
Aku turun dari bis dan melihat sebuah pemandangan yang ada. Indah, mungkin kata itulah yang cocok untuk aku ucapkan atas apa yang aku lihat saat ini. Lebih lagi, sudah lama aku tidak pergi ke pantai. Dan untuk kali ini, aku akhirnya bisa menginjakkan kakiku di pasir yang dominan berwarna putih ini.
Panitia sengaja memilih pantai sebagai tempat berlangsungnya di adakan makrab. Selain tempatnya yang indah, kita semua bisa bersama-sama menyaksikan sunset.
"Baik, untuk semuanya, silahkan berkumpul dengan kelompok masing-masing. Silahkan pilih ketua kelompok dan ke depan untuk pembagian tenda," seru Kak Arga selaku ketua pelaksana.
"Siapa yang mau jadi ketua?" tanya Latifa yang merupakan bagian dari kelompokku.
"Alina aja," ucap Nabila menunjukku.
"Hah? Kok gue?" tanyaku.
Latifa mengangguk, "Iya, Alina aja. Kayanya dia lebih cocok buat jadi ketua."
Aku mengerutkan keningku, "Kok gue si?"
"Udah, lo aja," Nabila mendorongku pelan untuk maju ke depan.
Akhirnya dengan langkah terpaksa, aku maju ke depan untuk memilih tenda mana yang akan kelompokku gunakan.
Kak Arga mengulas senyumnya begitu aku sampai di hadapannya, "Jadi ketua kelompok?"
Aku menganggguk.
Kak Arga tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya ke arahku sehingga menghapuskan jarak di antaranya kami. "Saat sunset nanti, jangan lupa temui gue di ujung sana ya," bisiknya seraya menunjuk bibir pantai.
Aku yang sudah gugub karena ulahnya pun hanya bisa mengangguk. Namun tanpa aku sadari, rupanya Kavin sudah berada di antara kami.
"Ekh-em," Kavin berdehan membuat Kak Arga menoleh ke arahnya.
"Ketua kelompok?" tanya Kak Arga padanya.
"Iya," jawab Kavin seadanya.
Aku yang sedari tadi menatapnya pun membuatnya menoleh ke arahku dan menatapku datar dan dingin. Aku ingat sekali, tatapan inilah yang Kavin tunjukkan saat kami pertama bertemu.
"Oke, berhubung semua kelompok sudah berada di sini semua. Jadi saya akan meminta kalian masing-masing untuk mengambil satu kertas yang berisikan tenda mana yang akan kelompok kalian gunakan." Kak Arga memberikan sebuah mangkuk besar berisikan kertas.
Kak Arga memberikan mangkuk itu padaku terlebih dahulu, dan aku pun segera mengambilnya.
"Kelompok Angkasa dapet tenda K, kak," ucapku pada panitia yang mencatat tenda kelompok.
"Kelompok Bumi tenda L, kak," timpa Kavin membuatku menoleh ke arahnya.
Jadi, tenda Kavin bersebelahan dengan tendaku?
Setelah semua ketua kelompok menyebutkan tendanya, kami semua pun di arahkan untuk menuju tenda masing-masing.
Gugub, mungkin inilah yang aku rasakan. Bersebelahan dengan orang yang aku rindukan namun tak berani mengucapkan sepatah katapun.
Saat aku sampai di tendaku, aku segera memastikannya jika tendaku cukup aman untuk kami gunakan. Aku pun memanggil kelompokku untuk datang dan mempersiapkan semuanya untuk kami bermalam disini.
"Untung tendanya besar, jadi cukuplah untuk kita berdelapan," ucap Afira yang juga satu kelompok denganku.
"Yaudah yuk, masuk. Kita taruh barang-barang kita," ucapku dan diangguki oleh mereka, tak terkecuali Nabila.
Setelah mereka semua masuk ke dalam, aku pun berniat ikut ke dalam, karena aku juga perlu memasukan barang-barangku. Namun, saat aku akan masuk, tanganku ditahan. Aku menoleh dan menampilkan wajah Kavin.
"Ikut, gue." Kavin menatapku masih tanpa ekspresi sedikit pun.
Aku melihat ke dalam memastikan jika Nabila sudah di dalam dan tidak melihat kami berdua. Mau bagaimana pun, aku tak ingin dikatakan sebagai wanita penganggu.
Kavin menarikku menjauh dari tenda dan juga dari keramaian.
"Sebegitu bencinya lo sama gue?" Aku menatap punggungnya dengan senyum getir.
Kavin membalikan tubuhnya dan menatapku. "Gue benci, Na. Gue benci sama diri gue. Gue benci karena gue udah buat luka di hati lo."
Aku menggeleng namun aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Kavin menatapku lekat, "Lupain gue, Na."
Aku menggeleng dan tersenyum kecut, "Gak! Gue gak akan lupain lo. Gue cinta sama lo, Vin. Gue gak bisa lupain lo."
"Terima Arga, Na. Gue yakin dengan itu lo bisa lupain gue. Seperti yang lo lakuin untuk ngelupain Rafa dulu."
Aku menggeleng, "Enggak, Vin. Gue gak bisa."
"Lo pasti bisa, Na. Lo pasti bisa lupain gue. Lo aja bisa lupain Rafa, kenapa lo gak bisa lupain gue?" Kavin menatapku membuat dadaku terasa sesak.
"Lo beda, Vin."
Kavin menggeleng, "Gue sama aja kaya cowok yang ada di luaran sana, Na. Gue sama aja sama cowok di luaran sana yang cuma bisa bikin sakit hati."
"Enggak, Vin. Lo beda."
"Na, apa lagi yang harus gue lakuin supaya lo benci sama gue?"
"Gue gak bisa benci sama lo, Vin. Mau cara apapun yang lo lakuin, gue gak akan bisa benci lo. Karena gue cinta sama lo, Vin!"
"Tapi gue enggak, Na!"
Aku terdiam.
Sakit? Tentu!
Aku menatap matanya, "Apa itu semua karena Nabila?" tanyaku dengan perasaan yang begitu sakit. Aku berusaha menahan tangisku dan berusaha menerima jawaban Kavin.
Kavin diam namun akhirnya mengangguk.
Aku tersenyum getir, "Jadi karena Nabila lo minta gue lupain lo?"
Kavin mengangguk. Aku tak mampu lagi menahan air mataku. Air mataku jatuh, namun aku segera menyekanya.
Kavin menarikku ke dalam pelukannya dan aku tak mampu menahannya ataupun menolaknya. Karena ini yang sebenarnya aku mau.
"Maafin gue, Na."
Aku menarik tubuhku dari pelukannya dan tersenyum. "Semuanya udah selesai. Semoga lo bisa bahagia sama Nabila. Gue minta maaf karena udah bikin lo gak tenang. Maafin gue juga kalau selama ini selalu ngerepotin lo." Aku tersenyum lalu melangkah pergi dengan membawa luka.
Jika kalian menanyakan bagaimana perasaanku saat ini, mungkin aku hanya bisa menjawab dengan senyum getir. Perasaan ini terlalu sakit untuk aku deskripsikan. Bahkan jika aku diberikan kertas putih dan pena untuk menuliskan perasaanku saat ini, mungkin aku hanya bisa menulis tanda seru. Seruan dimana jika aku sangat terluka. Seruan jika aku sangat membenci diriku karena aku tak bisa menahannya untuk tetap disini.
Untuk kalian yang berharap aku tetap bersama Kavin. Maafkan aku, aku tak bisa merealisasikannya. Ini hati. Hati tak bisa di paksakan. Aku tak bisa mewujudkannya jika hanya aku saja yang menginginkannya.
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------