
"Baik dengarkan semuanya!" Kak Arga membuka bicara, "Sekarang kita akan membagi menjadi beberapa bagian. Untuk tenda A sampai tenda F berkumpul membuat lingkaran dengan Kak Anisa, silahkan ikuti Kak Anisa. Untuk tenda G sampai tenda L tetap disini. Untuk tenda M sampai tenda R berkumpul membuat lingkarang dengan Kak David, silahkan ikuti Kak David. Untuk tenda S sampai tenda Z berkumpul membuat lingkarang dengan Kak Hani, silahkan ikuti Kak Hani."
"Kita tetep disini 'kan?" tanya Latifa yang langsung aku angguki.
Kak Arga kembali meraih mic-nya, "Baik, untuk tenda G, H, I, J, K, L, silahkan kalian membuat lingkaran dengan ketua kelompok berada di sisi kanan."
Aku bangkit dari dudukku dan pindah ke sisi kanan serta membuat lingkarang dengan kelompok lain.
"Ketua kelompok, ya?" tanya laki-laki di sebelahku yang berasal dari kelompok lain.
Aku mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaannya.
"Baik, kita mulai. SELAMAT MALAM SEMUANYA?" Kak Arga memberikan sapa kepada kami.
"Malam, Kak!" jawab kami serempak.
"Kurang semangat, SELAMAT MALAM SEMUANYA?!"
"MALAM, KAK!" jawab kami tak kalah semangat.
Kak Arga tertawa, "Baik, jadi kita mau ngapain ini?"
Aku menoleh ke sisi kanan dan kiriku karena tak tahu apa yang akan kami lakukan.
Kak Arga tampak berfikir sebelum melanjutkan ucapannya "Gimana supaya menambah semangat kita malam ini, kita bikin pertunjukan dari setiap kelompok. Sorry, maksudnya tenda. Kita nyebutnya tenda aja ya? Supaya enak dan urut."
"Iya, Kak!"
Kak Arga tersenyum, "Setuju ya kalau kita buat pertunjukan dari setiap tenda? Jadi, setiap tenda harus ada perwakilan untuk menunjukan bakatnya masing-masing."
"Kak, mau nanya!" ucap salah satu dari kami.
Kak Arga menoleh ke arahnya, "Iya, ada apa?"
"Pertunjukannya bebas 'kan, kak?" tanyanya.
Kak Arga mengangguk, "Iya, bebas."
"Jadi boleh dong kalau kita nampilin reog?"
Kak Arga menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, "Ya boleh aja sih, tapi mending gak usah deh, ini malem." ucap Kak Arga membuat kami semua tertawa. "Oke, kakak kasih waktu lima belas menit ya untuk kalian siapin sesuatu apa yang bakal kalian tampilin."
Aku menghela napasku panjang dan menoleh ke sisi kananku dan menatap seseorang yang tengah membicarakan sesuatu dengan lawan bicaranya.
'Gue kangem lo, Vin!' batinku.
"Na, Na, Alina!" panggil seseorang membuatku menoleh. Rupanya Latifa memanggilku. Aku menatapnya seraya menaikan kedua alisku.
"Lo, yang, maju, ya?" ucapnya.
Aku mengerutkan keningku, "Hah? Gue?"
"Iya, Na. Udah lo aja," ucap Umi yang juga satu tenda denganku.
"Kok gue sih? Gue mau nampilin apa coba?" tanyaku yang tak siap jika harus maju untuk menampilkan sesuatu.
"Udah, apa aja. Kita semua percaya sama lo, lo bisa nampilin yang terbaik." Umi berusaha meyakinkanku agar aku mau.
"Tapi gue gak punya bakat apa-apa Mi," ucapku berusaha menolak.
"Tes! Tes! Baik, bagaimana? Kalian sudah siap?" tanya Kak Arga.
"SIAP, KAK!" jawab mereka dari tenda lain yang sepertinya sudah siap untuk menampilkan sesuatu. Sedangkan tendaku, kami masih bingung apa yang harus kami tampilkan.
Kak Arga tampak menghela napas, "Baik, untuk yang menggunakan alat musik, disini kami sudah sediakan gitar dan biola. Kita langsung mulai saja ya. Untuk tenda G, silahkan!"
Seorang perempuan berbaju kuning maju ke depan menghampiri Kak Arga membuat semua mata tertuju padanya.
"Dari tenda G?" tanya Kak Arga.
Perempuan itu tersenyum, "Iya, Kak."
Kak Arga mengangguk mengerti, "Mau nampilin apa?" tanya Kak Arga lagi.
"Dance, Kak."
"Oke, silahkan!" ucap Kak Arga mempersilahkan diri.
Perempuan itu memilih salah satu musik yang sudah ia siapkan. Tak lama musik itu mengalun bersamaan dengan perempuan itu yang mulai menampilkan gerakan-gerakan yang sepertinya memang sudah ia hafal.
Setelah perempuan itu selesai, perwakilan-perwakilan dari tenda lain pun mulai menunjukan penampilannya. Dan kinilah tersisa dua tenda lagi yang belum menampilkan pertunjukkannya. Yaitu tendaku dan tenda Kavin.
