Started Without Love

Started Without Love
SWL 26




"Ayo semuanya berkumpul, kita akan pulang pagi ini!" Kak Arga memberikan arahan kepada kami semua untuk berkumpul.


"Ayo, Na!" teriak Latifa padaku.


"Iya, duluan aja!" ujarku seraya memasukan baju hangatku ke dalam tas.


"Na, duluan ya," ujar Umi dan ku angguki.


Nabila berdeham membuatku menoleh. "Gue duluan ya?" ucap Nabila seraya tersenyum padaku.


Aku membalas senyumnya dan mengangguk.


Setelah memasukan barangku, aku pun berniat menyusul yang lain. Aku menoleh ke sekeliling yang sudah mulai sepi. Aku pun mempercepat langkahku karena sepertinya semua sudah berkumpul.


Brukh!


Aku tersunggur di pasir kasar yang membuat tumit dan lenganku mengeluarkan darah.


"Aw!" Aku meniup lengan dan tumitku yang terasa panas.


Dengan rasa sakit yang aku rasakan, aku berusaha bangkit. Namun ada satu tangan yang mengulur padaku.


Aku menatap sang pemilik tangan itu cukup lama. Hingga akhirnya rasa canggung muncul tiba-tiba.


"Ayo, gue bantu." Kavin meraih tanganku dan membantuku berdiri lalu membawaku pergi. "Gue perlu obatin luka lo. Karena kalau enggak, luka lo bisa infeksi."


Kavin mendudukan diriku di dekat pohon. Aku tak bisa berkata-kata lagi, aku hanya mampu mengikuti titahnya.


"Kok bisa jatoh sih, Na?" tanyanya dengan sorotan mata yang mengarah padaku.


"Gue gak tahu," ucapku lirih seraya menunduk.


Jujur, aku sangat rindu mendengar suara Kavin. Jika aku tidak tahu malu, mungkin aku sudah memeluknya sejak tadi. Namun apalah dayaku, aku dan dia bukan seperti kami yang dulu. Kini sudah ada penghalang yang memisahkannya.


"Gue obatin ya?" Kavin mengambil kotak P3K dari dalam tasnya.


"Aw! Aw! Pelan-pelan, Vin!" teriakku saat alkohol mengenai lukaku.


Kavin terkekeh, "Lebay banget, lo! Gitu doang aja cemen!"


"Ih, Kavin!" Aku menatapnya sebal membuatnya tertawa lebar namun hingga akhirnya tawanya perlahan sirna.


"Sorry," ucapnya membuat suasana kembali canggung.


Aku menutup mataku dan menggigit bibir bawahku berusaha menahan rasa sakit yang ada.


Hening! Kavin begitu telaten membersikan lukaku sampai-sampai aku tidak menyadari jika ia sudah selesai dan lukaku pun sudah tertutup kain kasa dan plester.


"Makasih, ya?" ucapku.


Kavin mengangguk dan tersenyum tipis, "Lain kali hati-hati ya kalau jalan? Ini pasir, bukan kasur."


Aku mengulas senyumku dan berusaha Manahan tawa. Aku rindu dengan leluconnya.


"Ya udah, ayo? Nanti kita ketinggalan." Kavin memasukan kotak P3Knya kembali ke dalam tas dan membantuku untuk berdiri.


Aku melangkah dengan kaki yang terasa nyeri. Sehingga langkahku sangat lambat dan tidak bisa mengimbangi langkah Kavin.


Melihat aku jauh tertinggal olehnya, Kavin pun menghampiriku dan mengangkat tubuhku membuatku terkejut dengan perlakuannya.


Jarak antaraku dan Kavin sangat dekat sehingga aku dapat merasakan detak jantungnya yang cukup kuat. Apa jantung Kavin berdetak kencang karena bersamaku?


Tidak! Tidak! Tidak!


Aku harus membuang segala pikiran tersebut. Aku harus sadar, Kavin milik Nabila. Dan Aku,


Aku akan menerima Kak Arga, nanti.



"Loh? Kok gak ada orang lagi?" ucap Kavin begitu kami sampai di tempat yang lain berkumpul tadi.


Di sini tidak ada satu orang pun. Bahkan pantai sudah bersih dan tidak menyisahkan satu benda yang berhubungan dengan acara makrab.


