
Aku menatap Ibu saat mengetahui bahwa Kak Arga ada di depan.
Ibu meraih tanganku dan digenggamnya. "Kamu pasti bisa selesain masalah ini," ucapnya menyemangati ku.
Aku menghela napas dan akhirnya bangkit untuk menemui Kak Arga di depan.
Debaran jantungku berpacu sangat kencang. Antara sakit dan ingin sekali memakinya.
"Na," ucap Kak Arga saat aku sampai di depan.
"Ngapain kesini?" tanyaku sesingkat mungkin.
"Na, aku tahu aku salah. Tapi tolong maafin aku. Aku memang masih pacaran sama Amara, tapi itu semua karena dia nggak mau diputusin."
Aku membuang tatapanku dan kembali menatapnya datar. "Terus kenapa selama ini bohong?"
"Aku tahu aku salah, makanya itu aku mau minta maaf ke kamu." Kak Arga berjalan mendekat dan mencoba meraih tanganku. Namun dengan segera aku tepis. "Na, maafin aku. Aku janji, setelah ini aku bakal putusin Amara dan kita lanjutin lagi semuanya."
Aku melebarkan mataku. "Semudah itu kamu bilang? Kamu kira aku nggak sakit apa dibohongin selama ini?"
"Makanya itu aku pengen kita lanjutin semuanya dan aku janji akan buat kamu lupain kesalahan aku tadi."
Aku tertawa. "Mudah banget ya ngomongnya?"
"Na, tolong, tolong maafin aku dan kita lanjutin semuanya. Lagipula orang tua kamu 'kan setuju kamu sama aku."
"Mereka setuju karena mereka nggak tahu kamu seperti apa. Mungkin kalau sekarang aku kasih tahu mereka, mereka bakal ikut benci kaya aku."
"Jangan Na," pintanya sambil meraih tanganku.
Aku kembali menepis tangannya. "Mending sekarang Kak Arga pulang dan temuin pacar Kakak. Nggak usah dateng-dateng lagi kesini."
"Tapi Na?"
"Dan bilangin juga ke Alia, makasih. Makasih udah support aku buat jadi selingkuhan abangnya."
Aku mendorongnya untuk keluar lalu mengunci pintu.
"Na, kasih aku kesempatan! Aku janji, setelah ini aku pastiin cuma kamu yang ada di hati aku."
Aku tersenyum sinis, "Bullshit!"
"Na, aku mohon. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Aku memutar bola mataku. "Salah satu ciri buaya ya kaya gitu."
"Na, ku mohon."
Tanganku memanas dan rasanya ingin sekali menamparnya. Namun aku tak mau membuat keributan di rumahku sendiri.
Tak lama, aku mendengar suara mobil itu berjalan menjauh. Syukurlah, ia sudah pergi dari sini.
Tok! Tok! Tok!
Aku tersentak saat terdengar suara ketukan pintu. Baru saja aku ingin kembali ke kamar.
Aku terdiam sejenak. Apakah itu Kak Arga? Apa dia belum pergi?
Karena penasaran, aku mencoba mengintip melalui jendela. Ku buka tirai jendela sedikit dan ku lihat siapa di depan sana.
Dengan jantung berdegup kencang, aku membuka pintu itu dan langsung memeluknya.
"Dih peluk, peluk," ucapnya membuatku refleks melepas pelukanku dan menatapnya kesal.
"Nyesel gue meluk lo," ucapku sambil berjalan menuju kursi.
Kavin mengikuti langkahku dan ikut duduk di sampingku. "Camer sama caper gue mana?"
"Dih, apaan sih? Siapa juga yang mau nikah sama lo!" ucapku dengan kedua lengan yang ku lipat di depan dada.
Kavin menoleh dan menatapku. "Oh, gitu? gitu? hmm gitu?" ucapnya sembari menggelitikiku.
"Ka-kavin, geli! Geli tauk!" ucapku berusaha tidak teriak.
"Hmm gitu,"
"Kavin! Nanti di denger Ayah!" ucapku lirih sambil menatapnya tajam dan penuh penekanan.
Kavin menghentikan aktivitasnya dan terkekeh seperti tidak berdosa.
Aku menatapnya malas. "Mau minum apa pacar?"
"Ih, masa sama pacar sendiri kaya gitu. Panggilan sayangnya mana?"
"Sayang?" tanyaku.
kavin mengangguk. "Iyalah. 'Kan lo pacar gue."
"Mau minum apa zheyeng?"
"Ah, lo mah nggak ada so sweet so sweetnya. Nggak lolos lo jadi pacar romantis," ujarnya.
Aku melebarkan mataku dan tertawa. "Lo kira lo lolos? Lah, elo, gue peluk bukannya bales peluk malah bilang 'dih, peluk, peluk,'. Nyesel juga gue meluk lo."
Kavin tertawa. "Maaf ya sayang," Kavin meraih tanganku dan diciumnya punggung tanganku.
"Ih, geli!" Aku menarik tanganku refleks.
Kavin menatapku datar. "Ini gue belajar so sweet loh."
"Ya maaf," ucapku tertawa.
"Ya kalau sama Arga aja, so sweet bener lo. Lagian sama gue, mau so sweet dikit, bilang geli lah, ini lah."
"Lo juga gitu, kalau sama Nabila aja, so sweet lo tu natural. Nggak di buat-buat. Begitu sama gue, keliatan banget kaya di paksain,"
Cup!
Aku melebarkan mataku dan menatapnya tak percaya. Kavin baru saja mencium pipiku?
Aku menyentuh pipiku. Pipiku memanas. Aku tak mampu lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. Astaga, kenapa denganku?
Jangan lupa klik ♥️ dan tulis komentarnya!