Super Rich System

Super Rich System
Tidur



Bismillah.


"Sudah Zidan kita istirahat dulu lanjut besok lagi." Keluh Kanza, dirinya sudah merasa lelah. Hampir 3 jam Zidan belajar mengemudikan mobil belum terlihat kemajuan sama sekali.


Zidan menoleh pada Kanza yang masih setia duduk disampingnya, sedari tadi gadis itu sudah meminta istirahat Zidan seakan tak mendengarkan perkataan Kanza. Sekarang melihat wajah lelah Kanza, Zidan jadi merasa bersalah.


Saking semangatnya dia ingin bisa mengemudikan mobil dengan baik, sampai lupa jika ada orang yang membutuhkan istirahat terlebih dahulu.


Zidan tersenyum kecut, senyum penyesalan karena satu jam lalu dia tidak menuruti keinginan Kanza.


"Kita istirahat sekarang, maafkan aku Kanza." Sesal Zidan.


"Kali ini aku memaafkanmu, lain kali jangan harap." Dengus Kanza, dia keluar begitu saja dari dalam mobil tanpa menunggu Zidan.


Kanza berjalan menuju rumah Zidan, Allhamadulilah nya sampai disana Hana sudah menyiapkan makanan dan miuman juga beberapa cemilan untuk mereka.


"Kak Kanza makan dulu pasti laper." Ujar Hana yang mendapat persetujuan dari Kanza. Gadis itu langsung saja mendekati Hana dan Rian yang sedang sibuk menata makanan.


"Nggak capek apa kak belajar mobil sampai hampir 3 jam lebih." Komentar Rian.


Kanza tersenyum kecut, justru saat ini dia sudah begitu lelah. Tapi si Zidan tidak peka-peka juga, Zidan pikir dirinya robot apa.


"Bukan capek-capek lagi Rian, capek, laper, lelah semuanya jadi satu." Sahut Kanza.


"Nak Kanza ayo kita makan dulu." Ajak pak Hajir yang baru bergabung, sedangkan Zidan belum juga ikut bergabung bersama mereka.


Entah kemana perginya Zidan, Kanza sama sekali tidak pedulu. Saat ini yang paling dia pedulikan adalah perutnya sedari tadi cacing-cacing di dalam perut itu sudah berdemo saja.


"Iya pak inu juga mau makan udah laper banget." Ucap Kanza tanpa malu.


Dia sudah bersiap menyentongkan nasi ke dalam piringnya, Kanza sudah tidak dapat menahan lapar lagi. Masa boda amat terlihat tidak tahu malu di depan bapaknya Zidan dan kedua adiknya. Lagipula Kanza juga sudah terbiasa pada mereka, semakin hari hubungan Kanza dan keluarga Zidan semakin dekat saja.


"Siapa yang masak Han?" tanya Kanza penasaran.


Pasalanya saat ini menu mereka begitu mengungah selera siapa saja yang saat ini melihat makanan itu.


"Hana kak." Jawab Hana jujur, karena memang dia yang masak.


"Wah pintar juga kamu ya." Puji Kanza bangga pada Hana.


Sampai saat ini Zidan belum menemukan art yang pas untuk mengurus rumah mereka. Jadilah setiap hari Zidan, Hana dan Rian berbagi tugas untuk selalu membersihkan rumah.


"Bang Zidan kok belum datang juga kak Kanza?" tanya Rian penasaran dari tadi dia terus menatap mobil Zidan, berharap abangnya itu segara keluar dari mobil, tapi sampai sekarang belum juga ada pergerakan dari dalam mobil, tanda-tanda Zidan hendak keluar.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Rian, Kanza mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tahu. Pikir Kanza mungkin Zidan masih ada urusan yang tidak ingin ada satu orang pun mengganggu kesibukan dirinya.


"Pasti abang Zidan tidur itu di dalam mobil." Celetuk Hana.


Benarkah Zidan tidur di dalam mobil? Bukan tadi saat dirinya keluar dari dalam mobil, Zidan terlihat begitu segara. Tidak ada tanda-tanda mengantuk sama sekali.


