Super Rich System

Super Rich System
#Usaha.



Bismillah.


"Zidan bagaimana ini." ucap Paul panik.


"Diamlah Paul, jangan banyak bergerak! Jika kamu terus bicara, aku yakin kita tidak lama lagi akan ketahuan dan kita ditangkap!"


"Aku belum mau ditangkap Zidan!"


"Maka dari itu diam Paul!"


Saat ini Zidan dan Paul sedang bersembunyi di gang ruang sempit yang berada disekitar lorong tempat mereka lewati.


Sementara itu seorang penjaga, terus mencari keberadaan mereka, penjanga itu mengenkan topeng, sehingga tidak terlihat wajahnya sama sekali.


Memang semua penjaga di gedung itu mengenakan seluruh topeng di wajah mereka.


Mungkin saja itu sudah peraturan yang di tetapan, di gedung tersebut. Tidak tahu apa tujuannya. Hanya orang-orang yang ada di gedung hitam saja yang mengetahui maksud dan tujuan tersebut.


"Hei kamu! Mau kemana!" teriak satu penjaga lagi, pada penjaga yang lainnya.


Penjaga 1 langsung menghampiri penjaga 2, "Mau kemana kamu? tugas kamu disebelah sana belum selesai."


"Maaf tadi aku seperti melihat bayangan orang masuk ke dalam gedung itu."


"Mungkin itu hanya akal-akalan kamu saja, kembali bekerja sana." suruh penjaga 2 pada penjaga 1.


"Maaf."


Penjaga yang melihat kehadiran Zidan dan Paul tadi langsung pergi mengikuti perintah penjaga 2.


"Alhamdulillah." ucap Zidan dan Paul.


Keduanya mengelus dada bersama, mereka bersyukur tidak jadi ketahuan oleh para penjaga tadi.


Setelah penjaga 1 pergi, penjaga 2 pun akhirnya ikut pergi juga, keduanya kembali bertugas masing-masing.


"Sudah tidak ada siapa-siapa lagi, ayo kita pergi." ajak Zidan pada Paul.


Paul mengangguk setuju, "Tapi ingat kita harus lebih hati-hati lagi." ujar Zidan.


Paul dan Zidan segera pergi meninggalkan, tempat sembunyi mereka tadi, tentu saja keduanya pergi dengan waspada, tak mau kejadian seperti sebelumnya terulang lagi.


"Aku rasa lorong ini tidak ada ujungnya." komentar Paul.


"Lorong ini memang sangat panjang, kamu akan tercengang nanti, saat tiba diujung lorong ini dan melihat apa yang berada diujung sana." jelas Zidan.


Tentu Zidan sudah jauh lebih tau tentang seluk beluk lorong kosong yang mereka lewati sekarang ini, memang sebelumnya dia sudah pernah masuk ke dalam lorong.


"Hati-hati Paul, di lorong yang terlihat kosong ini, banyak sekali jebakan."


"Aku pasti akan hati-hati Zidan." jawab Paul.


Bruk!


"Paul." kaget Zidan.


Padahal Paul baru saja selesai bicara, jika dia akan berhati-hati.


"Astagfirullah, bagaimana ini."


"Zidan tolong aku." mohon Paul yang sudah muali panik.


"Bertahanlah Paul, aku akan berusaha membantumu." Zidan berusaha menenangkan Paul.


Entah apa yang terjadi pada Paul saat ini, sedangkan disisi utara Herman dan Aceng, sedang berusaha menjangkau tempat tersebut.


Mereka berdua baru saja sampai disisi utara, tempat itu terlihat banyak sekali ruangan, sisi utara seperti tempat tersembunyi.


"Tempat apa ini bos." ucap Aceng pada Herman.


"Baik bos."


"Ingat harus hati-hati Ceng, aku merasa tempat ini banyak sekali jebakan. Seperti kata Zidan sebelumnya." peringat Herman.


"Aku merasa aneh pada gedung ini, pantas saja Zidan mencurigai gedung ini." komentar Aceng.


"Aku pun sama, yang awalnya aku biasa-biasa saja melihat gedung ini, bahkan sering sekali takjub, tapi setelah masuk ke dalam gedung ini tidak lagi. Aku malah merasa masuk ke dalam ruang kematian ketika berada di dalam gedung ini." ucap Herman panjang lebar.


