
"Alina!"
Aku dan Kavin menoleh begitu mendengar suara Kak Arga.
Kak Arga berjalan menghampiri kami dan langsung memelukku membuatku terkejut dengan apa yang ia lakukan.
"Gue panik tahu gak waktu tahu lo gak ada di bis," ucap Kak Arga seraya mengusap rambutku. "Lo kenapa bisa ketinggalan bis?" Kak Arga melepas pelukannya dan menatapku.
Aku menoleh ke Kavin sekilas membuat Kak Arga ikut menoleh ke arah Kavin.
Kavin menghela napas, "Tadi Alina jatoh, gue berniat obatin lukanya. Tapi ternyata kami ketinggalan bis," ujar Kavin menjelaskan.
Kak Arga beralih kepadaku dan melihat lukaku. "Kamu tapi gak papa 'kan sekarang?"
Aku mengangguk dan mengulas senyum.
Kak Arga tersenyum lega, "Yaudah ayo kita pulang," Kak Arga mengajakku untuk pergi dari sini.
"Lo gak nawarin gue?" tanya Kavin membuat Kak Arga kembali menatapnya.
Kak Arga menatap Kavin malas, "Yaudah, tapi lo bawain tas Alina."
Kavin berdecak dan meraih tasku, "Tanpa lo suruh juga udah gue bawain," ucap Kavin lalu melangkah lebih dulu menuju mobil Kak Arga.
"Lo bisa jalan?" Kak Arga terlihat khawatir.
Aku mengangguk, "Bisa kok, Kak." Aku berjalan dengan langkah pincang.
Kak Arga yang berada di belakangku tanpa mengkhawatirkanku, "Gue gendong aja ya?" tawarnya.
Aku menggeleng, "Gak usah Kak, lagipula cuma sampai mobil doang mah deket."
Kak Arga menghela napas dan mengikuti langkahku.
Saat aku sampai di mobil Kak Arga, Kavin membukakan pintu belakang untukku.
"Gak usah, Alina di depan sama gue." Kak Arga berlari ke pintu depan dan membukakan pintu untukku.
Aku menatap Kavin sekilas lalu masuk setelah Kak Arga membukakan pintu untukku.
Setelah semuanya di dalam, Kak Arga pun mulai melajukan mobilnya.
"Gak usah kenceng-kenceng bawa mobilnya? Bisa santuy 'kan?" ujar Kavin.
Dan tiba-tiba aku teringat saat Kavin membawa mobil dengan sangat kencang yang membuatku ketakutan dan menangis. Aku ingat sekali saat itu Kavin panik setelah melihatku menangis. Ia langsung memelukku dan meminta maaf. Dari situlah Kavin mencoba mencari tahu tentangku karena ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Aku merindukan saat itu. Sangat merindukan.
"Kamu tadi kenapa bisa jatuh sih, Na?" tanya Kak Arga.
"Ya namanya juga musibah," ucap Kavin.
"Gue gak nanya elo!" ucap Kak Arga sarkatis.
"Yaudah sih, gak bisa selow dikit tah?"
"Stop! Stop! Stop! Gue turun di sini," ucap Kavin membuat Kak Arga menghentikan lajunya dan membiarkan Kavin turun.
Aku sama sekali tak menoleh ke belakang saat Kavin bersiap untuk turun dari mobil Kak Arga. Sampai akhirnya dia memanggilku.
"Na,"
Aku menoleh ke belakang dan menatapnya dengan maksud bertanya.
Kavin berdeham sebelum melanjutkan ucapannya, "Titip salam buat tante Raisa," ucapnya lalu turun dari mobil Kak Arga.
Aku menatap punggung Kavin dari balik kaca mobil sampai akhirnya ia berbalik badan dan menatap ke arahku. Aku segera mengalihkan tatapanku lurus ke depan bersamaan dengan Kak Arga yang kembali melajukan mobilnya.
"Kamu, mau makan dulu gak?" tanya Kak Arga.
Aku menggeleng, "Gak usah, Kak."
"Atau gak mampir ke toko kue ya, untuk nyokap lo?"
Aku menggeleng dengan senyuman dan menatap Kak Arga, "Gak perlu kak. Nyokap gue juga buka toko kue kok."
Kak Arga mengerutkan alisnya, "Oh ya? Wah kalau gitu kapan-kapan gue perlu mampir ke sana deh. Gue pengen nyoba kue buatan nyokap lo."
Aku mengangguk dengan senyuman membuat Kak Arga membalas senyumanku dan kembali fokus dengan kemudinya.
Aku meraih tasku dari tangan Kak Arga. "Mau mampir dulu Kak?" tawarku.
"Pengen sih sebenarnya. Tapi kayanya lo capek, lain kali aja deh. Gue balik ya?"
Aku mengangguk, "Hati-hati ya?" ucapku.
Kak Arga mengangguk dengan senyum yang ia tampilkan. Setelah mobil Kak Arga menjauh dari pandanganku, aku langsung masuk ke dalam untuk menemui Ibu.
