
Bismillah.
Zidan akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan polisi yang ingin menemui dirinya, ada rasa penasaran dalam diri Zidan.
Kenapa para polisi itu ingin bertemu dengan dirinya. Kini isi kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
"Baik saya setuju bertemu dengan para polisi itu, tapi kalau boleh tau kapan saya harus menemui mereka?"
"Sekarang juga boleh Zidan." sahut Kanza.
Zidan sudah memikirkan selama setegah jam lebih, apakah dia haru bertemu dengan para polisi itu atau tidak.
Sampai akhirnya Zidan setuju mau menemui rombongan polisi, "Baik ayo kita berangkat sekarang." putus Zidan.
"Bapak boleh Zidan pergi sebentar?"
Bapak Hajir berpikir sejenak, sebenarnya beliau merasa was-was, karena putra sulungnya itu mau bertemu dengan polisi, bapak Hajir takut Zidan malah ditangkap polisi.
Tapi beliau segera menepis semua pemikiran itu, beliau harus bisa berpikir positif, apalagi melihat Kanza sebagai guru dari Hana, rela menunggu hampir 2 jam agar bisa bertemu dengan Zidan dan Zidan setuju, akan bertemu dengan polisi.
Bapak Hajir yakin, pasti putranya akan baik-baik saja.
"Boleh, tapi ingat jangan pulang malam." pesan bapak Hajir.
"Baik bapak, Zidan pamit dulu, Assalamualakium."
"Waalaikumsalam." jawab bapak Radit.
Sedangkan kedua adik Radit masih berada di dalam kamar, mereka biasanya akan belajar sejenak setelah pualng sekolah.
"Kanza pamit pak, Assalamualaikum." salam Kanza sopan.
"Waalaikumsalam, Nak Kanza." sahut bapak Hajir.
Kanza dan Zidan pun menuju kota, kali ini Zidan tidak lagi pergi ke kota jalan kaki, padahal Zidan baru saja pulang dari kota, sekarang pergi ke kota lagi.
Jika dilihat-lihat Zidan sudah seperti gosokan yang terus saja mondar-mandir sana sini, bukan cari perhatian, tapi cari kerjaan.
Zidan menaiki mobil Kanza, tentu saja yang menyetir mobil tetepalah Kanza, Zidan? Mana mungkin dia bisa, seumur hidupnya mungkin saja Zidan baru pertama kalian menaiki mobil mewah seperti ini.
Bersyukur Zidan masih bisa diberi nikmat, naik mobil bagus, yah, walaupun numpang punya orang.
Di dalam mobil itu hening, tidak ada yang bicara apapun, Kanza bingung mau mulai pembicaraan dengan Zidan dari mana.
Apalagi dia belum mengenal Zidan sama sekali, sedangkan Zidan yang cerewet tak bisa diam, ingin sekali rasanya mulut ini nyerocos begitu saja, tapi dia sungkan dengan Kanza.
Mengingat Kanza merupakan salah satu guru di sekolah adik perempuannya Hana.
Zidan memang aneh, laki-laki tapi kok cerewet, hadeh...
Mulut Zidan yang sudah gatal akhirnya berusara juga, Zidan paling tidak betah kalau ada orang malah tak mengobrol.
"Kanza kamu tinggal di panti ausuhan itu?" tanya Zidan.
Kanza menoleh sejenak, lalu kembali fokus mengemudi, "Tidak aku hanya sering berkunjung kesana, kebetulan semalam aku meningap di panti asuhan kota." jelas Kanza Zidan mengangguk paham.
Setelah itu keduanya asyik mengobrol ringan sampai tidak terasa, mobil Kanza sudah sampai di kantor polisi kota.
Saat Zidan akan masuk ke dalam kantor polisi bersama Kanza, Zidan tak sengaja melihat gedung yang tadi pagi sangat takjub bagi Zidan.
Kini gedung itu terlihat aneh di mata Zidan, entah kenapa Zidan seperti merasakan energi negatif dari gedung tersebut.
'Aneh.' batin Zidan pelan.
