Started Without Love

Started Without Love
SWL 43




"Loh, Na? Kamu mau kemana?" tanya Ibu saat aku keluar dari kamar.


Aku tersenyum dan menghampiri. "Bu, Alina pamit ya? Mau ikut reunian sama temen-temen SMA."


"Sama Arga juga?" tanya Ayah.


Aku mengangguk. "Iya, Yah. Tapi aku belum bilang sama dia. Soalnya dari semalem susah banget dihubungin."


"Mau Ayah anter?" tanya Ayah.


Aku menggeleng dengan senyuman. "Nggak usah Yah, Alina udah pesen ojol di depan."


"Naik ojek?" tanya Ibu.


Aku lagi-lagi mengangguk.


"Yaudah, hati-hati ya. Jangan malem-malem pulangnya."


"Siap Bu. Yaudah, Alina pamit ya Bu, Yah," Aku mencium kedua tangan orang tuaku dan berjalan pergi.


Ojek online yang ku pesan sudah berada di luar. Dengan perasaan senang, aku pun memutuskan untuk menuju rumah Kak Arga terlebih dulu.


"Sesuai alamat ya Pak," ucapku lalu naik ke motor.


Tak butuh waktu lama, kini aku sudah sampai di sebuah rumah yang bernuansa putih tersebut. Aku memencet bel hingga seorang wanita paruh bawa berjalan keluar dan membukakanku gerbang.


"Pagi, Bi," sapaku pada asisten rumah tangga keluarga Kak Arga.


"Eh, non Alina. Cari Den Arga atau Non Alia?" tanyanya yang sudah paham sekali denganku.


"Arganya ada Bi?" tanyaku.


"Waduh, Den Arganya udah jalan dari pagi tadi non."


"Jalan dari pagi? Sama siapa ya Bi?" tanyaku bingung.


"Sama--"


"Alina!" teriak Alia membuatku menoleh dan melambaikan tangan. Ia pun berjalan menghampiriku.


"Bi, bibi masuk aja, biar Alina sama aku aja," ujar Alia pada si Bibi.


Si bibi mengangguk. "Permisi ya non Alina, non Alia."


Saat si Bibi sudah menjauh Alia pun mengajakku untuk masuk ke dalam. Namun aku menolak.


"Emangnya Kak Arga jalan sama siapa Al pagi-pagi?" tanyaku yang masih penasaran.


"Emm, Bang Arga? Oh, itu, dia itu tadi sendiri. Iya, pagi-pagi dia udah pergi."


"Kemana?" tanyaku.


Alia menggaruk tengkuknya, membuatku merasa aneh dengan tingkahnya. "Ke rumah temennya. Katanya mau ngambil barang yang ketinggalan."


"Oh," ucapku yang masih merasa tak percaya dengan ucapan Alia.


"Oh ya Na, masuk dulu aja yuk? Kita makan-makan dulu, gue tadi abis buat Cake enak loh."


"Maaf Al, gue nggak bisa lama-lama, gue harus pergi. Soalnya gue udah ada janji sama temen-temen SMA gue," ujarku.


"Yahh, sayang banget. Terus lo naik apa? Gue anter aja ya?"


"Tadi lo kesini naik ojol?"


"Iya. Yaudah gue pesen ojol dulu ya."


Aku pun segera memesan ojek online yang baru, dan baru dua menit aku memesan, ojek online tersebut sudah berada di hadapanku.


"Al, aku pamit ya?" ucapku pada Alia.


"Iya, Na. Hati-hati ya!" ucapnya seraya melambaikan tangan.


Setelah di rasa siap, ojek online ini pun mulai melaju untuk mengantarkanku ke tempat yang ingin ku tuju.


Butuh waktu Tiga Puluh menit untuk aku sampai di kafe yang menjadi tempat kami berkumpul.


Aku menyerahkan helm seraya menyerahkan lembaran uang kepada ojek tadi dan langsung menuju kafe tersebut.


Sudah banyak motor dan juga mobil yang terparkir disini. Aku rasa mereka sudah banyak yang datang. Karena seperti yang dikatakan Nana, bahwa kafe ini sengaja di booking untuk kami.


"Alina!" teriak Nana saat aku mulai memasuki kafe tersebut.


Dan benar apa dugaanku, disini sudah ramai teman-teman SMAku. Bahkan Anan pun hadir disini.


Disini juga aku melihat Kavin bersama Nabila. Keduanya berada tepat di samping Anan dan Nana.


Aku bingung harus duduk dimana, sedangkan Nana saja memanggilku.


Aku melemparkan pandanganku mencari keberadaan Deca, namun aku belum melihatnya. Sepertinya Deca belum datang.


"Na, sini!" panggil Nana lagi.


Baiklah, mau tak mau aku harus menghampirinya.


"Hai," sapaku pada mereka saat aku berada di hadapan mereka.


Aku menarik kursi yang berada disamping Nana dan duduk disampingnya.


"Deca belum dateng?" tanyaku.


Nana menggeleng. "Dia bareng Ari kayanya."


Aku membulatkan bibirku membentuk huruf 'o'. Dan tak sengaja mataku bertemu dengan mata Kavin yang tengah melihat ke arahku.


"Ehem! Jangan liat-liatan, ada ceweknya tuh sebelahnya," bisik Nana di telingaku.


Aku tersenyum miring dan menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka.


"Sapa tuh yang dateng?" ucap Bimo, salah satu temanku.


"Eh, Amara tuh Na!" celetuk Nana membuatku terkejut.


Tidak, tidak, aku bukan terkejut melihat Amara. Tapi aku terkejut dengan orang yang kini bersama Amara.


"Kak Arga?" ucapku membuat sang pemilik nama ikut menoleh ke arahku.



Jangan lupa klik ♥️ dan tulis komentarnya ya! ✨