
Aku menatap langit melalui jendela kamarku. Malam ini hujan turun, tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik biasa.
Aku menghela napas panjang dan melihat jelas kaca jendela yang mulai mengembun akibat hujan malam ini.
Aku tidak suka hujan!
Bukan apa, hujan selalu mengingatkanku dengan Rafa.
Setiap hujan turun, kenanganku dengan Rafa seakan hadir kembali. Dulu, aku memang sangat menyukai hujan. Terlebih lagi hujanlah yang membuatku bertemu dan mengenal Rafa.
Kala itu, aku masih anak baru di sekolah, begitu pun dengannya. Kami baru masuk SMA dan belum saling mengenal. Saat aku berjalan pulang sembari menunggu Anan menjemputku dari sekolah, hujan turun begitu deras. Aku bingung, akhirnya akupun berlari menuju sebuah halte yang kebetulan ada seorang siswa yang bersinggah sembari menunggu hujan reda.
Setelah lama kami berdiam di halte sembari menunggu hujan reda, akhirnya dia menyapaku.
"Hai," sapa seorang siswa tersebut.
Aku hanya tersenyum membalas sapanya. Maklum, aku belum mengenalnya. Jadi aku hanya membalas seadanya saja. Aku memang sulit untuk membuka diri, apalagi kepada orang yang baru ku kenal. Maklum saja, aku baru beberapa hari ini di Jakarta. Sebelumnya aku tinggal di Sumatera.
"Kamu kelas sepuluh juga kan?" katanya.
Aku mengangguk.
"Sama, aku juga kelas sepuluh." Dia menyunggingkan senyumnya membuatku ikut tersenyum.
"Oh ya? Emang kamu kelas apa?" tanyaku yang memang sebelumnya aku belum pernah melihatnya.
"Aku 10 IPA 1."
Oh, pantas saja, kita beda kelas.
"Memang kamu kelas apa?" tanyanya balik.
"10 IPA 3," jawabku.
"Salam kenal ya. Namaku Rafa," ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
Aku membalas uluran tangannya, "Alina," jawabku dengan senyum ramah.
"Kamu pulangnya jalan kaki?" tanya Rafa.
Aku menggeleng, "Tadinya aku di jemput sama sepupuku. Tapi karena hujan, mungkin dia juga lagi neduh," ujarku.
"Yaudah kamu pulang sama aku aja. Aku bawa motor. Nanti kita tunggu sampai hujan reda," ajaknya.
"Tapi sepupuku?"
Rafa tampak berfikir sejenak, "Kamu telfon aja. Bilang kalau kamu pulang sama aku."
"Oke,"
Aku pun menghubungi Anan dan bilang untuk jangan menjemputku karena aku akan pulang bersama Rafa.
"Kamu suka hujan?" tanya Rafa tiba-tiba.
Aku mengangguk, "Suka," jawabku membuat Rafa tersenyum.
"Jalan sekarang yuk?"
Aku mengangguk dan kami pun berjalan pulang melewati rintik-rintik hujan yang turun tidak begitu deras.
Hanya rintik-rintik seperti yang aku rasakan malam ini. Aku ingat sekali, dari hujan itulah aku semakin mengenal Rafa. Kami semakin dekat dan saling memahami sifat masing-masing. Dan tentunya saling mencintai.
Tak bisa ku pungkiri kalau aku masih mencintai Rafa. Rafa yang mengajarkanku mengenal cinta. Dan Rafa juga yang membuatku tahu bagaimana rasanya terluka.
Aku tak ingin seperti ini, terus-terusan terbayang oleh rasa yang tak jelas seperti apa. Aku ingin melupa, namun hatiku enggan tuk melakukannya.
Kalau di pikir, sebenarnya untuk apa aku masih menyimpan rasa kepada orang yang sudah mendua. Hanya membuang waktu saja. Namun, semua itu jauh dari realita, dan aku tak bisa.
Melupakan seseorang yang di cinta tak mudah!
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu membuatku menghentikan aktivitasku sejenak. Ku tutup laptopku terlebih dahulu sebelum bangkit untuk membukakan pintu.
Malam ini aku di rumah sendiri. Ayah dan Ibu sedang pergi ke rumah Pamanku yang ada di daerah Kemayoran. Awalnya aku takut di tinggal sendirian. Namun karena Ibu bilang kalau Tante Mira akan ke rumah, jadi aku mau di tinggal di rumah.
