Started Without Love

Started Without Love
SWL 49




Aku menoleh menatap kedua lelaki yang kini bersamaku. Keduanya tengah menyaksikan apa yang tengah terjadi malam ini.


Dengan memberanikan diri, aku turun dari mobil dan bertanya kepada bapak-bapak yang yang juga tengah menyaksikan hal tersebut dari kejauhan.


"Pak, ada apa ya?" tanyaku.


"Itu mbak, tadi mamas yang lagi di hajar itu abis nabrak orang. Kayanya sih mamas itu laki mabuk," jelas bapak-bapak yang ku tanyai.


Aku menggelengkan kepalaku menatap Kak Arga yang tengah di hajar massa. Namun tak berapa lama sebuah mobil polisi datang dan melerai. Polisi itu membawa Kak Arga ke dalam mobilnya.


Namun saat aku tengah menyaksikan hal tersebut, mataku tak sengaja bertemu dengannya. Kak Arga tengah tersenyum menatapku dan melambaikan tangannya. Ya, ucapan bapak tadi memang benar. Kak Arga tengah dalam keadaan mabuk.


"Na, ayo masuk!" panggil Kavin.


Aku mengangguk dan kembali masuk ke mobil. Pikiranku terus mengarah kepada Kak Arga. Aku tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi dengannya.


Karena terus memikirkan hal tadi, sampai-sampai aku tidak mendengarkan Kavin dan Anan yang sejak tadi mengajakku bicara.


Aku tersenyum tipis dan menyenderkan kepalaku di kursi.


"Kepikiran Arga ya?" tanya Kavin.


Aku menggeleng dengan senyuman. "Ngapain mikirin dia. Dia aja nggak mikirin aku," ujarku.


Kavin mengangguk mengerti dan meraih tanganku. Ia mencoba menenangkannya.


"Jangan dipikirin ya," ucapnya lirih dan tak lama rasa kantuk menghinggapiku.



Aku membuka mata. Perlahan ku perhatikan sekeliling. Aku sangat familiar dengan ruangan ini.


"Ini 'kan kamarku?" ucapku lirih.


"Loh, Na. Udah bangun," ujar Ibu yang sudah berada di kamarku.


Aku menoleh ke arah jendela dan menyipitkan mata karena matahari yang berhasil lolos memancarkan sinarnya melalui celah jendela.


"Kok udah pagi, Bu? Bukannya, Alina lagi jalan sama Kavin ya?" tanyaku dengan tampang bodoh.


Ibu tertawa. "Makaya, jadi orang jangan *****. Nempel dikit langsung molor," ujar Ibu membuatku merengut sebal. "Semalem, Kavin sama Anan nganterin kamu. Katanya baru sampe jalan kamu udah tidur. Yaudah, karena nggak mau ganggu tidur kamu, akhirnya Kavin sama Anan puter balik terus anterin kamu pulang."


Aku melebarkan mataku dan mencoba mengingat-ingat. Benar, semalam aku sangat mengantuk. Ku pikir Kavin akan membangunkanku, ternyata dia malah mengantarkanku pulang.


"Terus yang bawa aku ke kamar siapa?"


"Ayah. Tadinya mau Kavin. Cuma pas Ayah liat kamu di anter dalam keadaan tidur, ayah langsung nyemperin dan ngangkat kamu ke kamar."


Aku menggigit bibir bawahku. "Pasti Ayah marah ya Bu?"


Ibu mengangguk pelan, mendekatkan wajahnya ke arahku dan berbisik. "Kamu tahu sendiri Ayah kamu nggak suka sama Kavin. Jadi pas liat Kavin mau ngangkat kamu, Ayah langsung teriak."


"Seriusan Bu?" tanyaku yang tak menyangka Ayah semarah itu.


"Terus apa kata Ayah?"


"Ya Ayah kamu cuma diem."


Aku mengusap wajahku gusar. "Kenapa ada aja sih lika-liku hubungan Alina sama Kavin."


Ibu tersenyum. "Namanya juga hubungan Na. Nggak seterusnya harus lurus, adem, ayem."


"Tapi masalahnya Alina sama Kavin ada aja Bu lika-likunya. Yang Kavin denger Rafa ngajak balikan Alina-lah, yang Kavin milih pergilah, terus Kavin ketemua Nabila-lah, terus Alina ketemu Arga-lah." Aku melipat kedua lenganku.


Setelah menyebut nama Arga, tiba-tiba aku teringat akan dia.


"Bu, semalem Alina ketemu Kak Arga lagi di hajar."


Ibu melebarkan mata. "Di hajar sama siapa?"


"Sama warga, Bu. Katanya sih dia abis nabrak orang terus dalam keadaan mabuk. Dan semalem Alina liat Kak Arga di bawa sama polisi."


Ibu menggelengkan kepala. "Apa itu ada hubungannya dia yang semalem datang kesini?"


Aku menggelengkan kepalaku. Entahlah, aku juga tidak tahu.


"Kalau bener, berarti Kak Arga mabuk karena Alina dong, Bu?"


"Kamu nggak boleh ngomong gitu. Mungkin aja ada hal lain yang bikin dia mabuk dan nggak sengaja nabrak orang,"


Aku mengangguk.


"Tapi untunglah kamu udah putus dari dia. Ibu juga nggak mau punya menantu kaya Arga. Depannya keliatan baik, tapi cuma manipulative," lanjut Ibu.


"Kalau Kavin gimana, Bu?"


"Ya kalau Kavin mah mau depan belakang luar samping atas bawah geblek, tapi dia anaknya apa adanya. Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. Blak-blakan gitulah. Tapi nggak tahu kalau sama kamu gimana," ujar Ibu.


"Sama aja, Bu!" ujarku membuat Ibu tertawa.


'Ting! Tong! Ting! Tong!'


"Ada tamu kayanya," ujar Ibu yang akan bangkit.


"Alina aja Bu yang buka." Aku bangkit dan berjalan keluar. Dengan keadaan masih menggunakan gaun semalam, aku membuka pintu tersebut hingga menampilkan seseorang di luar sana.


"Alina," ucapnya membuatku terdiam.


Raut wajahku berubah begitu saja.



**a/n :


Hayoooo, kira-kira siapa ya yang dateng, sampai-sampai raut muka Alina berubah seketika 🤔**