"Jangan-jangan kita di tinggal?" ucapku takut.


Kavin mengacak rambutnya frustasi, "Bukan jangan-jangan lagi, emang beneran di tinggal."


Aku bingung, haruskah aku sedih dengan ini? Atau mungkin aku harus senang?


"Sorry, gara-gara gue, kita jadi ketinggalan kaya gini," ucapku lirih.


Kavin mengangguk, "Gak papa kok. Yaudah ayo?" ajaknya.


Aku mengerutkan keningku, "Kemana?" tanyaku bingung.


"Pulang. Lo mau disini aja sampai malem?" tanyanya dan ku jawab dengan gelengan kepala.


Kavin tersenyum dan kami berdua pun melangkah bersama meninggalkan tempat ini.


"Kita beneran jalan kaki?" tanyaku dengan kaki yang sedikit terpincang.


Kavin sudah melangkah lebih dulu serta membawa tasku. Aku mengekori langkahnya dengan sangat hati-hati karena kakiku yang terluka.


Kavin menghela napas dan menoleh ke arahku. Ia menatapku dengan hembusan napas kasar. Mungkin ia kesal dengan langkahku yang sangat pelan.


Kavin melepas ransel miliknya dan milikku dari punggungnya lalu ia kenakan di depan dada dan menghampiriku.


"Ayo, naik!" Kavin memperintahkanku untuk naik ke punggungnya.


"Lo yakin? Tapi tas lo berat banget. Di tampah tas gue juga," ujarku.


"Gue cowok, Na. Gue kuat."


Aku mengangguk pelan dan dengan hati-hati aku naik ke punggungnya.


Sudah cukup jauh kami berjalan. Aku melihat Kavin cukup kelelahan menggendongku.


"Gue turun aja ya?" ujarku.


"Gak usah!" Kavin terus melangkahkan kakinya.


"Kalau lo capek, bilang ya?"


Kavin menggeleng, "Gue.kuat," jawab Kavin dengan napas yang sudah tidak teratur.


"Udah, gue turun aja. Kita istirahat dulu. Gue tahu lo capek."


Akhirnya Kavin pun menurunkanku dan kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kami.


Di sini cukup sepi. Dan jalanan pun tak ramai yang melewati. Aku tak pernah berpikir jika kami berdua bisa terjebak di tempat ini.


"Ada sinyal gak?" tanya Kavin dan aku pun langsung mengecek ponselku.


Aku mengulas senyumku, "Ada!" ucapku senang membuat Kavin ikut tersenyum.


Drrt!


Ponselku bergetar bersamaan ketika aku akan membuka aplikasi Ojek online. Rupanya Kak Arga menelponku.


"Halo, Kak Arga?"


Kavin langsung menoleh begitu mendengar aku menyebut nama Kak Arga.


"Na, lo dimana? Kok lo gak ada di bis?" tanya Kak Arga yang terlihat sangat panik. "Na, halo Na?"


'Tut! Tut! Tut!'


Sambungan terputus begitu saja karena sinyal hilang dan tak ada layanan.


"Arga?" tanya Kavin yang langsung ku angguki.


Kavin mendudukan dirinya di sampingku membuat jantungku semakin berdetak kencang.


"Na,"


"Vin,"


Aku dan Kavin saling terdiam hingga akhirnya sama-sama tertawa.


"Lo duluan aja," ujar Kavin.


Aku menggeleng, "Enggak, lo duluan aja,"


Kavin mengangguk dan menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Maafin gue ya?"


Aku menyipitkan mataku, "Untuk?" tanyaku bingung. Karena ku pikir masalahku dengannya sudah selesai.


"Soal Arga. Gue minta maaf karena udah mukul Arga. Gue udah kelewatan."


Aku mengangguk, "Maafin Kak Arga juga ya?"


Kavin mengangguk dan tersenyum. Seketika aku merasa waktu berjalan begitu cepat.


"Emm, Na,"


"Iya?" tanyaku.


"Gue-"


"Alina!"


Aku dan Kavin menoleh begitu mendengar suara Kak Arga.



-------


Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)


Terima kasih!


-Prepti Ayu Maharani


----------------------------------------------------------