Sebelum kembali bergerak, Herman menteliti dulu tempat-tempat yang ada dibagian utara tersebut.


Mungkin tempat itu ada sekitar 20 ruangan lebih yang saling berhadapan satu sama lainnya dan diantara ruangan itu, ada satu ruangan yang pintunya terlihat paling bagus.


Lalu ruangan itu hanya dibangun sendiri, tidak berhadapan-hadapaan dengan ruangan yang lainnya.


"Ceng kamu kesebelah kiri, aku kesebelah kanan, tapi ingat harus tetap hati-hati, jangan lupa cctvnya rekayasa."


"Baik bos." patuh Aceng pada Herman.


Herman mengangkat satu tangannya tanda menyuruh Aceng agar segera bergerak, mereka tidak banyak waktu, sedangkan ruangan dibagian utara begitu banyak.


Mereka hanya berdua, tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua kedepanya yang terpenting mereka harus bergerak dengan sangat hati-hati.


Ceklek! Herman maupun Aceng berhasil membuka ruangan pertama, "Apa ini?" tanya Herman bingung.


Tidak tahu dia bertanya pada siapa, yang pasti Herman seperti sedang memegang sesuatu benda yang menurutnya begitu familiar.


Begitu juga dengan Aceng, dia tengah meneliti apa yang ada di dalam ruang tersebut.


"Ini terlihat seperti." ucap Aceng masih berpikir, sambil membolak-balikan benda yang dia pegang."


"Apa ini heroin." kaget Aceng.


"Jadi tempat ini merupakan gudang narkotika, Astagfirullah. Gedung ini sangat berbahaya, hanya depannya saja yang terlihat pusat permainan dan perbelanjaan, ternyata banyak sekali barang terlarang yang ada di dalamnya." ujar Aceng.


Sama halnya dengan Aceng, Herman pun menemukan sesuatu yang sama, seperti yang ditemukan oleh Aceng.


Mereka berdua segera mengumpulkan semua bukti-bukti itu, agar gedung kota yang sangat digemari masyarakat ini segera ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang.


Setelah selesai Herman dan Aceng bertemu di tempat yang semula, "Apa yang kamu temukan Aceng?"


"Gudang narkoba bos. Bagaimana dengan bos." Herman mengangguk.


"Ayo kita geledah tempat lain." ajak Herman.


Disisi lain, tepatnya dibagian barat, Bagus dan Rizal sedang mencari informasi lainnya tentang gedung hitam.


Banyak sekali penjaga dibagian barat gedung tersebut, "Bagian ini sangat ketak sekali, bagaimana cara agar kita bisa masuk ke dalam?"


Mendapatkan pertanyaan dari Rizal, Bagus berpikir sejenak, dia tak sengaja melihat bagian atas gedung hitam.


Bagus menunjuk tangannya kearah pelapon gedung, "Aku tau, kita naik lewat atas."


Rizal mengikuti arah tunjuk Bagus, "Maksudnya kita lewat pelopon?"


"Benar sekali Rizal."


"Astagfirullah Bagus, kamu taukan aku kurang mahir!"


"Sudah Rizal jangan banyak berfikir, yakin kalau kamu bisa!" ucap Bagus memberi semangat pada Rizal.


Mau tidak mau Rizal hanya bisa mengangguk pasrah, tidak ada cara lain agar mereka bisa masuk ke dalam ruangan yang ada dibagian barat. Tidak butuh waktu lama, Bagus maupun Rizal sudah berada di atas pelapon ruangan. Mereka berdua seperti layaknya cicak yang memiliki perekat pada kaki masing-masing.


Bagus dan Rizal mulai merangkak di atas pelapon, kaki dan tangan mereka menjadi alat agar mereka bisa bergerak di bawah pelapon dengan leluasa.


Keduanya harus bisa menyeimbangkan tubuh mereka agar tidak terjatuh, Bagus berada dibelakang Rizal agar bisa memantau Rizal.


"Ayo sedikit lagi kita sampai ke dalam, awas hati-hati kamu Rizal. Seimbangkan tubuhmu dengan baik."