
Bismillah.
Zidan dan keluarganya sudah pindah rumah. Rian dan Hana begitu takjub melihat rumah yang berhasil abang mereka beli. Apalagi Zidan memberi mereka berdua kendaraan.
Untuk Hana satu unit motor dan untuk Rian satu unit sepedah, bukan hanya itu saja Zidan juga memberi satu buah telefon gengam pada Hana dan satu buah laptop untuk Hana sekolah dan mengerjakan tugasnya.
Lalu Zidan juga memberi Rian sebuah alat canggih yang dapat Rian gunakan untuk belajar dan bermain. Tak lupa Zidan membeli satu unit tv agar bapaknya tidak bosan nanti di rumah.
"Zidan." Bapak Hajir menatap lekat putrnya, masih bingung Zidan mendapatkan semua ini dari mana.
Bapak Hajir hanya takut kalau anak sulungnya itu terjerumus dalam lubang yang salah. Sungguh pak Hajir tidak ingin hal itu terjadi, apalagi beliau selalu melihat Zidan menjalankan semua ibadahnya sebagai muslim yang taat.
"Iya pak, ada apa?" Senyum Zidan sedikit lutur kala bapaknya melihat dirinya dengan penuh tanya.
Zidan tau pasti bapaknya bertanya-tanya dari mana dirinya mendapatkan semu ini, Agar bapaknya tau dirinya tidak mendapatkan semua ini dengan cara yang tidak halal, Zidan menyuruh Hana dan Rian untuk mendekat.
"Bapak, Insya Allah Zidan tidak mencuri. Semua ini Zidan dapat dengan kerja kerasa Zidan sendiri. Bapak coba lihat video yang Hana putar." Zidan memberikan isyarat pada adik perempuannya itu agar memutar video disaat dirinya mendapatkan penghargaan.
Untung saja Hana sedikit peka, dia segera memutar video viral Zidan di hp barunya. Perlahan Hana memperlihatkan video itu pada bapak mereka.
Pak Hajir menonton video tersebut dengan saksama. Sungguh Zidan tidak mau ada perselisihan diantara keluarga mereka. Jika hal itu terjadi, Zidan lebih baik jadi orang miskin dan selalu bahagia bahun membahu bersama keluarga.
"Masya Allah Nak. Hati kamu begitu mulia, Zidan bapak bangga punya kalian." Pak Hajir memeluk anak-anaknya penuh sayang.
Beliau tak menyangka Zidan akan menjadi orang sukses dan bersinar seperti sekarang ini.
"Sudah hampir pagi kalian bersipalah untuk membersihkan diri." Suruh pak Hajir pada anak-anaknya.
Karena tadi meraka berkumpul setelah shalat subuh usai. Rian dan Hana menuruti perintah bapaknya sedangkan Zidan pergi ke dapur untuk membuat sarapan mereka semua.
Rasa bahagia yang Zidan rasakan ternyata menular juga pada sistem, sungguh energi positif benar-benar dimiliki oleh Zidan.
Ting!
(Zidan sekarang Zidan bisa melihat sistem rich dari aplikasi yang ada di hp Zidan)
Zidan yang tengah fokus memasak memberhentikan kegiatannya sejenak. Benar juga apa yang sistem katakan, sudah lama sistem menyuruh dirinya untuk membeli benda yang namanya hp itu.
"Baiklah, nanti akan aku periksa. Sekarang aku mau masak dulu."
(Sistem akan menunggu Zidan.)
Zidan tak lagi menyahut, dia sudah fokus memasak kembali. Sarapan mereka hari ini sangat sederhana, ayam crispi dan tumis kangkung. Semua Zidan masak sendiri. Zidan berniat akan mencari pembantu untuk membersihkan rumah mereka, tapi dia akan berpikir-pikir lagi, lebih baikanya bagaimana.
Waktu sedikit bergulir, kini mereka semua sudah berada di meja makan. Zidan sudah rapi juga, tadi setelah selesai masak dia langsung membersihkan diri.
Hari ini, hari pertama Zidan kerja menjadi seorang dokter di sekolah Hana. Bukan dokter abal-abal melainkan dokter sungguhan.
