
Bismillah.
Zidan dan yang lainnya menuju suatu tempat agar mereka bisa memastikan apa sebenarnya yang terjadi di gedung hitam itu.
Herman mengusulkan pada Zidan agar mereka pergi ke sebuah ruang rahasia milik Herman dan yang lainnnya. Hanya milik Inti dari pembunuh Kilat saja.
Sampai di sebuah ruangan yang terkesan begitu tersembunyi Herman memberhentikan langkahnya, dia mengajak mereka semua masuk ke dalam ruangan itu.
"Tempat apa ini?" tanya Panji.
Panji petugas di gedung hitam yang sudah menolong Zidan dan Paul, kala mereka akan membebaskan para tawanan. Tidak tahu apa alasan Panji sudah menunggu lama kehadiran Zidan untuk membebaskan para tawanan sebelumnya.
"Ini ruang rahasia milik kami inti pembunuh bayaran Kilat." jawab Herman yakin.
Sekarang inti pembunuh bayaran Kilat tidak akan lagi membunuh orang, setelah mereka berada di bawah kekuasaan Zidan.
Bukan takut atas kata-kata yang penuh penekanan dari Herman, si Panji malah tertawa. Berbeda dengan Zidan dia malah susah payah menelan ludahnya kasar. Mendengar apa yang dikatakan Herman.
'Bisa saja aku dibunuh oleh mereka disini.' batin Zidan.
Otak parnonya kembali kumat lagi sepertinya, tubuh Zidan tiba-tiba saja sedikit gemetar kala mendengarkan apa yang dikatakan Herman. Tak tahu apa yang terjadi pada Zidan saat ini.
Yang pasti dia begitu takut, jika tiba-tiba Herman dan yang lainnya membunuh dirinya, Zidan sudah membuat dirinya jadi takut sendiri. Mau heran tapi dia Zidan. Sistem rich saja sampai tidak bisa protes apapun.
Kembali pada 7 orang yang masih berdiri di depan pintu. Panji masih terkekeh mendengar perkataan Herman. Yang lain menatap Panji heran kecuali Zidan yang menatap ketakutan bukan.
Rizal yang merasa sebal pada Panji, dia segera mengeluarkan unek-uneknya.
"Malah ketawa! Emang ada yang lucu?" kesal Rizal.
"Tidak ada!" jawab Panji cepat.
Dia yang tadinya tertawa langsung dia seketik, kala Rizal menatap tajam dirinya. Panji sekarang jadi merasa serba salah.
"Sudah ayo masuk, ada hal yang lebih penting harus kita bahas." ajak Zidan.
(Pede sekali kau Zidan! Memang Zidan yang punya tempat ini) sistem jadi geli sendiri melihat Zidan.
Sistem tahu kalau saat ini Zidan sedang ketakutan, kala mendengar perkataan Herman tadi.
"Benar ayo kita masuk!" ajak Bagus sambil membuka pintu ruangan di hadapan mereka saat ini.
Siapa yang tidak kenal pembunuh bayaran Kilat, apalagi anggota intinya mereka begitu ditakuti oleh semua orang, nama mereka begitu tersohor di seluruh penjuru kota dan desa di derah setempat.
Sudah menjadi rahasia umum jika polisi tidak dapat menangkap pembunuh bayaran Kilat. Entah bagaimana caranya walaupun nama mereka begitu ditakuti, mereka sala sekali tidak pernah terbukti melakukan pembunuhan. Memang aneh tapi mau bagaimana lagi mereka begitu handal memaikan terik.
Salah satunya mereka termasuk ancaman bagi gedung hitam itu. Panji juga sudah tahu dari awal jika pemilik gedung hitam itu tidak akan pernah mau berurusan pembunuhan bayaran Kilat. Sekarang pembuhun bayaran Kilat sudah di atas kuasa Zidan.
Laki-laki muda yang berhasil menaklukkan 5 inti dari pembunuh bayaran Kilat. Panji semakin yakin jika merekalah yang akan mengupas habis semua kejahatan di kota mereka. Maka dari itu panji ingin ikut andil dalam hal ini.
