
Bismillah.
Zidan menjalani hari pertama kerjanya dengan hati yang senang. Baru pertama kali dia merasakan menjadi seorang pekerja yang dianggap.
Karena tidak ada siswa dan siswi yang sakit Zidan memutuskan untuk berkeliling sejenak di sekolah SMP 30. Tak lupa Zidan sudah memasang alat pendeteksi agar dia tidak kecolongan kalau tiba-tiba ada murid yang sakit sedangkan dia masih berada diluar.
Melihat ada anak yang sedang latihan olahraga Zidan memutuskan untuk menonton mereka yang sedang bermain futsal.
"Wah, seru juga ternyata ya kalau lihat anak-anak olahraga." Ucap Zidan matanya terus mengamati lapangan luas milik SMP 30.
Tiba-tiba Zidan membayangkan, andai dia dulu bisa seperti anak-anak sekarang. Hidup tenang dan tidak ada orang yang membully.
Tanpa Zidan sadari perlahan-lahan matanya terpejam, sebuah ingatan dia dulu saat masih kecil masuk ke dalam kepalanya.
"Zidan suatu saat nanti akan menjadi orang kuat!" tekat Zidan.
Kelas 6 SD saat itu, dia baru saja dibully oleh teman-temannya. Sebuah tendangan kuat Zidan dapatkan di perutnya, sampai-sampai membuat Zidan hampir kehilangan nyawanya.
Kedua bola matanya memancarkan kilat amarah dendam yang begitu besar. Sayangnya Zidan tak bisa berbuat apa-apa. Hari itu amarnya begitu besar, setelah semua orang pergi dari hadapan Zidan. Dia segera pulang ke rumahnya.
"Zidan kamu kenapa, Nak?" tanya ibu Indah begitu khawatir pada anaknya.
Pak Hajir yang tau putranya sedang tidak baik-baik saja segera menghampiri anak dan istrinya. Pak Hajir menatap lekat wajah dan kedua bola mata putranya, beliau tau ada yang salah pada diri Zidan.
"Zidan jangan dendam, Nak. Dendam hanya akan terus menyakiti dirimu. Kelak suatu saat nanti kalau kamu membalas perbuatan mereka saat ini, itu sama saja kamu tidak ada bedanya dengan mereka. Maafkan lah dan segera beristighfar." Nasihat pak Hajir penuh dengan kehati-hatian.
Zidan yang mendengar nasihat dari bapaknya, samar-samar mengerjapkan kedua matanya perlahan-lahan. Dia merasa apa yang dikatakan oleh sang ayah ada benarnya. Kalau dirinya mau balas dendam kenapa tidak langsung saja, tak usah kemudian hari.
Dia segera beristighfar. "Astagfirullah." Ucap Zidan begitu lirih.
Disaat yang bersamaan ada sebuah cahaya hijau terang yang melintasi tubuh Zidan, setelah itu cahaya tersebut kembali keluar.
Wess!
(Suatu saat nanti anak ini akan menjadi tuan ku, hatinya begitu lembuat. Kilatan dendam yang begitu terpancar jelas di dalam dirinya hilang begitu saja setelah mendengar kalimat yang terucap dari mulut bapaknya. Aku yakin dia akan menjadi orang hebat nantinya, walaupun banyak rintangan sulit yang harus dia lewati.)
Deg!
Setelah mendengar suara yang tidak asing itu dari dalam kepalanya dan merasakan ada seorang yang memegang pundaknya Zidan kembali membuka kedua bola matanya sempurna.
"Syukurlah Zidan kamu akhirnya bangun juga." Ucap Kanza seakan merasa lega.
Dia seperti Zidan membangunkan Zidan berkali-kali, namun tidak ada respon sedikitpun dari Zidan. Kanza mengelus dada lega melihat Zidan sudah membuka matanya.
"Ada apa?" bingung Zidan.
"Aku dari tadi membangunkan dirimu, tapi kamu tidak bangun-bangun dari tadi, sudah hampir 1 jam kamu tidur disini." Terang Kanza.
"Apa!" kaget Zidan.