"Wangi sekali masakan abang Zidan."
"Tentu saja, makanlah setelah ini kita berangkat sekolah."
Pak Hajir tersenyum melihat anak-anaknya pagi begini sudah ceria. Kalau dulu mereka duduk untuk makan hanya beralas tikar jelek, sekarang mereka sudah bisa makan di kursi dengan meja untuk meletakan semua makanan mereka.
"Bang Zidan hari ini sudah mulai kerja?" tanya Hana memastikan.
"Iya." Sahut Zidan apa adanya.
"Bang kita ke sekolah naik motor atau jalan kaki? Rian ingin naik sepeda."
Zidan mengelus lembut kepala adik bungsungnya itu, Zidan hanya tidak mau menggemparkan 2 sekolah sekaligus hanya karena kedua adiknya yang selalu berjalan kaki, tiba-tiba naik motor dan sepeda.
"Untuk saat ini kita jalan kaki dulu ya, lagipula sekoalah Rian kan deket. Abang juga mau ke sekolah kak Hana, jadi kita bisa pergi bersama."
"Ya, Rian setuju."
"Sudah selesaikan sarapan kalian, setelah itu segera berangkat sekolah." Suruh pak Hajir.
"Siap bapak." Jawab ketiganya kompak sekali.
Membuat mereka semua tertawa renyah, Zidan begitu menikmati kebersaman dengan keluarganya.
Selesai sarapan Zidan, Hana dan Rian berpamitan pada pak Hajir.
"Kita berangkat dulu ya bapak, Assalamualaikum." Pamit Zidan diikuti kedua adiknya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab pak Hajir.
Sampai di sekolah Zidan dan Hana mengantar Rian terlebih dahulu ke sekolahnya.
"Belajar ya bener dek, sebentar lagi lulus SD." Pesan Zidan.
"Siap pak bos, Rian masuk dulu." Ujarnya sambil menyalami kedua kakaknya secara bergantian.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Zidan dan Hana bersama.
Setelah memastikan Rian sudah masuk ke dalam sekolahnya, barulah Zidan dan Hana menuju tempat sekolah yang sama.
Hanya butuh waktu 10 menit mereka sudah tiba di sekolah Hana.
Seperti biasa baru menginjakkan kaki di gerbang SMA 30 Hana dan Zidan sudah mendengar teriakan seorang yang memanggil nama Hana. Hana sudah hafal betul siapa pemilik suara tersebut.
"Hana...." Teriak Melia.
Hana menatap malas Melia, sudah menjadi kebiasaan Melia selalu berteriak padahal hari masih pagi.
"Bang Hana duluan ya." Pamit Hana.
"Dah, bang Zidan." Pamit Melia juga, Zidan hanya mengangguk.
Karena hari masih pagi belum waktunya lonceng sekolah, banyak anak-anak yang baru masuk. Zidan merasa banyak orang yang menatapnya penuh tanya. Mungkin mereka bertanya-tanya siapa Zidan.
"Wira coba lihat, dia bukan orang yang waktu itu pernah ngelawan kita." Ucap salah satu teman Wira.
Saat Wira menoleh tatapanya tak sengaja bertemu dengan Zidan. Zidan tersenyum menyeringai pada Wira, masih ingat betul Zidan siapa anak laki-laki berpawakan sedikit besar itu.
Wira yang sadar cepat-cepat pergi dari tempat itu, dia segar menuju kelasnya. "Gue nggak mau berurusan sama dia lagi, itu abang-abang terlalu mengerikan. Sekarang gue juga udah tobat." Ucap Wira pada temannya.
Zidan berjalan santai menuju ruangannya yang sudah diberitahu sebelumnya oleh bapak kepala sekolah. Saat Zidan lewat ada beberapa guru yang menyapanya ramah, Zidan juga ikut menyapa mereka ramah.
"Tidak terlalu buruk, ini awal yang baik." Komentar Zidan, dia sedang bicara pada diri sendiri.
(Sistem juga merasa begitu Zidan.)
Cek!
"Aku tidak mengajakmu berkomunikasi sistem!" dengus Zidan.
(Baiklah nikmati harimu Zidan, sebelum misi kembali menyapa.)