
Bismillah.
"Pak lain kali kalau mau beli barang jangan asal ya, lihat dulu lebelnya. Kalau sudah kayak ginikan kasihan bapak yang jadi sasarannya." Zidan tengah mengobrol dengan penjual es yang tadi dimaksud oleh Zigo.
"Terimakasih, Nak sudah mengingatkan saya. Lain kali bapak ini akan lebih berhati-hati lagi." Ujar si penjual es, beliau menunduk malu pada Zidan.
Padahal tadi saat Zidan menghampiri pak Eko sebagai tukang jual es. Pak Eko sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Zidan. Zidan akan memakinya lah, Zidan bisa saja mengancamnya, bisa juga dia dilaporkan pada pihak berwajib oleh pengurus sekolah SMP 30.
Semua pikiran yang terus melayang di kepala pak Eko hilang saat itu juga kala Zidan berdiri di hadapannya dan menyapa dirinya begitu ramah. Alih-alih Zidan memakinya ataupun mengahajar dirinya. Dokter baru di sekolah SMP 30 itu malah mengajak pak Eko untuk duduk lesehan yang berada didekat sekolah tersebut.
"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling meningkatkan, bukan begitu pak Eko?" bukan niat untuk menasehati yang lebih tua, hanya saja Zidan meminta persetujuan pak Eko.
"Kamu benar, Nak Zidan. Anak muda seperti kamu ini patut dicontoh, bisa menghargai yang lebih tua."
"Miris zaman sekarang adab dan akhlak dinomor sekiankan yang terpenting sendiri-sendiri happy." Tidak tahu sejak kapan pak Eko dan Zidan jadi akbar, saling menanggapi celetotan masing-masing.
"Bapak Eko benar, zaman sekarang adab dan akhal hanya dipandang sebelah mata pak. Sekarang itu yang paling terpenting goodlooking dan goodrekening yang dinomor satukan pak. Adab dan akhlak dibuat menjadi nomor sekian, bahkan mungkin bisa berada diurutan terakhir mungkin." Zidan menanggapi pembicaraan pak Eko begitu antusias.
Dia mungkin terlahir dari orang desa yang bahkan tertinggal akan namanya Zaman, tapi Zidan bisa melihat semua hal yang tidak dia lihat saat pergi ke kota maupun sekolah adiknya dulu. Disana Zidan bisa belajar dari apa yang dia lihat.
Ditambah lagi dulu dia pernah menolong Kanza yang hampir kehilangan nyawan, karena siswa-siwi sendiri. Bagaimana tidak miris coba melihat semua itu, dulu Zidan sempat bertanya-tanya. Kenapa mereka tidak dikeluarkan saja dari sekolah? Kenapa hanya diskor dari sekolah. Jawabannya dia dapat dari nasihat bapaknya sendiri, pak Hajir.
"Semua masalah akan selesai jika dituntaskan dengan baik, sebagai pembina harus bisa mendidik yang dibina dengan benar. Membuat sebuah kesalahan hal wajar."
"Tapi bagimana jika kesalahan itu mengancam nyawa?" tanya Zidan heran kala itu dengan penuturan bapaknya.
"Kadang kita harus mendidik orang yang keras dengan cara lembut. Kalau sampai hampir merengut nyawa seorang mungkin benar tidak bisa dimaafkan. Tapi kembali lagi pada fakta yang sebenarnya, masa remaja adalah masa yang labil. Jadi semua itu tergantung dari pembinaan orang tua dan kehidupan sehari-hari yang anak remaja itu sendiri lihat. Jika orang tuanya mau bekerja sama dengan sekolah medidik anak mereka lebih baik lagi mungkin itu adalah salah satu cara yang diambil oleh kepala sekolah adikmu Hana."
"Karena jika mereka dikeluarkan makan tidak ada yang tau kemungkin saja korban akan semakin bertambah lebih banyak. Tapi kalau mereka dididik lebih baik lagi Insya Allah kecil kemungkinan ada korab lagi, pada intinya mereka harus dibimbing kejalan yang lebih baik lagi, dan semua itu harus butuh pembimbing yang bijaksana."
