
Jendela sengaja ku bunga supaya angin bisa masuk ke dalam membuat semilir angin malam berhembus membelai kulitku.
Aku menyisir rambutku lalu mengikatnya menjadi satu bagian. Lalu memoleskan bedak secara rata ditambah dengan blush cream yang sengaja ku poles tipis supaya pipiku terlihat lebih merona.
Aku kurang pandai dalam menggunakan make up, jadi aku hanya menggunakan saja apa yang aku bisa.
Setelah selesai, aku meraih tasku yang tergantung dan keluar menemui Kak Arga yang sepertinya sudah datang. Seperti janjinya malam itu, Kak Arga mengajakku untuk keluar sekedar jalan dan aku tidak menolaknya.
Kak Arga memberikan tatapan hangat padaku begitu aku sampai di hadapannya. Aku pun membalas tatapannya dengan senyuman.
"Udah siap?" tanyanya dan ku jawab dengan anggukan.
"Udah mau berangkat?" Ibu keluar bersamaan saat aku akan meminta izin.
"Ayah belum pulang juga bu?" tanyaku.
Ibu menggeleng, "Mungkin bentar lagi," jawab Ibu.
"Yaudah, Alina pamit keluar sebentar sama Kak Arga ya bu?" Aku mencium tangan Ibu.
Kak Arga menghampiri ibu dan ikut mencium tangan ibu, "Bu, saya izin ajak Alina keluar sebentar ya?" pinta kak Arga.
Ibu mengangguk dengan senyuman, "Jangan terlalu malam ya pulangnya," Ibu member pesan pada Kak Arga.
"Iya, Bu. Kalau gitu saya permisi ya bu,"
"Bu, Alina jalan," timpaku.
"Iya, hati-hati kalian berdua."
Ibu mengantarkan kami berdua sampai luar lalu kembali masuk ke dalam karena malam ini sangat dingin.
"Kita mau kemana, kak?" tanyaku begitu Kak Arga mulai melajukan mobilnya.
Kak Arga tambak berfikir sejenak, "Makan mau gak?" tanya Kak Arga.
Aku mengangguk, "Boleh, deh."
Kak Arga tersenyum lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya. Setelah sampai di sebuah kafe, Kak Arga turun lebih dulu dan membukakan pintu untukku.
Aku keluar dan mengikuti langkah Kak Arga masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Kak Arga memilih meja yang tepat sekali di tengah-tengah. Biasanya orang-orang memilih di pinggir dekat jendela, namun sepertinya itu tidak berlaku untuk Kak Arga.
"Aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Kak Arga.
Aku mengangguk dan duduk terlebih dahulu. Sembari menunggu Kak Arga, aku meraih ponselku dan memainkannya.
'Gabut,' batinku.
Tak lama, datang pelayanan menghampiriku. "Mbak, ini makanannya," ucapnya seraya memberikan hidangan padaku. Dan menaruhnya di atas meja.
Aku mengerutkan keningku, "Tapi saya belum pesen apa-apa mbak," ucapku.
Pelayanan itu tersenyum, "Kalau gitu saya permisi ya mbak," ucapnya lalu melangkah pergi.
Aku masih mengerutkan keningku karena masih merasa bingung. Aku pun membuka tutup hidangan tersebut hingga menampilkan sebuah kertas di dalamnya.
'Please be my girlfriend.'
Itulah isi dari surat tersebut. Di waktu yang bersamaan, tiba-tiba cahaya menjadi temaram dan di sertai dengan munculnya lantunan musik. Beberapa orang menghampiriku seraya memberikanku setangkai bunga mawar.
'Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
'Ku harus milikimu
'Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
'Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
'Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Kak Arga yang sudah berada di sampingku pun memintaku untuk berdiri. Ia meraih tanganku dan berdiri tepat di hadapanku.
"Gue beneran sayang sama lo, Na. Gue pengen lo jadi pacar gue. Mau ya jadi pacar gue?" Kak Arga menatapku hangat.
Aku menatap matanya dan mulai mencari kebohongan. Namun hanya kata tulus yang aku temukan. Aku menghela napasku dan sejenak menunduk untuk mengatur rasa gugubku dan memikirkan jawaban yang aku berikan.
"Mau, ya?" pintanya.
Seluruh pengunjung kafe yang menyaksikan kejadian ini pun bersorak ria berharap aku menerima Kak Arga.
"Terima dong,"
"Iya, terima geh,"
"Cocok loh. Cowoknya ganteng, ceweknya cantik, dah jadian aja!"
"Kalau gue sih, langsung gue terima itu. Perjuangan banget coy!"
"Terima aja, Mbak. Beruntung embaknya bisa dapet cowok kaya gitu,"
Dan masih banyak lagi ucapan yang mereka keluarkan membuatku semakin dilema harus menjawab apa.
"Please," pinta Kak Arga dengan tatapan memohon.
Aku kembali menunduk dan dengan anggukan pelan aku menjawabnya. "Gue mau," jawabku membuat Kak Arga tersenyum lebar dan langsung membawaku ke dalam pelukannya.
Kak Arga melepas pelukannya dan menatapku lekat. "Gue janji gak akan nyakitin lo, apalagi bikin lo nangis. Gue bakal terus berusaha supaya lo jatuh cinta sama gue. Gue hanya butuh waktu buat ngehadirin cinta itu ada. Percaya sama gue," ucapnya.
Aku mengangguk membuatnya kembali tersenyum dan,
Cup!
Kak Arga mengecup keningku membuat pipiku merona. Ia terkekeh pelan lalu kembali memelukku.
'*Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
'Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta, kau tak cinta
'Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
'Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan*'
Risalah hati - Dewa 19
Jadi, siapa disini pendukung :
Alina & Kavin?
Alina & Arga?
Atau malah
Alina & Rafa?
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------