"Ayo, Na, maju," ucap Latifa dan yang lainnya yang juga satu tenda denganku.
Kak Arga berdeham, "Ayo, kini giliran tenda K, silahkan maju ke depan."
Aku menatap teman-temanku dengan perasaan tak yakin. Namun mereka menatapku dengan penuh harap agar aku mau maju.
"Please, Na. Lo pasti bisa!" bisik Umi yang berada di sebelahku.
Aku menghela napas panjang dan menatap sekeliling. Dengan rasa ragu, aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke depan.
Semuanya bersorak ria begitu aku sampai di hadapan Kak Arga. Mereka semua besorak karena mereka sudah mengetahui tentang kedekatanku dengan Kak Arga. Apa juga bingung mengapa rumor mengenai kedekatanku dengan Kak Arga cepat menyebar. Padahal kami berdua tidak memiliki hubungan spesial. Tapi aku yakin, mungkin karena kepopuleran Kak Arga dan ditambah lagi di seorang ketua BEM membuat rumor ini cepat menyebar.
"Alina. Mau nampilin apa?" tanya Kak Arga padaku.
"Aku mau bawain sebuah lagu, kak," jawabku.
Kak Arga tersenyum, "Oke, mau pakai alat musik apa?"
Aku tampak berpikir, mungkin jika aku menggunakan alat musik akan lebih baik. Namun sayangnnya aku tak bisa menggunakan alat musik. Aku pun beralih ke kelompokku seraya memberi kode. Namun sepertinya mereka tidak ada yang bisa juga.
"Bagaimana? Apakah dari kelompok Alina ada yang bisa mengiringi musiknya?" tanya Kak Arga namun mendapat gelengan kepala dari kelompokku.
Aku terdiam sejenak. Jika aku menggunakan instrument, aku belum menyiapkan instrumennya. Dan ini akan membutuhkan waktu yang lama. Aku menghela napas dan memutuskan untuk menyanyi tanpa iringan musik.
"Saya aja yang main alat musiknya!"
Aku tersentak dan menoleh ke sumber suara begitu mendengar Kavin mengatakan hal itu. Semua mata menatap ke arah Kavin. Begitu pun Kak Arga dan Nabila.
Kavin bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku dengan gitar yang ia bawa sendiri.
Aku menatap Kavin dengan tatapan sendu.
Kavin membalas tatapanku sebentar dan bertanya, "Mau nyanyi apa?"
"Kisahku dari Brisia Jodie," jawabku tak yakin akan menyakikan lagu itu dengan di temani Kavin yang mengiringi musiknya.
Padahal niat awalku memilih lagu itu karena lagu itu sangat cocok dengan kisahku saat ini, terutama dengan Kavin. Namun aku tidak berpikir sampai Kavinlah yang akan mengiringi musiknya.
Aku menunduk dan berusaha membuang rasa gugubku. Lalu menoleh ke arah Kavin member kode jika aku sudah siap.
Aku menghela napas panjang dan mulai menyanyikan.
"Pagi ini aku bermimpi
Akankah jadi kenyataan
Bisanya kau mengubah rasa
Jadi makin cinta
"Apakah rasamu kan sama
Ku harap kau pun rasa
Namun ku sadari akhirnya
Kamu tidak cinta
"Cukup aku rasakan ini
Cukup aku rasakan ini
Sakit sekali
Sakit sekali
"Tak usah kau tanyakan lagi
Tak usah kau hindari lagi
Dan hingga kini
Kusendiri lagi
Kini.."
Sesekali aku menoleh ke arah Kavin yang sepertinya paham dengan lirik lagu yang aku bawakan.
"Pertama kau bilang kau cinta
Tapi kamu tak cinta
Bagaimana bisa ku percaya
Kata-katamu itu
"Cukup aku rasakan ini
Cukup aku rasakan ini
Sakit sekali
Sakit sekali
"Tak usah kau tanyakan lagi
Tak usah kau hindari lagi
Dan hingga kini
Kusendiri lagi
"Kini kau pergi meninggalkan luka ini
Sesuka hati kau permainkan rasaku
"Cukup aku rasakan ini
Cukup aku rasakan ini
Sakit sekali
Sakit sekali
"Tak usah kau tanyakan lagi
Tak usah kau hindari lagi
Dan hingga kini
Kusendiri lagi
"Cukup aku rasakan ini
Kau sudah bersama yang lain lain
Sakit sekali
Sakit sekali
"Tak usah kau tanyakan lagi
Tak usah kau hindari lagi
Dan hingga kini
Kusendiri lagi
Kini"
Aku menunduk berusaha menutupi luka karena terlalu terbawa perasaan oleh lagu tersebut. Mungkin sedikit terdengar lebay, namun aku benar-benar terlalu terbawa perasaan.
Semua mata menatap ke arahku dengan senyum serta tepuk tangan yang mereka berikan. Namun ada tiga pasang mata yang menatap ke arahku dengan tatapan terluka. Tak perlu ku sebutkan, kalian pasti sudah tahu siapa mereka.
"Sorry," bisik Kavin di telingaku sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------