Bicara soal Tante Mira, Tante Mira adalah Adik dari Ibuku. Dan Beliau adalah Ibu dari Anan. Tante Mira juga memiliki usaha seperti Ibuku. Namun ia lebih fokus ke usaha Catering.
Aku yakin yang mengetuk pintu tadi pasti Tante Mira. Kebetulan sekali, perutku juga lapar. Jadi aku akan meminta Tante Mira memasak makanan untukku.
Ku buka pintu utama rumahku untuk menyambut Tante Mira. Senang rasanya akan dibuatkan makanan oleh tante Mira.
Namun saat pintu terbuka, bukan Tante Mira yang ku lihat, melainkan Kavin yang tengah berdiri seraya menunjukan deretan giginya.
Aku memutar bola mataku malas. "Ngapain?" tanyaku.
"Apel malam," jawab Kavin seenaknya.
"Kavin, serius!" ucapku.
"Kurang serius apa lagi si Na gue sama lo? Ngajak jadian, udah. Apa lo mau gue ajak nikah?" tanya Kavin membuatku bergidik ngeri.
"Sinting lo," ucapku membuat Kavin tertawa.
"Mau jalan-jalan gak?" tawar Kavin.
"Ujan Vin, gak usah aneh-aneh deh!" ucapku menatapnya malas.
"Gak papa, kan biar lebih romantis gitu." Kavin menaikan kedua alisnya berusaha membujukku.
"Gak mau, nanti gue masuk angin." Sebenarnya aku malas sekali untuk pergi. Apalagi dengannya.
"Elah, lebay lo! Ntar gue beliin minyak angin deh kalau lo masuk angin. Mau ya? Plis, Plis," bujuk Kavin.
"Mau kemana sih emang? Kaya gak ada kerjaan aja," ujarku seraya berkacak pinggang.
"Udah ikut aja,"
"Tante gue bentar lagi mau kesini," ujarku supaya dia berhenti membujukku.
Kavin berdecak, "Tante siapa? Tante Mira?" tanya Kavin membuatku menaikan kedua alis.
"Kok lo tau?"
"Yaudah, b aja!" ucapku yang malas meladeninnya.
"Yaudah gue telpon aja tante lo, minta izin kalau gue mau bawa lo pergi." Kavin meraih ponselnya yang berada di dalam saku dan men-dial nomor Tante Mira.
Aku pun bingung, entah bagaimana dia bisa mendapatkan nomor Tante Mira. Seumur-umur aku berteman dengan teman-temanku, aku tak punya nomor orang tuanya.
"Halo tante, iya ini Kavin, Kavin boleh ajak Alina pergi bentar gak? Iya tante. Boleh nih? Oke, makasih ya te." Kavin menutup sambungannya dengan senyum yang mengembang. Ia menatapku dengan arti tatapan bahwa ia berhasil meminta izin dengan Tante Mira. "Yaudah, yuk!" Kavin menarik tanganku untuk pergi dengannya.
"Ya, sabar. Gue belum ganti baju juga, udah lo tarik-tarik aja!" ucapku sarkatis.
Kavin menghela napas dan tersenyum, "Yaudah, sana ganti baju dulu. Jangan cantik-cantik ya, Na."
"Kenapa?"
"Takutnya orang-orang pada iri sama gue," ucap Kavin membuatku berasa ingin muntah.
"Hueek!"
Kavin hanya tertawa melihatku merespon gombalannya tersebut. "Yaudah cepet gih! Lemot lo jadi orang."
Aku pun masuk ke dalam dan berganti pakaian dengan mengenakan dress pendek berwarna putih yang sering aku gunakan.
Aku menyisir rambutku perlahan dan sengaja ku biarkan urai. Tak lupa juga aku meraih tas kecilku beserta ponsel dan juga dompet.
Setelah selesai, aku pun kembali keluar untuk menemui Kavin.
"Ih, lo itu kenapa sih gak mau dengerin gue? Gue bilang kan gak usah cantik-cantik," ucap Kavin membuatku malas meladeni.
"Bacot ah, udah yuk berangkat." Aku mendorong Kavin untuk keluar setelah itu mengunci pintu lalu menaruh kunci di tempat biasa dan mengekorinya menuju mobil yang dia bawa.