(Akhirnya Zidan menyadari juga keanehan yang taerjadi di gedung itu) sistem ternyata begitu setia terus mengawasi Zidan.
"Zidan ayo masuk, kenapa malah bengong." ucap Kanza.
"Eh, iya." sahut Zidan menurut saja.
Mendengar suara Kanza, Zidan jadi sadar, dia ke kantor polisi untuk memenuhi undangan yang diberikan polisi untuk dirinya agar bisa hadir bertemu komandan polisi.
Eh, malah tadi Zidan jadi memperhatikan gedung yang dia lihat tadi pagi, Zidan baru menyadari satu hal, suara aneh yang dia dengar itu, jika Zidan tidak salah berasal dari gedung hitam yang menurut Zidan aneh tadi.
Zidan dan Kanza segera menemui polisi, yang meminta Kanza untuk bisa mempertemukan dirinya dengan Zidan.
"Permisi pak," ucap Kanza.
"Mbak Kanza." Kanza mengangguk saja, lalu polisi itu menoleh pada Zidan.
"Benar anda yang bernama Zidan? Orang yang telah berhasil menangkap penjahat yang berniat membakar panti asuhan kota?" tanya kondan polisi itu pada Zidan.
"Benar pak!" jawab Zidan apa adanya.
Polisi itu tersenyum mendengar jawaban dari Zidan, "Terima kasih Zidan sudah mau datang kemari."
"Maksud kami meminta datang kesini, kami dari pihak kepolisian ingin memberikan penghargaan pada Zidan, karena sudah berhasil menangkap penjahat kelas kapap yang merupakan buronan kami selama 8 bulan ini, karena bantuan Zidan, kami jadi bisa dengan muda menangkap para penjahat kelas kapapa itu." jelas polisi.
"Sama-sama pak, memang seharusnya kita tolong menolong bukan."
Kanza tetap diam menyimak obrolan Zidan dan komandan polisi itu.
"Benar Zidan, tapi kami pihak polisi harus memberikan penghargaan pada anda." ucap polisi itu lagi.
Zidan hanya mampu mengangguk setuju saja, kalau rezeki tidak boleh ditolak bukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brak!
Seorang laki-laki paruh baya berkepala botak kembali marah besar, dia sudah membayar pembuhun bayaran itu dengan harga tinggi, untuk mencelakai keluarga Zidan.
Tapi kabar yang didengar malah membuatnya murka, bagaimana tidak pembuhun bayaran itu gagal melakukan apa yang dia perintahkan, sekarang pembunuh bayaran itu malah tunduk pada Zidan.
Kenyataan yang semakin membuat pak Kasim begitu marah, ternyata Zidan masih hidup, sekarang salah satu stasiun televisi sedang mewawancari Zidan.
"Orang miskin sialan! Lihat saja aku akan membalas semua ini, aku tidak akan tinggal diam!" maki pak Kasim.
Karena menyuruh pembunuh bayara untuk membunuh keluarga Zidan gagal begitu saja, bapak Kasim mengalami kerugian yang amat besar.
"Sial, uangku habis gara-gara si miskin tidak tahu diri itu!" entah pak Kasim saat ini sedang marah-marah pada siapa.
Di kamar rawat Saga, kamar rawat itu bahkan memiliki televisi.
"Woi, lihat bukan itu si miskin, dia masih hidup ternyata." Heboh Anton.
Anto tak sengaja memencet chenel tv yang sendang menyiarkan Zidan mendapat penghargaan dari pihak kepolisian.
Sontak Saga dan Lion langsung melihat kearah tv, Saga memang sudah sadar, tapi dia masih tak bisa berbuat apa-apa.
"Kurang ajar! Jadi kita sudah dibohongi oleh si miskin itu!" maki Lion.
Saga dan Anton mengangguk setuju, mereka benar-benar merasa sudah dipermainkan oleh Zidan, padahal semua itu salah mereka sendiri.
"Nggak bisa dibiarin ini!"
"Lo benar Saga, tapi lo harus ingat, lo pulihkan dulu diri lo, baru kita susun rencana buat si miskin tidak tahu diri itu!" terang Lion