Started Without Love

Started Without Love
SWL 15




Ku pikir, cinta tahu kemana ia harus kembali. Ku pikir cinta tahu kemana ia harus menatap. Ku pikir, cinta tahu kemana ia harus pulang. Ku pikir, cinta itu indah. Namun aku salah!


Dengan langkah kecewa aku bejalan menuju taman. Sedih, ku pikir aku bisa bertemu lagi dengan Kavin. Ternyata aku salah. Semua hanya ilusiku saja. Kavin tak ada disini, dan Kavin tak mungkin ada disini.


Ia sudah pergi. Ia sudah pergi dengan meninggalkan luka.


"Alina,"


Deg!


Aku menoleh,


"Ka-Kavin?"


Kavin tersenyum.


"Kavin, ini beneran lo?" ucapku yang masih tak menyangka jika orang yang berada di hadapanku adalah Kavin Artana. Laki-laki yang aku cintai.


Kavin tersenyum, "Iya, ini gue."


Aku menggeleng tak percaya dan menyentuh wajahnya, "Gak, gak mungkin. Ini bukan mimpi 'kan? Ini beneran lo 'kan?"


Kavin tetap tersenyum, "Iya, Na. Ini gue, Kavin Artana. Cowok tengil yang selalu gangguin lo."


Aku masih saja tak percaya, yang jelas semua ini seperti mimpi. "Ini beneran lo? Iya, ini beneran lo. Ini beneran Kavin," ucapku yang masih memegang wajahnya memastikan jika ini bukan mimpi. Tanpa sadar air mataku jatuh.


Kavin tersenyum dan menarikku ke dalam pelukannya.


"Maafin gue ya, Na?" ucapnya seraya mengusap rambutku dengan lembut.


Aku menangis, "Kenapa lo pergi ninggalin gue?"


Kavin melepasku dari pelukannya lalu menyeka air mataku, "Gue minta maaf Na karena udah pergi tanpa pamit dulu sama lo. Gue gak mau bikin kebahagiaan lo sama Rafa hancur lagi. Gue seneng liat lo balikan sama Rafa. Karena gue yakin di bisa bikin lo bahagia."


Aku menggeleng, "Enggak, Vin. Lo salah. Itu semua gak bener. Gue gak balikan sama Rafa."


"Bukannya di kafe itu Rafa ngajakin lo balikan?" ucap Kavin yang ternyata saat itu ia berada di kafe yang sama denganku dan Rafa. Namun sepertinya Kavin belum mendengar semuanya.


Aku mencoba menceritakan padanya tentang apa yang terjadi saat di kafe itu.


#Flashback On


"Aku minta maaf karena selama ini aku gak mau dengerin penjelasan dari kamu," ucapku pada Rafa.


"Aku juga minta maaf karena waktu itu aku bukannya nemuin kamu malah jemput Kak Rina."


Aku mengangguk, "Gak papa. Memang seharusnya kita utamain keluarga dulu, baru pacar."


"Aku boleh nanya sesuatu?"


"Silahkan," ujarku.


"Sebenarnya kamu sama Kavin beneran jadian atau enggak?" tanya Rafa yang membuatku terbatuk.


Aku menggeleng.


"Tapi kamu cinta sama dia? Na, kamu mau kan balikan sama aku lagi?"


Aku menghela napas, "Raf, aku minta maaf. Aku gak bisa balikan sama kamu."


Rafa menaikkan kedua alisnya, "Apa semua ini karena Kavin?" tanyanya.


Aku mengangguk, "Iya, aku cinta sama Kavin. Dan aku gak bisa terima kamu lagi di hati aku. Karena tempat kamu udah tergantikan oleh Kavin."


Rafa terlihat kecewa dengan pengakuanku. Aku tahu itu.


"Maafin aku Raf, kamu boleh benci sama aku," ucapku lalu bangkit dari tempat dudukku.


Rafa berusaha menahanku untuk tetap berada disini. "Na, aku gak bakal bisa benci kamu. Aku maklumin kalau kamu emang cinta sama Kavin. Karena aku tau seberapa perhatiannya dia ke kamu, dan aku paham." Rafa menghela napas, "Na, kamu masih mau kan jadi temen aku? Walaupun aku gak bisa jadi bagian dari hati kamu, seenggaknya aku masih bisa jadi bagian dari hidup kamu," ucap Rafa.