Setelah berada di dalam mobilnya, aku menyumpal telingaku dengan earphone yang sudah tersambung ke ponsel. Ku cari lagu-lagu yang sesuai dengan isi hatiku.
Ku dengarkan lagu tersebut dengan tenang. Sambil sesekali ku tengok Kavin yang sedang fokus menyetir. Ku pandangi wajah Kavin dengan seksama, rupanya kalau di lihat-lihat dia memang tampan. Namun kenapa dia sangat menyebalkan?
"Ngapain ngeliatin gue sampe segitunya?" ucap Kavin membuatu tersadar.
"Hah? Siapa yang ngeliatin lo?" ucapku yang ketahuan memperhatikan Kavin.
Kavin tersenyum miring, "Ngaku aja deh. Gak papa kok kalau lo mau ngeliatin gue terus. Sampai besok juga gak papa. Lo gak akan rugi."
Aku memutar bola mataku, "Hih, pede! Siapa juga yang ngeliatin lo."
"Oh, jadi gak mau ngaku nih? Yaudah kalau gak mau ngaku, gue kencengin aja bawa mobilnya ya?" ucap Kavin, namun ku abaikan. Karena ku fikir Kavin hanya bercanda.
Namun tiba-tiba Kavin melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. Rupanya Kavin memang tidak main-main.
"Vin, Vin, pelan-pelan!"
"Lo ngaku dulu geh kalau lo ngeliatin gue."
"Kavin!" teriakku. Jujur, aku takut jika Kavin membawa mobil sekencang ini.
Aku memang memiliki Tachophobia, dimana aku begitu amat takut dengan kecepatan. Aku tak tahu sejak kapan aku memiliki fobia seperti itu. Yang jelas jika aku berada pada suatu kecepatan, aku akan merasa takut dan keringat pun mulai bercucuran.
"Vin, pelan-pelan!" ucapku dengan air mata yang tiba-tiba turun dari mataku.
Kavin tidak mendengarkanku, ia terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang.
"Kavinnnnn, gue mohon," ucapku dengan suara serak seraya menarik lengannya.
Kavin menoleh dan terkejut melihatku menangis. Ia pun segera memperlambat kemudinya dan memarkirkan mobilnya di sisi jalan.
"Na, lo kenapa?" tanya Kavin panik.
Aku tak menjawabnya. Aku kesal dengannya.
Kavin meraih tanganku, "Na, gue minta maaf," ucap Kavin merasa bersalah.
"Lo jahat, gue kan udah bilang untuk jangan kenceng-kenceng bawa mobilnya. Gue takut, gue takut sama kecepatan," ucapku terisak.
Kavin panik dan langsung menarikku ke pelukannya, "Gue minta maaf Na, gue gak tau kalau lo punya Tachophobia."
Aku diam. Tidak menjawab ataupun melepaskan pelukannya. Rasa takut masih menghinggap pada diriku. Bisa aku rasakan detak jantung Kavin. Jelas ia juga pasti bisa merasakan detak jantungku yang begitu kencang.
"Gue minta maaf ya," ucap Kavin lirih. Terlihat jelas kalau ia merasa bersalah. Aku bisa memakluminya. Karena aku tahu kalau ia tidak tahu banyak tentangku.
Kavin menatapku dengan rasa bersalah, "Na, lo maafin gue kan? Gue janji setelah ini gue bakal cari tahu lebih banyak tentang lo supaya gue kan ngulangin kesalahan yang sama."
Aku melepas pelukannya dan merapihkan rambutku. Ku seka air mataku yang masih berlinang.
"Na, gue minta maaf ya?" ucap Kavin seraya menggenggam tanganku.
Aku menarik tanganku dari genggamannya lalu mengangguk.
Melihatku mengangguk, Kavin pun tersenyum lega.
"Makasih ya," ucapnya dengan senyuman.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Jangan di ulangi lagi ya?"
Kavin mengangguk dan bersikap hormat layaknya hormat saat upacara bendera, "Gue janji. Tapi lo yang manis geh senyumnya," ucap Kavin yang mau tak mau akhirnya aku tersenyum."Nah, gitu dong. Lo masih mau kan jalan sama gue?"
"Iya," jawabku.
Kavin melebarkan senyumnya dan mencubit pipiku dengan gemas. Bisa aku rasakan jika pipiku memerah dan juga memanas.
Bukan karena sakit, namun karena malu oleh perlakuannya padaku.
--------------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
------------------------------------------------------