, kamu begitu baik. Aku belajar banyak hal dari mu Zidan." Ucap Bagus sungguh-sungguh.


"Aku pun sama seperti yang Bagus rasakan, kalau tidak bertemu Zidan mungkin sampai hari ini kita akan terus membunuh orang." Sesal Rizal, terdengar jelas ada nada penyesalan dari suaranya.


"Begitulah takdir Allah." Ujar Zidan tersenyum.


"Kalau begitu bukan kita harus mengucapkan terima kasih pada pak Kasim, karena dulu pernah menyuruh kita melukai keluarga Zidan." Tawa mereka akhirnya pecah, setelah kalimat perkalimat keluar dari mulut Herman.


"Waktu kalian selesai." Ucap Panji yang ditugaskan mengering Herman serta yang lainnya menemui Zidan.


"Cepat sekali."


"Maafkan aku kawan, aku hanya menjalankan tugasku." Sesal Panji.


Duk!


Acang memukul pelan bahu Panji, "Tak usah sungkan kawan kita semua tau ini memang sudah menjadi tugasmu." Aceng menghargai Panji sebagai salah satu anggota polisi saat ini.


Setelah beberapa hari dari penangkapan Aska dan istrinya juga seluruh orang yang terikat, lalu Panji menjadi saksi dia telah direkrut oleh pak Anton untuk menjadi salah satu anggota polisi di polda kota D. Pak Anton melakukan hal itu karena Panji memenuhi syarat sebagai anggota polisi.


Berbeda dengan Panji, Zidan sudah lolos tek kesehatan di sekolah adiknya Hana, jadi mulai besok Zidan sudah bisa bekerja di sekolahan Hana. Sebagai seorang dokter.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekarang, Insya Allah lain wakut kita dapat berkumpul kembali dengan veris yang lebih baik lagi." Mereka semua menyetujui perkataan Panji.


"Aku sangat menantikan hal itu." Tukas Zidan.


"Kita semua pun menantikan hal itu, Insya Allah kalau tidak ada halangan kita bisa mengwujudkannya."


...****************...


Setelah menemui Herman dan yang lainnya Zidan berencana untuk mecari rumah yang lebih layak dihuni bukan seperti gubuk tua reyot yang masih mereka pertahankan saat ini.


"Mau beli rumah dimana aku? Tau saja transaksi jula rumah pun tidak." Zidan sudah menelusuri kota D, tapi tak satu pun dia melihat tulisan di depan rumah. 'Rumah ini dijual, hubungi no yang tertera' Zidan tidak menemukannya.


Tig!


(Zidan sistem memilik informasi yang bagus kalau Zidan mau membeli rumah ada tempat yang bisa direkomendasikan oleh sistem)


"Kenapa tidak dari tadi? Selalu saja datang terlambat." Kesal Zidan. Kesal tapi dia tetap ingin cepat mendapatkan rumah yang Zidan inginkan.


"Cepat katakan!" ucap Zidan lagi akhirnya.


(Zidan pergilah kekawasan mawar dekat sekolah Hana, tak jauh dari sekolah Hana ada rumah bagus yang sedang dijual, sistem rasa rumah itu cocok untuk Zidan dan keluarga. Selain rumahnya bagus dan nyaman tempatnya juga sejuk dan indah. Sistem jamin Zidan akan langsung suka dengan rumahnya.)


"Aku kesan sekarang." Putus Zidan.


Tanpa pertimbangan lagi Zidan segera menuju tempat yang diberitahukan oleh sistem. Tak butuh lama bagi Zidan agar sampai di kawasan mawar.


"Mana rumahnya?"


(Cat putih biru, rumah yang warnanya berbeda dari rumah lainnya.) Zidan mengamati sejenak rumah yang diusulkan oleh sistem.


Benar apa yang sistem informasikan pasti Zidan akan langsung menyuki rumah itu. Rumah yang terkesan sangat damai.


"Aku ambil ini saja. Sekarang aku harus menemui pemiliknya lebih dulu." Zidan sudah terlanjur jatuh cinta pada rumah yang didesain sederhana nan menawan, rumah itu aslinya tingkat dua. Hanya saja pemiliknya dulu mendesain rumah itu sedemi kian rupa agar dilihat dan di tempati nanti dengan damai dan aman.


Zidan segera menemui penjual rumah, hari ini pokoknya Zidan harus mendapatkan rumah terlebih dahulu agar mereka sekeluarga bisa segera pindah dari gubuk reyot itu.


Tak butuh waktu lama Zidan akhirnya berhasil dengan penjual rumah, lalu Zidan bertanya banyak hal lebih dulu pada si penjual. Walaupun tak sekolah tinggi Zidan tidak mudah dibohongi orang lain. Dia sudah tau cara mengatasi seluk beluk penipu, jika ada orang yang berniat menipu dirinya.


......................


Di tempat lain, lebih tepatnya dilapas. Istri pak Kasim menatap suami dan anaknya iba, dia tidak tahu harus bagaimana agar anak dan suaminya bisa keluar dari penjara.


Pak Kasih dikenakan hukuam 4 tahun penjaranya dengan denda yang dia tanggung sebanyak 10 juta. Tak jauh beda dengan nasib pak Kasim, Saga pun terkenal hukuman selama 3 tahun penjara dengan denda 7 juta.


Sedangkan dua sahabat saga hanya dipenjara selama 8 bulan, karena orang tua Lion dan Anton berhasil bernegosiasi pada polisi. Sejak mereka ditangkap Lion dan Anto tak pernah menyapa sedikitpun Saga. Kedua orang itu sudah enggan bertemu dengan Saga.


Sejak mengenal Saga, hidup Lion dan Anton sepertinya selalu saja apes, mereka baru menyadari hal itu kala mereka telah masuk ke dalam sel tahanan.


"Setelah keluar dari sini aku ingin segera meminta maaf pada Zidan, sudah banyak kesalahan yang gue lakuni ke Zidan. Mungkin kalau gue sekarang nggak masuk penjara gue nggak bakal sadar-sadar kalau selama ini gue salah." Ucap Lion sungguh-sungguh.


"Gue juga sama Li, ternyata kita harus pinter-pinter pilih teman juga ya, agar tidak terjerumus di lubang yang salah." Sahut Anton.