Aku mengangguk dan tersenyum membuatnya ikut tersenyum.


#Flashback Off


"Jadi, lo gak balikan sama Rafa?"


Aku menggeleng dan tersenyum lebar, "Enggak Vin, gue gak balikan. Dan itu semua karena gue lebih milih lo. Karena gue yakin, lo pasti kembali. Dan benar 'kan? Sekarang lo ada di depan gue."


Tiba-tiba raut wajah Kavin berubah. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Ini bukan tatapan senang atau tatapan kebahagiaan.


Senyum yang tadi ku tampilkan seakan sirna dengan perlahan. Aku menatapnya lekat, "Vin, lo kenapa?"


Kavin menggeleng, aku semakin tak mengerti dengannya. Lebih lagi dengan raut wajah yang ia tampilkan. Apa dia tidak senang dengan kabar bahwa aku tidak kembali kepada Rafa?


Kavin menatapku lekat dan menarikku kembali ke dalam pelukannya, "Maafin gue Na," ucapnya lalu melepaskanku dari pelukannya dan melangkah pergi meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan.


Aku diam mematung. Namun aku tersadar bahwa Kavin sudah tak ada lagi dari pandanganku.


"KAVIN!" teriakku namun tak membuat langkahnya terhenti. "LO JAHAT!" Air mataku jatuh setelah perlahan ia menjauh dan pergi dari pandanganku. Aku tak percaya ia pergi meninggalkanku lagi.


Aku salah apa?


Mengapa ia pergi?


Aku menatap kepergiannya dengan pandangan kosong dan air mata yang tak mampu ku bendung lagi. Kakiku terasa lemas, dadaku terasa sesak. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Ia datang, memelukku, lalu pergi.


Kakiku lemas dan tanpa sadar aku terjatuh ke bawah. Mataku masih lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Seperti yang ku katakana tadi. Ku pikir, cinta tahu kemana ia harus kembali. Ku pikir, cinta tahu kemana ia harus menetap. Ku pikir, cinta tahu kemana ia harus pulang. Ku pikir, cinta itu indah. Namun aku salah.


Cinta hanya membuatku terluka, cinta hanya menyisahkan luka yang bahkan aku tak tahu bagaimana cara merawat luka tersebut.


Jika boleh memilih, aku lebih baik tak perlu mengenalnya. Aku tak perlu terlalu dalam mengenalnya. Aku tak perlu terjebak oleh rasa nyaman namun yang pada akhirnya membuatku kecewa. Aku tak butuh semua itu. Namun, aku bisa apa?


"Kenapa lo ninggalin gue lagi, Vin? Apa salah gue? Apa yang udah gue perbuat sampai-sampai lo ninggalin gue lagi? Gue butuh lo, Vin. Gue mau lo ada disini, di samping gue. Gue gak butuh yang lain, gue cuma mau lo Vin. Gue cinta sama lo," Aku terisak menangisi kepergiannya.


Tanpa aku sadari ada seseorang yang menggenggam tanganku. Aku menoleh dan melihatnya tengah menatapku dengan tatapan tak kalah terluka.


Ia menarikku ke dalam pelukannya, "Jangan nangis,"



Jangan tanyakan perasaanku


Jika kau pun tak bisa beralih


Dari masa lalu yang menghantuimu


Karena sungguh ini tidak adil


Bukan maksudku menyakitimu


Namun tak mudah 'tuk melupakan


Cerita panjang yang pernah aku lalui


Tolong yakinkan saja raguku


Pergi saja engkau pergi dariku


Biar kubunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah


Hidup memang sebuah pilihan


Tapi hati bukan 'tuk dipilih


Bila hanya setengah dirimu hadir


Dan setengah lagi untuk dia


Pergi saja engkau pergi dariku


Biar kubunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah


Bukan ini yang kumau


Lalu untuk apa kau datang


Rindu tak bisa diatur


Kita tak pernah mengerti


Kau dan aku menyakitkan


Pergi saja engkau pergi dariku


Biar kubunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah


Di waktu yang salah


Waktu Yang Salah - Fiersa Besari



-------


Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)


Terima kasih!


-Prepti Ayu Maharani


----------------------------------------------------------