Begitulah kata yang pak Hajir ucapkan saat itu pada Hana dan Zidan, kala dengan orang adik kakak tersebut menceritakan tentang Kanza.
"Nak Zidan, saya harus segera pulang hari sudah semakin siang." Ucap pak Eko yang membuyarkan lamunan Zidan.
"Baik pak Eko, sengan bisa berjumpa dengan bapak. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi, perjumpaan ini singkat tapi memberi saya pelajaran baru." Zidan begitu sopan pada pak Eko.
Sehingga sikap Zidan membuat pak Eko yang tadinya takut dimarah Zidan, malah menjadi berbincang santai. Tak lupa Zidan membelikan makanan untuk pak Eko dan keluarga beliau di rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kanza ajari aku mengadari mobil." Pinta Zidan penuh harapan.
"Aku akan mengajarimu seperti janjiku beberapa hari lalu." Putus Kanza.
Dia merasa tidak bisa terus menolak permintaan Zidan. Bukankah hanya sekedar mengajari Zidan mengemudikan mobil bukan itu tidaklah susah.
(Ada untungnya juga aku menolak Zidan tidak mau mengajari dia cara mengemudikan mobil, setidaknya beberap minggu ke depan aku bisa beristirahat lebih banyak lagi)
"Diamlah sistem! Aku masih bisa mendengar sistem tau tidak." Ketus Zidan merasa kesal.
(Maaf Zidan untuk saat ini sistem tidak akan mengganggu Zidan dulu, selama mencoba belajar mobil. Sistem lupa memfilter suara ternyata) cicit sistem
Sistem kembali masuk pada apk berwarna hijau transparan yang berada di dalam hp milik Zidan.
"Zidan ayo kita mulai." Ujar Kanza yang sudah bersiap-siap masuk ke dalam mobil.
"Ingat Zidan aku tidak mau hal buruk terjadi pada kita berdua." Tegas Kanza saat mereka sudah berada di dalam mobil, sekarang Zidan lah yang duduk di kursi kemudi sementara Kanza duduk di sebelah Zidan untuk mengarahkan Zidan saat mulai belajar mengemudi.
"Apakah sudah siap Zidan?"
"Aku sudah siap sedari tadi Kanza!" jawab Zidan sangat mantap.
Sebelum memulai Kanza menjelaskan lebih dulu fungsi-fungis rem dan hal lainnya harus Zidan ketahui pada mobil yang akan Zidan kendarai.
"Sudah paham?"
"Insya Allah."
"Kita mulai saja, lakukan apa yang sudah aku beritahu tadi. Tapi ingat pelan-pelan saja, jangan langsung digas!" tegas Kanza yang membuat Zidan mengangguk mengerti.
Zidan mulai menyalakan mesin mobil, dia tak langsung melaju begitu saja butuh beberap dekit untuk Zidan mengambil konsentrasinya. Barulah Zidan menjalankan mobil tersebut dengan perlahan-lahan. Kanza sepat menghela nafas lega melihat Zidan sudah muali bisa melajukan mobil.
Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama karena Zidan tidak mengsiakan rem dan tidak menaikkan gigi, jadilah mobil berhenti mendadak hampir saja tidak menabrak.
"Maaf aku akan coba mengulangi lagi." Sesal Zidan.
"Ya, teruslah berusaha." Sahut Kanza, dia harus memberi semangat pada Zidan. Belajar mobil memanglah bukan hal mudah apalagi untuk Zidan yang baru pertama kalinya belajar mengemudikan mobil.
"Semangat Zidan." Ujar Kanza.
Untungnya didekat rumah baru Zidan ada lapangan luas untuk belajar mengemudi, jadi akan sedikit lebih aman. Nanti kalau Zidan sudah sedikit mahir baru belajar dijalan umum.