Started Without Love

Started Without Love
SWL 45




Semua orang yang berada di halte telah pergi dan tinggal menyisahkanku sendiri di sini. Aku menunduk dan melangkah kembali ke halte. Perasaanku sedang kacau dan aku tak ingin pulang ke rumah dengan keadaanku seperti ini.


Aku mendudukkan diriku di kursi tadi dan menunduk. "Gue emang cewek bodoh! Kenapa gue mudah banget di bodohin?! Lo bodoh Alina! Lo bodoh!" teriakku frustasi.


"Gue yang bodoh, Alina."


Aku menoleh dan melebarkan mataku saat ia melangkah menghampiriku.


"Kavin?" ucapku saat Kavin tiba dihadapanku.


Kavin berjongkok dan meraih tanganku. "Maafin gue," lirihnya.


Aku menatap Kavin dengan tatapan terluka.


"Maafin gue, Alina. Ini semua salah gue," ucapnya lagi.


Aku menggeleng dan tak kuasa untuk membendung air mataku. Aku mendongak ke atas berupaya agar air mataku tidak jatuh. Namun percuma, air mata itu tetap jatuh.


Kavin bangkit dan berdiri di hadapanku. Ia kembali meraih tanganku dan memintaku berdiri.


Aku mengikuti perintahnya untuk berdiri dan ia pun langsung menarikku ke dalam pelukannya.


Aku menangis sejadi-jadinya. Air mataku tak bisa ku tahan lagi. Tangisku pecah begitu saja. Kavin mengusap punggungku dan mencoba menenangkanku. Aku merasakan kehangatan dalam pelukannya.


"Nangislah sepuas lo, gue bakal tetep disini." Kavin mengusap pucuk kepalaku dan di kecupnya.


"Sekali lagi maafin gue Na," ucapnya dengan suara parau.


Aku semakin terisak dan memeluknya erat. "Gue sayang lo, Vin. Gue cuma cinta sama lo. Kenapa lo nyuruh gue lupain lo?! Gue cinta sama lo!"


Kavin melepas pelukannya dan menatapku dengan tatapan terluka. "Maafin gue, Na. Gue pikir dengan lo lupain gue, gue juga bisa lupain lo. Ternyata gue salah, gue cuma cinta sama lo, Na. Nggak ada yang lain. Maafin gue, Na."


Aku kembali ke pelukannya dan menangis di dada bidangnya.


"Gue sayang lo, Vin!"


Kavin mengangguk, melepas pelukanku dan menatapku. "Gue juga sayang lo, Na." Kavin menyeka air mataku.


Aku kembali memeluknya dan menangis sepuas mungkin.


Cukup lama aku menangis di dada bidangnya. Setelah tangisku reda, aku memilih duduk di sampingnya dan memilih diam. Aku malu untuk mengeluarkan sebuah kalimat setelah menangis di pelukannya.


Hingga, tangannya kembali meraih tanganku dan menggenggamnya dengan hangat.


"Jadi pacar gue ya Na, kita mulai dari awal."


Aku menoleh dan menatapnya.


Kavin menghela napas dan menatapku penuh harap. "Kita lupain semuanya. Kita mulai dari awal. Lo mau 'kan?"


"Tapi, Vin," ucapku.


"Lupain semuanya Na. Lupain semua masalah yang pernah kita lewatin."


Aku menatap matanya dan mencari kebohongan disana. Namun, lagi-lagi aku tak menemukannya. Ia kembali bangkit dan berdiri di hadapanku.


Aku menatapnya lekat, aku mengangguk mantap dan kembali ke pelukannya. "Janji ya Vin, jangan pernah pergi lagi. Seberat apapun masalah lo, gue akan tetap di samping lo."


"Iya, Na. Gue janji," Kavin mengusap kepalaku dengan lembut.


"Seberat apapun masalah, kita harus tetep sama-sama Vin."


"Iya, Na. Lo sayang gue 'kan, Na?"


Aku mendongak menatapnya nanar, "Kalau gue gak sayang, kenapa gue minta lo untuk jangan pergi?"


Kavin tersenyum dan mengacak rambutku gemas, "Gue nyesel udah ninggalin cewek kaya lo!"


"Suruh siapa pergi tanpa alasan!" Aku mengerucutkan bibirku membuatnya terkekeh dan mencubit pipiku dengan gemas.


"Alina nyebelin!"


"Kavin ngeselin!"


"Tapi cinta?"


"Cinta dong!"


"Sayang 'kan?"


"Sayang banget!"


"Masa? Boong gak?"


Aku menatap Kavin tajam, "Gak percaya aja terus!" Aku mendumal membuatnya tertawa renyah dan kembali mengacak rambutku dengan gemas.


"Gemes banget cih!" ucapnya lalu menarikku ke dalam derasnya hujan. "GUE BAKAL BUAT LO GAK BENCI LAGI SAMA HUJAN!"


"KALAU GUE MALAH BENCI SAMA LO GIMANA?"


"GAK MUNGKIN!"


"KENAPA GAK MUNGKIN?"


"'KAN LO CINTA SAMA GUE!"


Aku tertawa dan menari di bawah derasnya hujan bersama Kavin. Kavin tersenyum lembut dan memeluk dari belakang.


Aku tersenyum bahagia. Derasnya hujan tak lagi membuatku terluka. Malah sebaliknya, hujan ini menciptakan kebahagiaan tersendiriku untukku dan dirinya.


Dan benar, memang hanya dialah yang aku butuhkan.


Kavin Artana.



Jangan lupa klik ♥️ dan tulis komentarnya ya!