Seingatnya dia baru saja memejamkan matanya, ekor mata Zidan melirik kearah lapangan sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
"Maaf Zidan sudah mengganggu, soalnya aku kira kamu tadi sudah tak bernyawa lagi." Jujur Kanza, walaupun bicara pelan dan tak enak pada Zidan, dia tetap mengatakan apa yang dilihat tadi.
"Lupakan lah, maaf aku jadi ketiduran disini. Bukannya stay di uks." Sesal Zidan.
"Boleh juga ide kamu Za." Sahut Zidan antusias.
"Sudah ayo." Ajak Kanza.
Keduanya berjalan seiringan menuju kanti, beruntung belum waktunya istirahat. Hanya saja Zidan tidak ada pasien dan Kazan tidak ada kelas. Selama perjalan menuju kantin keduanya banyak bertukar cerita. Mereka sudah tidak canggung lagi seperti dulu. Sekarang mereka malah terlihat seperti orang yang sudah kenal lama.
Kalau saja ada yang melihat pasti akan ada gosip baru di SMP 30 tentang guru mereka dan dokter baru. Padahal Kanza dan Zidan tidak ada hubungan apa-apa hanya sekedar teman.
Saat menuju kanti, Zidan jadi teringat apa yang tadi masuk ke dalam mimpinya. Entah itu mimpi atau bukan yang pasti Zidan pernah mengalami hal seperti itu saat kecil dulu, hanya saja suara tadi.
"Apa itu suara sistem?" pikir Zidan.
Saat ini pikiran Zidan tengah berkecamuk, apakah benar suara yang datang di dalam mimpinya itu sistem? Cahayanya juga sama dengan cahanya milik sistem.
"Tidak salah lagi, sepertinya saat aku kecil sistem pernah mendatangiku. Apakah benar begitu sistem? Jangan pura-pura tidak tahu apa yang sedang aku katakan dan aku pikirkan, jelas aku sangat tau kalau sistem mengetahui segalahal tentang Zidan!"
Tig!
(Baiklah Zidan kau sudah mengingat semuanya, ternyata ingatan Zidan sedikit tajam juga rupanya. Aku dulu memang pernah menghampiri Zidan dulu, nah sekarang Zidan sudah memilki hp, jadi Zidan bisa melihat bentuk sistem nantinya)
"Lalu kenapa sistem terjebak di dalam sungai?"
(Sistem dihukum oleh pimlik sistem sebelumnya, maka dari itu Zidan adalah tuan terakhir sistem. Bisa juga dikatakan tuan pertama sistem, tapu dulu diri Zidan belum mampu sehingga sistem harus mencari tuan yang lain sampai Zidan bisa memiliki sistem)
"Baiklah aku paham."
Selesai berkomunikasi dengan sistem, Zidan dan Kanza juga sampai di kantin.
"Jadi mau pesan apa?"
"Reques Za, aku kan tidak tahu makanan apa di kanti sekolah ini yang enak." Ucap Zidan sambil tersenyum.
Bocah itu sekarang sudah berani tersenyum pada perempuan.
Dug!
(Ingat Zidan bukan Mahram.)
"Astagfirullah." Gumun Zidan.
"Baiklah Zidan tunggu sebentar aku pesan dulu." Kanza pergi meninggalkan Zidan yang sudah duduk disalah satu bangku yang tersedia di kantin.
Tak lama Kanza kembali dengan dua mangkuk bakso di tangannya. Kanza meletakkan bakso itu di hadapan dirinya dan Zidan.
"Baiklah Zidan hari ini aku mentraktirmu makan, atas ucapan selamatku karena kamu sudah mulia bekerja."
"Wah, kalau begitu aku menerimanya dengan senang hati Kanza. Aku tidak akan sungkan."
Kanza dan Zidan sama-sama terkekeh. Begitulah hari pertama Zidan kerja sebagi dokter di SMA 30 tidak ada yang spesial memang, tapi hubungannya dengan Kanza tidak secanggug dulu.
Zidan saja sudah berniat ingin meminta ajarkan menyetir mobil pada Kanza. Dia sangat yaki kalau Kanza akan setuju atas permintaan dirinya.