"Ibuuu,"
Aku berjalan ke dapur dengan langkah kaki sedikit pincang.
"Ee, ee, eee, kamu kenapa? Kok jalannya pincang gitu?" Ibu beralih ke tumit dan lenganku yang terbungkus kain kasa. "Ini kamu kenapa sampai di perban gitu?" tanya Ibu dengan khawatir dan membawaku untuk duduk di kursi.
"Alina jatuh, Bu."
Ibu menggeleng, "Kok bisa? Memangnya kamu gak hati-hati? Dan liat, celana kamu sampai sobek nih," ucap Ibu membuatku tersadar jika celanaku sobek pada bagian bawah. "Terus siapa yang ngobatin ini?"
Aku menunduk sebentar dan kembali menatap Ibu, "Kavin, Bu."
Raut wajah ibu langsung berubah setelah aku mengucapkan nama Kavin. Ya, aku memang sudah menceritakan semuanya kepada Ibu tentang Kavin yang pergi begitu saja. Namun aku belum menceritakan kepada Ibu jika Kavin sudah kembali. Terutama dengan adanya Nabila dan Kak Arga di antara kami.
"Gimana bisa?" Ibu menatapku dengan perasaan sedih.
Aku menghela napas, "Kavin kuliah di tempat Alina, Bu. Kavin ambil paket C, makanya bisa jadi seangkatan sama Alina. Tapi, Alina gak tahu Bu bakal ketemu Kavin lagi."
"Bukannya itu yang kamu pengen?" Ibu mengusap punggungku membuatku rasanya ingin menangis.
Aku menghela napas panjang, "Bu, ibu tahu apa yang terjadi dengan keluarga Kavin?" tanyaku.
Ibu terdiam sejenak sebelum akhirnya bercerita padaku, "Sebenarnya ibu tahu dari awal masalah apa yang terjadi dengan orang tua Kavin, tapi ibu gak bisa ceritain ke kamu saat itu. Karena saat itu detik-detik menjelang kamu ujian, dan ibu gak mau bikin sekolah kamu keganggu."
Aku terdiam.
Ibu meraih tanganku dan di genggamnya. "Saat itu Mama Kavin nelpon ibu dan nyeritain semuanya. Sebagai sahabatnya, ibu gak bisa berbuat apa-apa. Ibu cuma bisa ngasih semangat dia dari jauh. Ibu ikut sedih dengan kabar itu, tapi ibu lebih sedih saat ibu liat kamu sangat kehilangan Kavin. Maafin ibu Na, ibu gak cerita ke kamu."
Aku diam mematung sampai akhirnya ibu menarikku ke dalam pelukannya dan mengusap punggungku dengan lembut.
"Kavin bilang apa aja sama kamu?"
Aku menarik tubuhku dari pelukan ibu dan segera menyeka air mataku yang jatuh. "Kavin gak bilang apa-apa." Aku mengulas senyum tipis untuk menutupi lukaku depan ibu. "Alina boleh nanya sesuatu gak sama ibu?"
Aku terkekeh, "Mau nanya apa emang? Tentang kamu dan Kavin?"
Aku menggeleng, "Ini tentang novelku bu. Aku mau buat cerita baru lagi." Aku berbohong pada ibu. Maafkan Alina, Bu.
"Seandainya ibu mencintai seseorang di masa lalu ibu yang jelas-jelas dia udah ada pengganti ibu, tapi anehnya dia masih mencintai ibu. Tapi dilain sisi, ada laki-laki baru yang ngasih perhatian besar ke ibu, dia selalu ada buat ibu, selalu mencoba yang terbaik buat ibu. Lalu apa yang bakal ibu lakuin?" tanyaku.
Ibu terlihat tampak berfikir, "Itu rumit, Na. Tapi kalau ibu pribadi, ibu pengennya mempertahankan seseorang di masa lalu itu, karena kami saling mencintai. Tapi dengan adanya seseorang baru di antara kami dan memungkinkan untuk kami tidak bisa bersatu lagi, mungkin ibu akan mencoba membuka hati untuknya."
"Jadi ibu bakal membuka hati untuk orang baru?"
Ibu mengangguk.
Aku terdiam, "Kenapa semuanya jawab gitu ya bu?"
Ibu tertawa, "Yang namanya cinta gak bisa dipaksakan sesuai mau kita, Na. Jodoh dan maut udah ada yang ngatur. Kuncinya kita hanya perlu berusaha. Tapi kalau kita udah berusaha dan hasilnya sama aja. Kita serahin aja semuanya sama Tuhan. Pasti kita akan diberikan yang terbaik."
Aku menangguk. Memang benar apa yang dikatakan ibu.
Mungkin semua ini sudah cukup meyakinkanku untuk belajar membuka hati untuk Kak Arga meski dalam hatiku masih ada Kavin.
Drrtt!
Denis Arga Laksana : Besok malem kita jalan ya?
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------