Ketuju orang itu sudah duduk berhadapan di depan sebuah meja yang di desain untuk tempat melakaskan diskusi. Sebelumnya Bagus sudah membuat minum untuk mereka.
"Sebelum kita mulai apa yang akan kita bahas, lebih baik kita interogasi dia dulu." tujuk Herman pada Zidan.
"Setuju!" jawab keempat anak buah Herman. Zidan masih tetap dia tak berkomentar.
"Kelihatannya bos kalian tidak mempermasalahkan diriku."
Kelima orang itu mendengus kesal mendengar jawaban dari Panji. Herman semakin penasaran siapa panji sebenarnya.
Ting!
"Baiklah!" ucap Zidan begitu saja.
"Jadi Panji bisa kita introagsi lebih dulu, siapa sebenarnya dia?"
"Eh." kaget Zidan mendengar ucapan Aceng.
"Iya boleh juga." sahut Zidan lagi setelah paham akan situasi.
Sebelumnya mereka memang sudah berkenalan dengan Panji. Tapi hanya sekedar perkenalan nama saja.
"Panji sekarang aku tanya sama kamu. Apa motif kamu mengikuti kami? Apakah kamu hanya suruhan dari orang gedung hitam itu?"
"Tidak ada! Saya hanya ingin ikut dengan Zidan dan menjadi bagian dari kalian. Untuk masalah gedung hitam itu, aku bukan bagian dari mereka.!" tegas Panji.
Melihat Zidan mengerutkan keningnya begitu juga yang lain, Panji kembali melajutkan penjelasannya yang belum selesai.
"Sudah aku katakan pada kamu Zidan sebelumnya, jika aku sudah lama menunggu kedatanganmu dan membebaskan semua orang yang berada di dalam sana. Penantianku di dalam gedung itu selama bertahun-tahun akhirnya aku bisa bertemu denganmu dan bebas dari ruangan terkutuk itu." jelas Panji panjang lebar.
"Lalu kenapa kamu bisa bekerja di tempat itu? Bahkan sampai bertahun-tahun." Paul buka suara juga.
Panji tertunduk sejenak sambil menatap lanti, dia terlihat berkali-kali mengehela napas panjang.
"Aku terjebak di dalam gedung itu, setiap orang yang sudah masuk ke dalam gedung itu tidak akan bisa keluar lagi dengan mudah. Entah dia jadi bagian dari petugas gedung hitam maupun tawanan."
"Jadi siapa sebenarnya anda?" tanya Herman menatap tajam Panji.
"Bukan siapa-siapa!" jawab Panji enteng.
Kecurigaan panji dan yang lainnya semakin kuat. Mereka tahu Panji bukan orang sembarangan, entah dia baik atau tidak mereka harus tetap waspada pada Panji.
"Sudah cukup! sekarang mari kita bahas gedung aneh itu." ucap Zidan.
"Karena disini ada mantan pekerja gedung aneh itu, sekarang saya mau tanya. Gedung hitam itu sebenarnya tempat apa?"
Kali ini Zidan sedang berada dalam mode seriusnya.
"Aku tidak tahu! Yang-"
"Apa maksud kamu Panji." potong Rizal emosi.
"Sabar Rizal, dengar dulu penjelasan Panji."
"Maaf Aceng, maaf semuanya aku kelepasan." sesal Rizal.
"Oke lanjut."
"Baik Zidan. Jadi aku selama bertahun-tahu tak pernah keluar dari tempatku bertugas, kami yang bertugas saja sudah seperti tahanan. Sayangnya tahanan mendapatkan perlakuan lebih buruk lagi."
"Gila! Jadi apa tujuan gedung itu dibuat?"
"Pak Aska dan istrinya bu Karin terobsesi ingin menguasai seluruh kota. Mereka ingin semua orang di kota patuh pada perintah mereka berdua."
"Itu artinya kita harus berhati-hati pada mereka jangan biarkan mereka menguasai seluruh kota bisa bahaya."
"Benar Zidan!" ucap mereka kompak.
"Tapi kenapa mereka menjauh obat-obat terlarang dan minuman keras?"
"Masih banyak yang belum kita ketahui tentang gedung hitam. Sekarang kumpulkan semua bukti yang kita dapat!" intruski Zidan.