
Waktu terus berlalu. Dan ini adalah genap 5 bulan aku berpacaran dengan Kak Arga.
Kalian pasti menganggapku bahagia dengannya? Ya, memang benar. Aku sangat bahagia dengannya. Lebih lagi Ayah dan Ibuku yang sudah sangat mengenalnya dan begitu mempercayainya untuk menjagaku.
Kak Arga memiliki sifat yang sopan, bertanggung jawab dan juga dewasa. Hal itulah yang semakin membuat Ayah dan Ibu menyukainya.
Meski perlu kalian tahu, Ibu masih sering bertanya tentang Kavin padaku.
Apakah aku sudah melupakan Kavin? jawabannya adalah TIDAK. Aku tidak bisa melupakan Kavin. Meski hubungannya sudah terbilang lama dengan Kak Arga, aku masih harus mengakui kalau nama Kavin masih tetap ada disini.
Walaupun, Kavin nampaknya sudah bahagia dengan Nabila.
Ya, aku sadar itu.
Hari ini, sepulang dari kampus, aku bersama Yoga dan juga Alia akan menonton film di bioskop. Ya, film yang diadaptasi dari novel kesayanganku. Judulnya Mariposa. Tentu kalian semua tahu dong novel tersebut. Aku sudah membaca cerita itu saat masih di *******, dan saat itu juga masih senang menulis, ya menulis novelku yang berjudul 'Started Without Love'.
Aku berharap semoga suatu saat novelku bisa difilmkan seperti Mariposa. Entah kapan, namun aku berharap itu terjadi.
Bicara soal menonton film, sebelumnya aku sudah memberitahu Kak Arga bahwa aku tidak bisa pulang dengannya, dan ternyata ia pun mengatakan jika ia juga ada rapat BEM hari ini.
Baiklah, aku bisa menonton film bersama kedua sahabatku.
"Yuk!" ajak Yoga yang sudah mengambil mobilnya di parkiran.
Aku dan Alia mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Aku dan Alia memilih duduk di belakang dan membiarkan Yoga duduk sendiri di kursi kemudi.
"Yaelah, jahat banget lorang. Masa gue di jadiin supir."
Aku dan Alia hanya tertawa membuat Yoga merengut sebal lalu memutar sebuah lagu.
Lagu milik Public yang berjudul 'Make Your Mine' mengalun membuat bibir kami bertiga ikut berkomat-kamit.
"Yak!" teriak Yoga.
"Put your hand in mine
You know that I want to be with you all the time
You know that I won't stop until I make you mine
You know that I won't stop until I make you mine
Until I make you mine"
"Eh," ucap Yoga seraya mematikan dan menghentikan lajunya.
"Kenapa sih?" tanya Alia yang juga terkejut sepertiku.
"Kita mau makan dulu atau nonton dulu?"
"Masih kenyang gue makan bakso tadi," ujarku. "Tapi kalau kalian laper, kita makan dulu aja."
Alia menggeleng, "Gue juga masih kenyang. 'Kan tadi gue makan bakso yang jumbo. Mana belum abis di ambil lagi sama Yoga."
Yoga tertawa, "Gue kasian aja sama baksonya. Dari pada gak kemakan, 'kan sayang. Hehe," ujar Yoga yang langsung mendapatkan cubitan dari Alia.
Aku hanya tertawa melihat kedua sahabatku yang selalu saja bertengkar. "Bisa gak sih kalian berdua akur gitu? Tiap hari berantem mulu,"
Alia mengedikan bahunya, "Gak tahu tuh, Yoga. Bikin gue emosi mulu,"
"Emang dasar lo-nya aja yang emosian," sahut Yoga.
Yoga memutar bola matanya, "Kalau lo gak emosian, lo pasti bisa kontrol tuh emosi."
"Udah, udah, udah, cukup! Lo berdua sama aja," ucapku lalu meraih earphone dan ku pasang ketelingaku.
Sesampainya di sana, Alia memutuskan agar dia saja yang memesan tiket. Akhirnya aku dan Yoga pun menunggunya di kursi tunggu.
"Na," ucap Yoga membuatku menoleh.
"Kenapa Ga?" tanyaku.
Yoga menampakkan wajah bimbangnya membuatku tak mengerti. "Gue suka sama Alia," ucapnya membuatku terkejut dibuatnya.
Aku melebarkan mataku dan menatapnya tak percaya, "Lo seriusan? Sejak kapan?"
Yoga tersenyum dan menatap lurus ke depan, "Gue gak tahu sejak kapannya. Tapi gue nyaman sama tingkah dia."
"Lo gak bercanda 'kan?" tanyaku.
Yoga menggeleng, "Gue serius suka sama dia. Apalagi kalau dia lagi marah-marah, sumpah gue gemes banget!"
Aku ikut tersenyum mendengar pernyataan Yoga, "Karena itu lo bikin Alia marah-marah terus?"
Yoga menggeleng, "Awalnya gue iseng, tapi lama-lama gue seneng. Dan sekarang gue semakin yakin kalau gue suka sama dia. Ya walaupun gue tahu, dia belum move on dari mantannya yang namanya Rehan. Tapi, gue gak papa kok. Gue bisa bantu dia ngelupain mantannya itu."
"Lo serius 'kan, Ga? Lo gak main-main 'kan?" tanyaku yang masih tak menyangka jika salah satu dari sahabatku memendam rasa.
Yoga menggeleng, "Gue serius dan gak main-main, Na. Gue beneran suka sama Alia."
"Gue juga sebenarnya suka sama lo, Ga!" sahut Alia tiba-tiba yang ternyata sudah berada di sini.
Yoga menoleh dan langsung mengembangkan senyumnya melihat Alia yang tengah tersenyum.
"Gue suka sama lo," ucap Alia sekali lagi. "Gue udah move on kok dari Rehan. Lagipula gue juga gak pantes nginget dia yang udah ninggalin gue."
Yoga tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Beneran Al?" tanyanya.
Alia mengangguk dengan senyuman lalu mendekat ke arah Yoga.
"Jadi gue boleh dong dateng ke acara pernikahan abang lo?" tanya Yoga.
Alia tampak berpikir, "Boleh sih. Tapi, lo 'kan bukan pacar gue."
"Yaudah, kalau gitu mulai sekarang, gue jadi pacar lo ya?"
Alia mengangguk, "Boleh, deh."
Yoga tersenyum lalu meraih tangan Alia dan di genggamnya. Mereka berdua saling menatap membuatku melongo di buatnya.
"Semudah itu jadian?" tanyaku.
Alia dan Yoga tertawa. "Selagi bisa simpel, ngapain harus ribet-ribet sih? Ya gak?"
Alia mengangguk membenarkan membuatku semakin tak mengerti pada keduanya.
Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!