Super Rich System

Super Rich System
#36. Pulang



Bismillah.


Zidan pamit pada mereka semua pulang ke rumah, besok mereka akan berkumpul lagi di markas miliki perguruan Kilat. Membahas masalah gedung hitam yang tak kunjung usai. Jika gedung itu dibiarkan saja semua orang akan dalam bahaya nantinya, Zidan dan yang lainnya harus bisa mengambil tindakan cepat.


Sore sudah mulai menyapa tak membuat Zidan menghentikan langkahnya untuk beristirahat sejenak, sejujurnya Zidan begitu lelah. Hampir satu hari penuh ini Zidan terus bekerja mencari kebenaran tanpa lelah.


"Huh! Capek juga ternyata." Zidan menghela nafas panjang.


Sejenak dia berhenti melangkah kala rasa penat sedikit demi sedikit menghampiri dirinya.


Dia memutuskan duduk di bawah pohon yang berada didekat dirinya saat ini, sambil istirahat kedua netra Zidan terus menjelajahi hutan disekitarnya.


Pohon kayu tumbuh begitu hijau daunnya lebat, satu persatu Zidan memperhatikan pepohonan disekitarnya. Satu hal yang Zidan sadari setiap dedaunan dari setiap pohon pasti akan terlihat seperti menunduk.


"Masya Allah." ucap Zidan.


Hanya Zidan dan Allah yang tahu apa isi kepalanya saat ini setelah memperhatikan sekitar. Mungkin Zidan takjub dengan ciptaan Allah yang luar biasa tiada batasnya.


30 menit berlalu Zidan memutuskan untuk meneruskan perjalanannya. Rasa lelah yang tadi menghampiri diri Zidan kini berangsur-angsur pegi.


"Istirahat sejenak ternyata bisa membuat rasa lelah hilang. Hidup ini jalani saja sesuai alurnya, tapi ingat usaha dan doa harus tetap dilakukan." pesan Zidan entah untuk siapa.


Selama perjalanan menuju rumahnya sesekali Zidan menoleh kiri kana, siapa tahu ada sesuatu yang menarik perhatian dirinya. Sampai Zidan di depan gubuk miliki bapaknya ternyata tidak ada hal sedikitpun yang menarik bagi Zidan.


"Alhamdulillah sampai di rumah juga."


Buru-buru dia masuk ke dalam rumah. Tadi sebelum kembali ke rumah Zidan sempat mampir ke warung makan membelikan nasi dan lauk untuk dirinya dan orang rumah. Tak lupa Zidan juga membelikan Herman bersama kawan-kawan yang lain makan juga.


Sebuah senyum terukir jelas di wajah Zidan. Rasanya sekarang Zidan sudah tidak punya hutang lagi. Insya Allah cepat atau lambat Zidan bisa membawa bapak dan kedua adiknya keluar dari gubuk reot ini, mereka akan memiliki rumah yang lebih layak pakai.


"Assalamualaikum." salam Zidan sambil masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam." jawab Hana.


Kebetulan hanya ada Han di dalam rumah, mungkin pak Hajir dan Rian sedang mandi atau memcari kegiatan lain.


Hana yang tadi masih fokus mengerjakan sesuatu di bukunya mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang mengucapkan salam. Walaupun Hana tahu kalau itu abangnya.


Sedari tadi Hana sudah menunggu kepulangan Zidan. Ada amanah yang harus Hana sampaikan ada abangnya.


"Waalaikusalam." jawab Hana.


Dia memperhatikan abangnya wajah Zidan yang terlihat begitu kusut membuat Hana menyerit bingung, belum sempat Hana kembali bersuara. Zidan sudah lebih dulu melontarkan pertanyaan pada Hana.


"Bapak sama Rian kemana Han?" tanya Zidan sambil menoleh kesana kemari.


"Rian nemenin bapak mancing bang."


Zidan mengangguk mengerti, lalu dia menyuruh Hana untuk menyiapkan makan mereka yang dia bawa.


"Ini ditaru piring ya Han." suruh Zidan.


Ingin sekali rasanya Hana bertanya pada abangnya dari mana Zidan mendapatkan makan enak. Tapi dia urungkan. Hana mengambil 2 plastik yang berada di tangan abangnya lalu menuju ke dapur.


