Started Without Love

Started Without Love
SWL 31




Sejak memasuki gerbang kampus, beberapa pasang mata menatap kami berdua. Bagaimana tidak? Seseorang yang di anggap penting dan menjadi most wanted boy di kalangan Mahasiswa datang ke kampus dengan seorang gadis. Meskipun kedekatan keduanya sudah lama menjadi buah bibir di kalangan kampus ini.


“Itu Kak Arga ‘kan?”


“Kok tumben dia pake motor?”


“Dia sama anak sastra itu lagi? Memangnya mereka udah pacaran ya?”


“Denger-denger sih katanya mereka udah resmi pacaran.”


“Kata siapa lo?”


Dan masih banyak lagi ucapan mereka yang dapat aku dengar. Sebenarnya pemandangan seperti ini bukan hal baru untukku. Aku pernah merasakannya saat masih berpacaran dengan Rafa. Ya, aku ingat sekali masa-masa itu. Dimana Rafa juga merupakan ketua Osis dan juga Most wanted boy di sekolah kami.


Jangankan saat berpacaran dengan Rafa, saat aku dekat dengan Kavin pun, aku tetap menjadi perbincangan. Namun sayang, itu hanya sebentar.


“Aku anter sampai jurusan kamu ya?” ucap Kak Arga saat kami baru melewati Fakultasnya.


Aku mengangguk mengiyakan, hingga kami pun sampai di Fakultasku. Aku segera turun dan melepas helm yang ku kenakan.


“Bintang lima ‘kan pak?” ucapku dengan gelak tawa.


Kak Arga mengangguk. “Iya neng, jangan lupa tip-nya juga ya?”


Aku tertawa. “Mau berapa emang Pak tip-nya?”


“Tip-nya cinta neng aja boleh nggak?”


Aku menggeleng. “Aduh, nanti pacar saya marah Pak.”


Kak Arga merengut sebal. “Yah, eneng udah punya pacar ya? Siapa sih emang pacarnya? Gantengan mana sama saya?”


“Gantengan pacar saya-lah Pak. Bapak mah kalah,” ucapku membuatnya tertawa.


“Yaudahlah neng, saya mundur aja,” Kak Arga memundurkan motornya dan bersiap untuk pergi.


“Pak! Pak!” ucapku membuatnya berhenti dan menatapku.


Aku berjalan menghampirinya dan mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya. “Bapak pacar saya,” ucapku membuatnya melebarkan senyum.


“Kalau gitu, pulangnya sama saya ya?”


Aku mengedipkan mataku, melambaikan tangan lalu melangkah pergi meninggalkannya dengan senyuman yang enggan lepas dari wajahku.


Aku memperlambat langkahku saat sampai di koridor, dengan senyum yang masih menghiasi, aku meraih earphone dari dalam tas dan menyumpalnya di telingaku.


“Tau-lah ya yang lagi kasmaran mah,”


Aku menoleh ke samping kanan dan kiriku saat menyadari Alia dan Yoga yang tengah mengimbangi langkahku.


“Cie yang udah jadian,” ucap Alia menggodaku.


“Cie yang bonceng-boncengan,” timpa Yoga.


Aku tak mampu menahan rona di wajahku. Aku pun terkekeh seraya menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal.


“Jangan salting gitu geh Na,” goda Alia yang semakin membuatku malu.


Aku menggelengkan kepalaku dengan senyuman di wajah. “Udah deh, gue malu,” ucapku membuat keduanya tertawa.


Alia tersenyum lalu merangkul pundakku. “Semoga lo bahagia ya sama Kak Arga. Dan semoga juga dengan adanya Kak Arga, lo bisa lupain masa lalu lo, Na.”


Aku mengangguk dengan senyuman. “Aamiin!”


“Makan bakso yuk?” usul Yoga.


Aku melebarkan mataku. “Lah, lah, kok gue?” tanyaku menunjuk diri.


Alia tertawa. “’Kan lo yang jadian, jadi lo dong yang traktir kita.”


“Setuju! Ya Na ya? Sekali-kali lah. Kapan lagi coba lo neraktir kita berdua?” ucap Yoga membuatku menghela napas dan akhirnya mengangguk.


“Yeee!” teriak keduanya dan berlari menuju kantin lebih dulu.


Aku menggelengkan kepalaku menatap kedua sahabatku tersebut. “Kalau gratisan aja, semangat lorang!”



Sesampainya di kantin, aku melihat Alia dan Yoga sudah duduk di meja. Melambaikan tangan padaku, dan aku pun berjalan menghampiri keduanya.


Namun saat aku melangkahkan kakiku memasuki kantin, beberapa pasang mata pun menoleh ke arahku. Ada yang berbisik, bahkan ada yang mengatakan secara terang-terangan yang membuatku bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.


Ya, apalagi kalau bukan membahas mengenai hubunganku dan Kak Arga yang sudah resmi sebagai sepasang kekasih.


“Udah, nggak usah di dengerin,” ucap Alia saat aku sudah duduk bersama keduanya.


Aku hanya mengangguk. Dan lagipula, aku juga memang tidak mempedulikan mereka yang membicarakanku. Suka-suka mereka saja.


“Mau pesan apa Mbak? Mas?” tanya Mbak Marni, yang melayani dengan membawa buku kecil di tangannya.


“Bakso dua porsi, Mbak,” ucapku pada Mbak Marni.


“Dua-duanya pakai Mie?” tanya Mbak Marni memastikan.


“Mie kuning, Mbak,” jawab Alia dan Yoga bersamaan.


“Gila sih. Bisa kompak gitu, jangan-jangan jodoh lo berdua,” godaku pada keduanya.


“Hih! Amit-amit gue jodoh sama ni upil onta.” Alia bergidik ngeri membuat Yoga tertawa lalu menaruh jarinya di hidungnya.


“Nih, upil nih,” Yoga menjulurkan jarinya pada Alia.


“Ih Yoga! Jorok!” pekik Alia membuat beberapa orang yang ada di kantin pun menoleh ke sumber suara.


“Mulut kaya toak! Diem ngapa,” ucap Yoga yang memang senang menggoda Alia.


“Elo dulu sih, pake ngasih upil lo segala. Menjijikan!” Alia melipat kedua lengannya di depan dada.


Yoga tertawa. “Sok rajin lo!”


“Ih, Yoga!” hentak Alia dengan kesal.


"Apa?!” tanya Yoga menantang.


Alia berdecak. “Diem!”


"Lo juga diem!”


“Elo!”


Aku berdecak kesal lalu mengetukan botol kecap di atas meja membuat keduanya menoleh ke arahku. “Bisa diem ‘kan?” tanyaku membuat keduanya diam dan saling melirik tajam. “Gue doain jodoh, baru tahu rasa lo berdua!”


“ENGGAK!”



Jangan lupa klik like dan tulis komentarnya ya 💙