Super Rich System

Super Rich System
Melunasi semua hutang



Bismillah.


Pagi hari di depan rumah Zidan sudah ada suara gaduh yang mengganggu ketenangan di pagi hari. Entah siapa yang membuat onar, matahari saja belum nampak seluruhnya.


Pemilik rumah masih belum keluar, semua masih sibuk di dalam rumah, suara gaduh dari luar rumah sama sekali tak mengusik ketenangan pemilik rumah yang masih khusyuk melantunkan kalimat-kalimat Allah


Zidan dan bapak Hajir tengah berdzikir di pagi hari, tak lupa Hana dan Rian ikut serta untuk berdzikir seperti bapak dan abang mereka.


Walaupun hanya sekedar ikut-ikutan saja, keduanya tak mengusik bapak Hajir dan Zidan yang tengah asyik memuji sang Maha Pencipta.


Duk!


Duk!


Duk!


"Zidan keluar kamu!" teriak orang dari luar.


Zidan dan kedua adiknya saling mentapa satu sama lain, "Siapa bang?" tanya Rian.


Zidan mengakat bahunya tanda tidak tahu, "Biar abang cek dulu ya."


Hana dan Rian mengangguk, "Itu sepertinya suara pak Maman bukan sih?"


"Mbak Hana benar, itu suara pak Maman." ujar Rian.


Bapak Hajir masih setia berdzikir, saking asyiknya beliau mengucapkan kalimat-kalimat tauhid, sampai tidak terusik sedikitpun oleh keributan yang tercipta.


Zidan menghampiri tamunya yang tidak sopan sama sekali, tak ada kemarahan yang nampak di wajah Zidan, dia sama sekali tidak marah, jika ada tamu yang tak sopan seperti itu, sudah biasa ada tamu yang datang marah-marah ke rumah bapaknya.


Ceklek!


Pintu rumah Zidan terbuka sempurna, angin pagi langsung menyapa wajah Zidan, kepalanya menyebul dari balik pintu.


"Pak Maman!" ucap Zidan.


"Akhirnya kamu keluar juga Zidan! Kamu tahu kan untuk apa saya datang ke sini?"


Zidan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berusaha meningat sejenak, apa yang pak Maman lakukan pagi-pagi sekali di depan ruamhnya.


"Pak Maman mau nagih utangkan?" tebak Zidan.


Bukan menebak, lebih tepatnya Zidan sedang mengingatkan dirinya sendiri, dia sudah berjanji pada pak Maman akan melunasi semua hutangnya hari ini.


"Ingat juga rupanya kamu! Mana uangnya sini! Saya sudah dari tadi nunggu kamu disini, tidak keluar-keluar, apa uangnya belum ada? Jika belum maka bunganya akan lebih tinggi lagi! Saya mau hari ini semua utang kamu lunas semua!" sentak pak Maman.


"Iya pak, pak Maman tenang saja, saya akan melunasi semua hutang-hutang saya kok pak." imbuh Zidan meyakinkan.


"Bagus bayar sekarang!"


'Aduh! uang di dalam atmku cukup tidak ya.' batin Zidan merasa gelisa.


Pasalnya sudah beberapa hari ini dia tak mengecek data dirinya di sistem rich, ya karena Zidan belum mendapatkan misi kembali.


Ting!


(Zidan apakah Zidan ingin mengecek jumlah uang Zidan yang ada di dalam atmn?)


"Akhirnya sistem muncul juga, benar sistem cepat lakukan, keburu bapak Maman marah-marah tidak jelas."


Ting!


(Siapa Zidan! permintaan sedang diproses harap bersabar dan tunggulah sebentar)


Ting!


(Pemintaan berhasil dilakukan, sihlakan cek data diri Zidan)


Ting!


Nama : Zidan permana. Anak pertama dari 3 bersaudara.


Umur : 21 tahun


Pekerjaan : D..........


Kekuatan fisik : 80%


Reward : 25.000.000.


Sistem : rich! 00


Level sistem : 0


Misi :Misi tingkat tinggi sudah terpacu 2 kali, misi sederhana 6 misi dari banyaknya misi.


Keuntungan : Sistem dan rekening. Misi pelunasan hutang. misi tingkat tinggi.


kejutan : Ahli pengobatan tingkat 1, 2, 3, 10. bela dirisederhan.