Zidan masuk ke kamar bapaknya untuk mengambil baju, dia akan memberishkan diri terlebih dahulu badannya sudah terasa lengket.


Ting!


"Kenapa ni sistem? Jangan bilang misi lagi. Aku baru pulang."


Belum apa-apa Zidan sudah soudzon saja pada sistem, padahal sistem belum memberitahukan pada Zidan notifikasi apa yang baru saja dia dengar.


(Tolong Zidan, buang pikiran negatif kamu pada sistem. Sistem mendatangi Zidan ada maksud baik, tapi Zidan malah menuduh yang tidak-tidak. Baiklah sistem tak akan menganggu Zidan)


"Dih ngambek."


(Maaf Zidan apa itu ngambek? Di dalam kamu sistem tidak ada kata ngambek.)


"Sistem juga ada kamusnya toh." gumun Zidan lirih.


(Sistem masih bisa mendengar jelas apa yang Zidan katakan!)


Cek!


"Sudah begini saja, informasi apa yang sistem bawa?"


(Sistem hanya ingin menanyakan Zidan, apa Zidan tidak mau mengecek datar diri?)


'Benar juga aku memang sedari tadi ingin mengecek data diriku kenapa bisa lupa, untung sistem aneh ini memberitahukan.' batin Zidan.


Zidan sama sekali tidak sadar kalau sistem rich bisa mendengar apa yang Zidan katakan di dalam hatinya. Bisa dibilang sistem rich menyatu dengan diri Zidan.


Bisa saja sistem dikeluarkan dari diri Zidan, asal Zidan memiliki hp untuk alatnya. Sayang sekali sampai saat ini Zidan tidak memiliki benda yang bernama hp.


"Baiklah."


Ting!


(Permintaan anda diproses.)


Nama : Zidan permana. Anak pertama dari 3 bersaudara.


Umur : 21 tahun


Pekerjaan : Do.........


Kekuatan fisik : 120%


Reward : 40.000.000


Sistem : rich! 00


Level sistem : 0


Point : 6.700 dilevel 0 sistem.


Misi :Misi tingkat tinggi sudah terpacu 2 kali, misi sederhana 6 misi dari banyaknya misi.


Keuntungan : Sistem dan rekening. Misi pelunasan hutang. misi tingkat tinggi.


kejutan : ahli pengobatan tingkat 1, 2, 3, bela dirisederhan.


Keahlian : Pengobat tingakat rendah 10, ahli bela diri sesederhana.


"Sudah 40.000.000? Mataku tidak salah lihat bukan? Aku tak salah membaca, atau sistem sedang bercanda?"


Rasanya begitu senang memiliki uang sebanyak itu, dari Zidan mengenal uang sampai sekarang sudah berumur 21 tahu mana pernah Zidan memegang uang sebanyak itu.


(Semua data yang Zidan baca benar adanya, sistem tidak mengada-ngada apa lagi becanda Zidan.)


"Syukur Allhamadulilah."


Zidan begitu bersyukur atas apa yang dia dapat, tak pernah Zidan bayangkan diusianya yang ke 21 tahun dia bisa memiliki uang banyak.


"Abang!"


"Astagfirullah." kaget Zidan.


Masih asyik dengan sistem, mendengar teriakan Hana akhirnya Zidan menemui sang adik.


"Kenapa?"


"Abang mumpung Hana ingat, besok abang disuruh dateng keseolah Hana disuruh pak kepsek."


"Buat apa?"


"Mana Hana tau."


Mungkin Zidan sudah melupakan tawaran yang diberikan oleh pak Heru kepela sekolah di SMP 30. Efek terlalu bahagia atau entah bagaimana.


Tadi saja saat sistem menujukan data diri Zidan, sepertinya Zidan tak memperhatikan dengan saksama. Padahal ada sedikit perubahan pada pekerjaan Zidan.


"Mungkin bang Zidan punya janji sama pak kepsek." ucap Hana lagi.


Zidan hanya mengangguk, tak lama Zidan dan Hana mendengar suara gaduh dari pintu belakang gubuk. Kakak beradik itu langsung saja menuju pintu belakang untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Rian." ucap Hana dan Zidan bersama.


Keduanya menahan tawa melihat tubuh Rian yanh penuh dengan lumpur seperti coklat.