Started Without Love

Started Without Love
SWL 44




"Kak Arga?" ucapku saat laki-laki yang bernama Arga tersebut datang bersama Amara.


Kak Arga yang melihatku pun terlihat terkejut.


"Na, lo kenal sama cowoknya Amara?" tanya Nana yang berada di sebelahku.


Aku bangkit dari dudukku dan melangkah mendekati keduanya. Perasaanku sudah kalut, aku tak peduli lagi dengan teman-temanku yang lain.


"Na, ini nggak seperti," ucap Kak Arga saat aku sampai di hadapannya.


Aku mengulas senyum miring dan beralih pada perempuan itu. Perempuan yang telah merusak hubunganku dengan Kak Arga.


Amara tersenyum miring dan menatapku remeh.


Plak!


"Alina!" Kak Arga meneriaki ku dan menatapku tajam. Ia sangat murka atas apa yang baru saja aku lakukan.


Aku baru saja menampar Amara. Entah setan mana yang membisiki ku untuk menamparnya.


Aku menatap tanganku dengan pandangan kosong dan air mata yang mulai turun dan tak bisa aku tahan lagi.


Amara mendorongku hingga aku terhuyung ke belakang dan terjatuh. Namun aku segera bangkit dan menatap keduanya dengan tatapan terluka. Aku tak mengerti arti semua ini.


"Tega lo Kak sama gue. Kalau lo masih ada perasaan sama mantan lo ini, kenapa lo deketin gue?!" Aku menatap Kak Arga tajam.


"Apa lo bilang? Mantan? Lo bilang gue mantannya Arga?" Amara menunjuk Kak Arga. "Asal lo tahu! Gue belum putus sama dia! Dan kita masih pacaran sampai sekarang!" lanjutnya membuatku seakan tertampar dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


Jadi selama ini, aku hanya di bohongi oleh Kak Arga?


Jadi selama ini, aku jadi selingkuhannya?


Jadi selama ini, aku tertipu oleh ucapan manisnya?


Jadi selama ini, aku tertipu oleh topeng baik yang ia gunakan?


Aku menggelengkan kepala tak percaya dan tertawa atas apa yang terjadi. Aku menatap nanar wajah Kak Arga yang kini tengah menatapku dengan perasaan bersalah.


Aku benci dengannya. Sangat membencinya. Andai saja aku tahu sejak awal, mungkin aku tidak akan sampai jatuh terlalu jauh dan mencintai seseorang sepertinya.


Aku membalikan tubuhku melangkah pergi dari tempat ini. Aku sudah muak dengan apa yang terjadi.


'Bug!'


"Kavin!"


Aku menoleh ke belakang dan melihat Kavin tengah memukuli Kak Arga.


"Kavin! Apa-apaan sih lo!" teriak Amara sembari menarik badan Kavin untuk menyudahinya.


Kavin tak merespon. Ia terus memukul Kak Arga dan berkata, "Cowok berengsek! Kalau niat lo cuma mainin cewek, mending mati aja lo!"


"Ini apa-apa sih?!" teriak Nana yang merasa bertanggung jawab atas acara ini.


Aku kembali dan mencoba melerai keduanya. "Vin, udah! Cukup!"


Melihat bibir Kak Arga mengeluarkan darah, Kavin pun beralih menoleh ke arahku. "Dia pantes dapetin ini Na," ucapnya.


'Bug!'


Kak Arga membalas pukulan Kavin.


Pertengkaran keduanya pun kembali berlangsung. Namun untungnya Anan dan yang lainnya berhasil melerai keduanya.


Aku tak mendengarkannya. Aku memilih untuk pergi dari sini. Aku tak ingin membuat suasana semakin runyam.


Aku berjalan keluar dan mendongak ke atas langit yang mulai berwarna hitam. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


Aku terus melangkah sembari mencari angkutan yang lewat. Namun sampai aku jauh melangkah, belum ada satu angkutan umum yang lewat.


"Hujan! Hujan!" teriak beberapa orang di seberang sana saat hujan mulai turun.


Aku mempercepat langkah dengan sedikit berlari. Hingga aku sampai di sebuah halte.


Halte ini Cukup ramai. Karena banyak orang yang menunggu angkutan lewat maupun hanya berteduh saja. Hujan semakin deras serta semilir angin yang terus menusuk tubuhku.


Aku mendudukkan diriku serta menahan hawa dingin yang terus menusuk. Aku mengepalkan tanganku serta menarik napas lalu ku hembuskan kembali berharap aku menemukan kehangatan.


"Alina,"


Aku menoleh begitu mendapati Nabila tengah berdiri dan menatap ke arahku.


"Lo ngapain ngikutin gue?" ucapku bingung.


Nabila tersenyum tipis dan mendekat ke arahku lalu memelukku.


"Gue minta maaf," ucapnya.


Aku melepas pelukannya dan menatapnya bingung.


"Maafin gue, Na. Gue udah misahin lo dan Kavin. Seharus saat itu gue dukung lo dan Kavin, bukan malah nyuruh lo jadian sama Kak Arga. Maafin gue, Na."


Aku menatap Nabila nanar, sakit rasanya jika mengingat apa yang baru saja terjadi.


"Lo kembali ke Kavin ya?" ucapan Nabila membuatku melebarkan mata dan menatapnya dengan tatapan tak mengerti.


"Maksud lo?" ucapku.


"Gue selama ini udah salah, Na. Gue salah maksa Kavin buat cinta sama gue. Gue udah salah minta dia jadi pacar gue, sedangkan hatinya bukan untuk gue."


Aku memandang Nabila tak percaya.


"Kavin cintanya sama lo, Na. Bukan sama gue," Nabila meraih tanganku. "Lo mau 'kan terima Kavin lagi?" Nabila menaikan kedua alisnya menunggu jawabanku.


"Gimana sama lo?" tanyaku yang masih memikirkan perasaan Nabila. Karena meskipun awal pertemuanku dengan Nabila tidak baik, namun aku sangat percaya jika dia memang perempuan yang baik.


Nabila menunduk menutupi air matanya yang jatuh. Lalu mendongak dan menatapku dengan senyuman. "Gue bahagia kalau Kavin kembali sama perempuan yang dia cinta," ucapnya lalu bangkit setelah sebuah bis berhenti tepat di depan kami.


"Tapi Bil,"


Nabila menoleh ke arahku. "Lo berhak atas Kavin," ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkanku.


Aku menatap punggung Nabila yang mulai menaiki bis. Aku berjalan mendekat ke arah bis dan mencarinya melalui jendela. Namun aku tak melihatnya sampai bis itu melaju dan menghilang dari pandanganku.


Semua orang yang berada di halte telah pergi dan tinggal menyisahkanku sendiri di sini. Aku menunduk dan melangkah kembali ke halte. Perasaanku sedang kacau dan aku tak ingin pulang ke rumah dengan keadaanku seperti ini.


Aku mendudukkan diriku di kursi tadi dan menunduk. "Gue emang cewek bodoh! Kenapa gue mudah banget di bodohin?! Lo bodoh Alina! Lo bodoh!" teriakku frustasi.


"Gue yang bodoh, Alina."


Aku menoleh dan melebarkan mataku saat ia melangkah menghampiriku.



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!