Keahlian : Pengobat tingakat rendah 8, ahli bela diri sesederhana.


Zidan bukan fokus pada uangnya yang ada di dalam Atm, dia malah salpok sama namanya yang baru munjuk lagi di dalam data dirinya.


"Sistem sepertinya aku melupakan sesuatu." ucap Zidan..


(Apa itu Zidan?)


"Kenapa namuku baru terlihat lagi didata diri? kemarin-kemarin sepertinya tidak ada."


(Maaf Zidan, nama Zidan ketinggalan, sistem lupa memeriksanya.)


"Cek sudah lupakan saja!" barulah Zidan fokus pada uang di dalam atmnya.


'Ada 25 juta ternyata.' batin Zidan.


'Aku bisa menggunakan uang ini untuk membayar lunas hutangku pada pak Maman.'


Zidan merasa bersyukur, dia memiliki uang yang cukup untuk melunasi semua hutang-hutangnya.


Mungkin Zidan lupa, jika dia memiliki uang yang cukup untuk melunasi hutanya pada pak Maman, tapi bukan uang yang ada di atm, melainkan uang hadiah dari para polisi untuk dirinya.


"Sistem bisakah aku mengambil uangku?"


(Tentu saja Zidan, tapi Zidan masih mengingat peraturan yang dimiliki oleh sistem bukan? Dan lagi untuk apa uangnya Zidan?)


"Aku tahu sistem! Aku tidak akan pernah melupakan peraturan yang ada di dalam sistem, masalah uangnya aku gunakan untuk apa? tentu saja untuk membayar hutangku pada pak Maman!"


(Cek! Bukankah Zidan bisa menggunkan uang yang Zidan dapat dari hadiah para polisi? Ingat Zidan, kamu harus segera mengumpulkan point sebayak-banyaknya!)


"Kenapa aku bisa lupa?"


Duk!


Sistem memukul kepala Zidan dan hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan sistem rich pada Zidan.


Sistem rich, jika memukul kepala Zidan seperti menemukan mainan baru saja.


"Aduh! sakit tau sistem! Jika saja aku bisa membalas sistem maka akan aku balas lebih sakit dari ini!"


Zidan tidak tahu, kalau saat ini pak Maman sudah begitu marah pada dirinya, pak Maman sudah merasa diabaikan oleh Zidan.


Pak Maman jadi semakin yakin, jika Zidan tidak bisa melunasi semua hutang-hutangnya.


"Zidan Permana!" teriak pak Maman.


"Astagfirullah." Zidan terperanjat kaget..


"Pak Maman kenapa sih! Pagi-pagi sudah teriak-teriak tak jelas."


Sudah seperti orang amnesia saja Zidan, jelas bukan kalau pak Maman datang ke rumahnya ingin menagih hutang Zidan. Sedari tadi juga pak Maman memang berteriak.


"Jadi kamu mau bayar atau tidak hutang kamu! jangan buang-buang waktu saya! Hanya untuk menunggu kamu mikir! pekerjaan saya masih banyak!"


Marah-marah lagi, jadinya pak Maman pada Zidan.


"Iya pak, saya bayar, bentar saya ambil uangnya dulu ya pak." ucap Zidan sopan.


"Nah bagus! Dari tadi ginikan enak." sahut pak Maman.


Zidan meninggalkan pak Maman di laur rumahnya, sudah pasti pak Maman tidak datang sendiri tentunya, ada anak buahnya yang selalu mengawal pak Maman untuk berjaga-jaga saja, siapa tahu Zidan tak bisa membayar hutangnya.


Tidak butuh waktu lama, Zidan sudah kembali berada di hadapan pak Maman dan kedua anak buahnya.


Amplok coklat yang terlihat tebal ditangan Zidan, "Nih, pak Maman cek saja uangnya pak kok."


Dengan sopan Zidan menyodorkan amplop coklat itu pada pak Maman yang sudah terlgila-gila oleh uang.


Pak Maman mengecek isi amplok berwaran coklat, dia tersenyum semringah saat melihat isinya sesuai yang dia inginkan.


"Bagus, hari ini saya nyatakan semua hutang-hutang kamu sudah lunas!" Zidan hanya mengangguk


"Cabut!" suruh pak Maman pada kedua anak buahnya.


"Alhamdulillah tidak punya hutang lagi." bahagia sekali Zidan