
"ALINA!"
Aku terdiam lalu menoleh ke arah pintu membuat beberapa orang yang berada di kelas pun ikut menoleh.
"Kak Arga," batinku.
Ia melangkah menghampiriku. Aku pun segera bangkit saat ia telah sampai di hadapanku.
"Kak, ngapain kesini?" tanyaku seraya mengajaknya untuk keluar karena teman-teman sekelas memperhatikan kami berdua.
"Aku mau ngomong sama kamu, Na," ucapnya mencoba menahan agar aku tidak membawanya keluar.
Aku mengangguk, "Di luar aja."
Ia pun mengalah dan mengikuti berjalan keluar kelas. Aku membawanya pergi sedikit jauh dari kelasku. Bukan apa, aku tak ingin mendengar mereka yang tengah membicarakan kami berdua. Dan aku tak ingin mereka tahu apa yang tengah terjadi antara aku dan Kak Arga.
"Yaudah ngomong," ucapku tanpa berbasa-basi lagi.
Kak Arga menghela napas dan mencoba meraih tanganku. Namun dengan cepat, aku segera menyingkirkan tangannya.
"Na, kamu jangan marah dulu,"
"Gimana aku nggak marah? Kamu udah bohongin aku!"
"Na, dengerin aku dulu,"
"Kamu semalem kemana?" tanyaku kesal.
"Aku nggak kemana-mana," ucapnya.
"Terus kenapa kamu ninggalin aku? Karena Amara? Iya?"
Kak Arga terdiam.
"Iya 'kan karena Amara?"
Kak Arga masih diam. Ia tak mengatakan sepatah kata pun.
"Bener 'kan? Kak jawab!"
Kak Arga mengangguk akhirnya.
Aku tersenyum miring. "Kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanyanya.
"Kenapa menghindar? Malu pacaran sama aku?"
"Bukan gitu, Na."
"Terus kenapa kamu menghindar saat ada Amara. Takut ketahuan kalau sekarang kamu pacaran sama aku? Iya?"
Ia terdiam.
Aku melipat kedua lenganku dan membuang tatapanku ke arah lain. "Udahlah, aku pergi aja. Nggak ada lagi 'kan yang mau dijelasin?"
Ia tetap diam. Padahal aku berharap ia memanggilku dan menjelaskan semuanya.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, aku berjalan meninggalkannya. Namun ia tak juga memanggilku.
Sudahlah! Aku tidak peduli.
Deg!
Jantungku berdegub begitu kencang. Kak Arga memelukku dari belakang.
"Maafin aku," ucapnya lirih.
Entah mengapa tiba-tiba aku luluh di buatnya. Aku diam, memberinya jeda untuk kembali bicara.
Kak Arga melepas pelukannya, dan mencoba membuatku membalikan tubuh dan menatapnya.
Aku menatap matanya. Dadaku terasa sesak.
"Maafin aku ya? Aku janji nggak akan ngulangin lagi. Aku janji nggak akan pergi gitu aja."
Aku menghela napas dan mengangguk.
Kak Arga tersenyum kembali memelukku. "Makasih ya? Aku janji nggak akan buat kamu marah apalagi kecewa."
"Yakin bisa pegang janji itu?" tanyaku.
Kak Arga mengangguk mantap.
Aku tersenyum dan mencoba melupakan apa yang sudah terjadi.
Melihatku tersenyum, ia pun ikut tersenyum dan mengacak pucuk kepalaku dengan gemas. "Aku sayang sama Alina."
"Aku juga," balasku.
"Juga apa?" tanyanya dengan gaya tengilnya.
"Sayang," jawabku.
"Sayang sama siapa?" godanya.
"Sama kamu."
"Aku siapa?"
"Pacarku. Hehe," jawabku membuatnya tertawa dan kembali mengacak pucuk kepalaku dengan lembut.
"Jangan ngambek mulu ya?"
Aku mengangguk dan mengacungkan ibu jariku. "Siap Pak ketua!"
Ia terkekeh melihatku. "Oh iya, hari ini kamu pulang jam berapa?" tanyanya.
"Jam empat kayanya," jawabku.
"Yah," ucapnya membuatku penasaran.
"Kenapa emangnya?" tanyaku.
"Hari ini aku ada rapat BEM."
Aku mengangguk mengerti. "Yaudah, kamu rapat aja. Aku nanti pulangnya gampang, 'kan bisa pesen ojek online."
"Nggak papa?" tanyanya.
Aku tertawa. "Ya nggak papa-lah, emangnya kenapa?"
Kak Arga akhirnya mengangguk dan tersenyum. "Yaudah, kalau gitu aku balik ke jurusanku ya?"
"Ku kira kamu mau pindah ke jurusanku," ucapku membuatnya tertawa.
"Akhirnya udah bisa ngelawak," ucapnya sembari merapihkan tasnya dan berjalan pergi.
"Hati-hati!" teriakku dan di anggukinya.
Setelah ia pergi dan tak terlihat lagi, aku pun kembali ke kelas. Dan dalam hati aku berkata, "Alina, Alina, mudah banget maafin orang."
Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!