
“Gaes! Mana ini dosennya?!"
Aku mengetuk-ketukan jemari di atas meja. Bosan, dosen yang mengajar pagi ini belum juga masuk. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi.
“Jadi kuliah nggak sih?” tanyaku pada teman-teman sekelas. Namun jawaban mereka hanya gelengan kepala.
Aku menghembuskan napas kasar. “Tahu gini bawa laptop aja, bisa nulis novel gue,” ucapku lalu menyenderkan kepalaku di atas meja.
“Eh Al, liat geh cowok lo,” Alia menunjukkan ponselnya padaku. Rupanya Kak Arga dan Alia sedang video call.
Aku meraih ponsel Alia dan menatap wajah seseorang yang berada di dalam sana. “Hai,” ucapku pada Kak Arga.
“Lagi ngapain?” tanyanya di seberang sana.
“Nggak lagi ngapa-ngapain,” jawabku yang terlihat malu karena ada Alia disini.
“Kok malu-malu gitu sih, Na?” tanya Kak Arga membuat pipiku semakin memerah.
Alia tertawa. “Malu-lah, orang ada gue disini. Jadi malu mau yayang-yayangan.”
Aku menatap Alia tajam. “Apaan sih Al?”
“Ngaku deh ngaku, mau yayang-yayangan ‘kan lo?” goda Alia sembari menunjuk jemari ke wajahku.
“Ngaco lo!” ucapku membuat Alia tertawa.
Kak Arga ikut tertawa melihat kami berdua.
“Jangan di dengerin ya omongan Alia?” ucapku dan di angguki senyuman oleh Kak Arga.
“Nanti pulang jam berapa kira-kira?” tanyanya.
“Jam empat kayanya,” ujarku.
Kak Arga mengangguk mengerti. “Bareng aku ya? Jangan bareng cowok lain.”
Aku menunjukan ibu jariku. “Siap!”
“Yaudah, jangan capek-capek ya belajarnya. Aku tutup,”
Aku mengangguk. “Jangan capek-capek juga,” ujarku.
Kak tersenyum dan mengangguk. “Assalamualaikum,”
“Wallaikumsalam,” jawabku lalu menyerahkan kembali ponsel milik Alia dengan senyum di wajahku.
Alia menatapku datar. “Seneng vc-an sama pacar? He-em?” tanyanya membuatku tertawa dan mengangguk malu.
“Teman!!!” teriak salah satu teman sekelasku yang bernama Ziko membuat semua menoleh ke arahnya. “Pak Purbi bilang nggak bisa masuk, tapi dia ngasih tugas. Tugasnya udah gue kirim ke grub. Silahkan pulang dan mengerjakan tugas teman-teman!” ucap Ziko meraih tasnya dan keluar dari kelas.
Aku menoleh kepada Yoga dan Alia yang berada di sampingku. “Emangnya kita nanti nggak ada kuliah lagi ya?” tanyaku.
Yoga menggeleng. “Hari ini cuma satu mata kuliah doang, terus siangnya praktik. Dan kalau Pak Purbi nggak masuk, ya kita free sampai sore.”
“Free, Free, gundulmu! Orang kita dapet tugas banyak banget gini,” ucap Alia merengut sebal.
“Jelasinnya cepet banget, kalau ngasih tugas banyak banget. Astagfirullah!” ucap Yoga yang sudah pusing dengan tugas yang ada.
“Itu Ga, yang kata lo free. Makan tuh free!” ucap Alia lalu bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
Aku menoleh. “Mau mana, Al?” tanyaku padanya.
“Ngeprint modul dari Pak Purbi,” ucap Alia lalu berjalan meninggalkan kelas.
Aku menatap Yoga yang masih tenang di bangkunya. “Lo nggak mau ngeprint juga?”
Yoga mengedikan bahu dan menggeleng.
Aku merengut kesal dengan tugas yang ada lalu meraih tasku. “Sana, makan tuh free!” ucapku pada Yoga lalu mengejar Alia yang sudah berjalan lebih dulu.
“Alina, tungguin!” teriak Yoga padaku.
“Kapan sih ngumpul tugasnya?” tanya Yoga begitu kami sampai di tempat biasa kami mengeprint tugas.
“Nanti sore.”
“NANTI SORE?!” teriakku dan Yoga begitu mendengar jawaban Alia.
Alia memutar bola matanya. “Kok kaget. Ya emang nanti sore kok.”
Aku menelan salivaku dengan susah payah, lalu membuka kembali apa yang dikirimkan Ziko ke grup tadi. Dan benar, tugas yang di berikan Pak Purbi harus di kirim paling lambat jam Lima sore.
“Gagal deh, Alina maen sama cowoknya,” ucap Yoga yang rupanya memperhatikan perubahan raut wajahku.
Alia menoleh, "Yang sabar ya, Na."
Aku merengut sebal lalu menarik kursi dan mendudukan diriku sana.
Tempat ini begitu ramai, jadi kami harus mengantri panjang. Sebenarnya bisa saja aku mengeprint modul ini di rumah, tetapi tintaku habis dan aku malas untuk membelinya. Sebab aku lebih sering mengeprint tugas di kampus daripada di rumah. Jadi, biarlah aku mengantri lama.
“Abis ngeprint ini, ngerjain tugas di kafe Angkasa yuk?” ajak Alia.
“Kafe itu tempat nongki, bukan tempat study!” tukas Yoga membuat Alia menatapnya tajam.
“Ada masalah hidup apa sih lo Ga? Perasaan salah mulu gue di mata lo.” Alia mendudukan dirinya di sampingku.
Aku menghela napas. “Gue bilang juga apa, lo berdua kalau gini terus yang ada jodoh!”
Alia bergidik ngeri. “Ogah gue berjodoh sama Yoga!”
“Awas! Entar lama-lama lo jatuh cinta sama gue,” ucap Yoga lalu tertawa.
Aku terkekeh lalu meraih ponselku yang berada di dalam saku. Pacarku menghubungiku, hehe.
Jangan lupa klik like dan tulis komentarnya ya ❤️