
Aku menatap lurus ke depan memandang debur ombak seraya merenung di bibir pantai.
Mendengar ucapan Kavin tadi, cukup membuatku sadar jika aku memang sudah tak ada lagi di hati Kavin. Semua telah di gantikan oleh Nabila. Nabila memang pantas untuk mendapatkan Kavin, karena memang Nabila-lah yang selalu ada untuk Kavin, bukan aku.
Aku meraih batu karang dan melemparkannya sejauh mungkin.
Hancur, mungkin itu kata yang pantas untuk mewakili perasaanku. Ketika aku berharap besar kepada seseorang, namun ternyata ia tak mengharapkanku.
Aku bodoh. Namun aku tidak pernah menyesal mencintai Kavin. Bahkan sejauh apapun dan dengan cara apapun Kavin memintaku untuk melupakannya, aku tak akan pernah bisa melakukannya. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tetapi, jika Kavin memintaku untuk pergi, aku akan melakukannya.
Aku pergi bukan berarti untuk melupakannya.
Aku menghela napas dan menatap ke langit yang perlahan mulai berwarna orange.
Aku sengaja duduk disini karena Kak Arga bilang dia akan menemuiku disini.
"Alina!"
Aku menoleh begitu Alia menghampiriku.
"Gawat, Na. Kak Arga berantem sama Kavin,"
Aku melebarkan mataku lalu berdiri. Aku terlalu panik dan langsung mengikuti langkah Alia menuju keberadaan Kak Arga dan Kavin sekarang.
Dan benar apa yang di katakana Alia, Kak Arga dan Kavin dengan bertengkar hingga saling melukai satu sama lain.
"Gue udah bilang sama lo, jangan lo sakitin Alina terus-terusan! Dia cukup menderita setelah kepegian lo!" Kak Arga menarik kerah baju Kavin.
"Kalau lo emang suka sama Alina, ambil! Gak gini caranya!"
Kak Arga berdecak, "Berengsek!"
Bugh!
Satu pukulan berhasil melayang ke wajah Kavin. Namun tak membuat mereka menyudahi perkelahian ini. Hal itu malah semakin membuat Kavin geram dan ingin membalasnya.
Melihat Kavin akan membalasnya, Kak Arga pun semakin menarik kerah baju Kavin.
"BANG! STOP BANG! APA KATA MAMA KALAU LIAT ABANG KAYA GINI?" Alia berteriak membuatku menoleh ke arahnya dengan penuh tanya.
Apa maksudnya memanggil Arga dengan sebutan Abang? Dan Mama? Mereka kakak beradik?
Bugh!
Kavin membalas pukulan Kak Arga hingga membuat darah mengalir dari ujung bibir Kak Arga.
Aku yang melihat hal tersebut pun tak bisa tinggal diam. Aku berlari menghampiri mereka dan memeluk Kak Arga membuat Kavin mundur dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
"Gue gak papa," bisik Kak Arga sembari mendorongku pelan dan menyuruhku untuk berada di sampingnya.
Aku menatap Kavin dengan tatapan terluka, "Gue gak nyangka, Vin." Aku beralih ke Kak Arga, "Ayo Kak," ucapku mengajaknya pergi dari sini.
"Kenapa bisa gini sih, Kak?"
"Aw, aw, pelan-pelan Na, sakit tau!" Kak Arga memegang ujung bibirnya yang baru saja akan aku obati.
"Ya beda urusannya, Na."
Aku menghela napas, "Kenapa sampai kaya gini sih, Kak?"
Kak Arga menatap ke depan, aku yang berada di sampingnya hanya bisa menunggunya berbicara. "Gue yang salah, Na. Gue yang duluan ngehajar dia." Kak Arga menatapku dengan tatapan terluka. "Tapi gue ngelakuin itu karena gue gak rela dia nyakitin lo, Na."
"Gue gak papa, Kak."
Kak Arga menggeleng serta tersenyum kecut, "Lo bohong banget, Na. Gue tahu lo sebenarnya lo hancur, lo terluka. Gue juga tahu Na kalau lo orang yang kuat, tapi lo gak bisa nutupin semua ini."
Aku tersenyum getir, "Lo gak tahu gue, Kak."
Kak Arga menggeleng, "Gue tahu lo, Na. Meskipun gue kenal lo belum lama."
Aku menatapnya, "Karena menurut lo gue mirip Amara?"
Kak Arga menggeleng, "Oke, gue salah. Gue selama ini salah karena udah nyamain lo sama Amara. Tapi semakin gue kenal lo, gue semakin sadar kalau lo emang beda jauh dengan Amara, Na."
"Yaudahlah, Kak. Lupain soal itu."
"Tapi gue gak rela Na kalau Kavin nyakitin lo. Gue gak rela cewek yang gue suka dengan mudahnya dia patahin hatinya."
Aku terdiam. Entah mengapa perasaanku semakin tidak enak. Aku gugub, namun bukan gugub karena aku memiliki rasa yang sama dengan Kak Arga. Melainkan rasa gugub yang membuatku semakin tidak nyaman berada di sini.
"Gue suka sama lo, Na." Kak Arga semakin memperjelasnya.
Aku terdiam dan menunduk. Aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan.
"Em, Kak, gue boleh nanya sesuatu? Soal Alia," Aku sengaja mencari topik lain.
"Alia adik gue. Kami tiga bersaudara. Kakak kami namanya Kak Dimas, lo pasti udah tahu. Dan Alia adik gue satu-satunya. Dia sengaja ngerahasian ini. Bukan ke lo aja, tapi ke semuanya yang satu kampus dengan dia. Gue gak tahu apa motif dia ngerahasiain semua itu."
Jawaban Kak Arga cukup membuatku mengerti. Jadi ini alasan mengapa Alia selalu tahu mengenaiku dan Kak Arga?
"Alia pasti udah cerita ke lo kalau gue mau nembak lo,"
Aku mengangguk.
Kak Arga tiba-tiba meraih tanganku dan di genggamnya, "Lo mau gak jadi pacar gue?"
Jeng! Jeng! Jeng!
Menurut kalian, enak Alina terima atau enggak ya?
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------