"Minum kak Kanza." Hana menyodorkan segela air putih pada Kanza. Cepat Kanza menerima segela air putih itu dari tangan Hana, dia langsung meneguk tandas air di dalam gelas.


"Pelan-pelan Nak Kanza." Nasihat pak Hajir yang membuta Kanza menyengir saja.


"Kaget aja pak sama apa yang Hana bilang barusan kalau si Zidan ketiduran di dalam mobil, tadi soalnya pas Kanza keluar dari mobil dulua. Wajah Zidan masih segera benget nggak ada tanda-tanda ngantuk maupun leleha di raut mukanya." Jelas Kanza, dia mengatakan semua yang dia lihat dari Zidan.


"Bang Zidan emang kayak gitu kak Kanza, walaupun capek nggak kelihatan capek sama sekali, tapi yang mastiin dia capek apa nggaknya, lihat aja kalau bang Zidan ketiduran disembarang tempat berarti dia lagi kecapekan." Rian hafal sekali tengang abangnya itu sampai rinci dan ditel sekali.


"Tapi walaupun begitu bang Zidan tidurnya nggak akan lama juga." Sambung Hana lagi.


Kedua adik Zidan begitu tahu kebiasaan abang mereka. Kanza saja sampai terheran-heran.


"Jangan heran Nak Kanza, Hana sama Rian memang begitu hafal betul tentang abang mereka." Kali ini pak Hajir yang bersuara, Kebetulan sekali makanan beliau sudah habis disantap, saat mendengarkan kedua anaknya dan Kanza mengobrol membahas Zidan.


Di dalam mobil berwarna hitam itu orang yang sedari tadi sedang menjadi topik pembahasan di teras rumahnya sendiri, kini perlahan-lahan membuka dua kelopak matanya yang hampir 25 menit terpejam


10 menit yang lalu Kanza, Hana, Rian dan pak Hajir baru mulai makan, setelah semaunya disiapkan.


(Sudah bangun rupanya? Bagimana sangat melelahkan bukan belajar mengemudikan mobil, maka dari itu jangan ingin semua hal langsung instan, pengen langsung bisa mengemudikan mobil tanpa harus belajar. Ingat yang bisa jadi instan itu hanya mie instan saja Zidan)


Zidan berdecak kesal kala mendengar apa yang dikatakan oleh sistem. Dia baru saja bangun dari tidur, tapi langsung mendapatkan ejekan dari sistem.


"Sekali saja sistem membuat aku jadi senang apa susahnya?"


(Boleh juga, Zidan hanya ingin senang sekali saja kan? Tentu sistem akan mengabulkannya, itu adalah hal yang mudah jadi bersiaplah)


"Tunggu dulu, sepertinya ada yang salah dari kata-kata sistem, bahagia sekali saja. Yang benar saja sudah lupakan saja apa yang saya minta." Kesal Zidan semakin dibuat kesal saja dia oleh sistem keberuntungannya.


(Rupanya Zidan mendari apa maksud dari kata-kata yang sistem keluarkan)


Kruk, kruk, kruk!


Suara dari perut Zidan membuat dia tak lagi menghiraukan sistem, dia lebih tertarik memegang perutnya yang keroncongan lalu segara turun dari mobil, saat dia turun semua mata orang yang berada di teras menatap kearhanya.


"Ketahuan sekali mereka sedang membicarakanku." Ucap Zidan pada diri sendiri, mungkin hanya sistem yang bisa mendengar suara Zidan, karena jarak tempatnya dan teras sedikit jauh juga.


Tanpa berfikir 2 kali lagi Zidan langsung menghampiri mereka semua. Ternyata Kanza, Rian dan Hana baru saja selesai makan. Sedangkan pak Hajir sudah selesai dari tadi.


"Kok kalian nggak nunggu aku makan?" tanya Zidan heran.


"Nunggu kamu buat makan bareng yang ada lambung gue langsung naik." Sahut Kanza tidak ada ramah-ramahnya pada laki-laki berwajah kusut yang baru saja mendekati mereka semua.


Entah keberanian dari mana Kanza berbicara ketus pada Zidan orang yang sudah membuatnya begitu lelah.