
"Alina, cepetan!"
Aku segera meraih tasku dan berjalan ke depan menemui Alia dan Yoga yang sudah menungguku di depan.
Yoga dan Alia sengaja menjemputku karena hari ini adalah hari kami semua melaksanakan makrab yang sudah di rencanakan sejak satu minggu yang lalu.
Aku berjalan menghampiri Alia dan Yoga yang tengah di temani oleh Ibu.
"Ayo," ajak Yoga begitu aku sampai di hadapan mereka.
"Bu, Alina berangkat ya?" ucapku seraya mencium tangan Ibu.
"Tante, Yoga berangkat ya?"
"Te, Alia berangkat ya?"
Ibu mengangguk setelah kami bertiga meminta izin untuk pergi. "Kalian bertiga hati-hati ya? Untuk Yoga, jagain Alina dan Alia ya?"
Yoga mengacungkan jempolnya, "Siap, te! Yoga siap menjaga dua kurcaci kurcaci ini," ucap Yoga yang langsung mendapatkan pukulan dariku dan Alia.
"Yaudah bu, kami berangkat. Assalamualaikum," ucapku dan menarik mereka berdua.
"Wallaikumsalam."
Setelah menaruh barang-barang ke dalam bagasi, kami bertiga langsung masuk ke dalam mobil dengan Yoga yang akan mengemudikannya.
"Kita langsung ke TKP atau ke kampus dulu, sih?" tanya Yoga sebelum melajukan mobilnya.
Aku mengenggelengkan kepalaku tak tahu karena memang saat itu aku tak mendengarkan arahan yang di jelaskan Kak Arga dan aku pun tidak bertanya lagi kepadanya.
"Gue tanya ke yang lain sih katanya ke kampus dulu. Soalnya kita bakal naik bis gitu kesananya," ujar Alia.
Yoga menatap Alia tajam, "Kalau gitu ngapa lo nyuruh gue bawa mobil? Mau taruh dimaba coba mobil gue ini."
Alia menahan tawanya, "Santuy kali, taruh aja di jurusan kita. Kalau gak lo jual aja nih mobil, ya gak Na?"
Aku mengangguk dan tertawa, "Setuju-setuju, 'kan lumayan tuh buat beli cemilan."
Alia mengangguk mantap, "Hahaha, betul-betul, bisa buat stok 'kan?"
Yoga yang mendengarkan kami berdua hanya mampu memutar bola matanya malas. "Sinting lorang!"
Aku dan Alia hanya bisa tertawa melihat Yoga yang mulai mengambek.
"Eh, eh, Na, lo tahu gak?"
Aku menaikan kedua alisku dan memberi jeda Alia untuk melanjutkan ceritanya.
"Denger-denger, katanya Kak Arga mau nembak lo," lanjutnya.
Aku menyipitkan mataku, "Kata siapa? Kok lo bisa tau? Gue aja gak tahu."
Alia memutar bola matanya, "Ya jelas lo gak bakal tau lah, Na. 'Kan lo yang mau di tembak."
"Terus ngapain lo ngasih tahu gue?" tanyaku.
Alia tersenyum lebar, "Ya supaya lo tahu dan lo bisa mikirin jawaban apa yang bakal lo kasih buat Kak Arga nanti."
Aku memutar bola mataku mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alia.
Yoga yang sedang fokus mengemudi pun ikut mendengarkan ucapan Alia. "Kok lo tau banget sih, Al? Kemaren lo tahu kalau orang-orang pada gosipin Alina sama Kak Arga. Sekarang, lo tahu juga kalau Kak Arga mau nembak Alina. Atau jangan-jangan lo yang tukang gosipnya ya?" tanya Yoga yang ikut ku anggguki.
Alia melebarkan matanya, "Ya bukanlah! Enak aja. Gue 'kan--"
"Gue apa?" tanyaku memotong ucapannya.
"Gue 'kan, serba tahu. Apa sih yang gak gue tahu? Yoga suka sama gue aja, gue tahu."
Chittt!!!
Yoga mengeremkan mobilnya secara mendadak membuat aku dan Alia terkejut.
"Lo apa-apaan sih, Ga? Kalau kenapa-napa gimana coba?" tanyaku yang kesal dengan apa yang Yoga lakukan.
"Sorry Na, gue gak sengaja." Yoga kembali mengemudikan mobilnya seperti biasa lagi.
Alia tertawa, "Gue bercanda kali Ga. Gue mah gak pernah tahu soal perasaan orang. Perasaan sendiri aja gue gak tahu, gimana gue mau tahu sama perasaan orang."
Dan entah mengapa suasana di antara kami tiba-tiba menjadi canggung.
"Ayo semua yang namanya belum di sebut silahkan merapat."
Karena namaku belum di sebut dalam pembagian kelompok, aku pun mengikuti arahan panitia makrab untuk merapat.
Kali ini panitia makrab tengah membagikan kelompok untuk pelaksanaan makrab tahun ini. Setiap anggota dalam kelompok berbeda jurusan, itu sebabnya di adakan makrab ini, agar kita semua bisa saling menjalin keakraban dan bukan hanya dalam jurusan saja melainkan luar jurusan juga.
Alia dan Yoga yang namanya sudah disebut sejak tadi pun sudah memasuki bis masing-masing bersama kelompoknya untuk menuju tempat yang telah di siapkan untuk acara makrab tahun ini.
Dan kini tinggal aku sendirilah yang dari jurusan Sastra yang belum juga dipanggil.
"Baik, kelompok selanjutnya yaitu kelompok Angkasa, untuk nama-nama anggotanya silahkan di simak baik-baik." Panitia itu membuka kertas yang berisikan nama-nama kami, "Latifa Rinjani dari jurusan Ilmu Komputer, Azahra Maida dari jurusan Ilmu Komunikasi, Aurora Liza dari jurusan Matematika, Umi Amina dari jurusan Pendidikan Agama Islam, Afira Widini dari jurusan Akuntasi, Dania Hafiza dari jurusan Hukum, Alina Ayu Amanda dari jurusan Sastra,"
Aku mengulas senyumku begitu aku mendengar namaku di sebut dan segera maju ke depan untuk mengambil pita yang sudah di siapkan panitia untuk membedakan kelompok satu dengan yang lain.
"Dan Nabila Putri Dewani dari jurusan Manajemen."
Dia adalah Nabila yang saat itu berkenalan denganku. Dia adalah Nabila yang Kavin kenalkan padaku bahwa dia adalah pacarnya.
Nabila yang melihatku pun tersenyum tipis. Namun aku tahu, itu bukan senyum tulus yang biasa orang lain tampilkan. Ini hanya senyuman di gunakan untuk menutupi sesuatu yang terjadi.
"Baik, untuk kalian yang sudah di satukan dengan kelompok, silahkan masuk ke bis yang ada di ujung sana ya. Jangan berpencar dari kelompok. Karena setiap waktu kalian akan di absen."
Kami pun mengangguk dan langsung menuju bis yang sudah di siapkan di ujung sana.
Sesampainya di dalam bis, aku pun memilih kursi yang dekat dengan jendela. Sengaja, supaya aku bisa melihat pemandangan yang ada.
Aku masih sendiri di kursiku hingga akhirnya Nabila datang, "Boleh gue duduk disini?"
Aku menatap matanya sebentar sebelumnya akhirnya aku mengangguk.
Canggung. Itulah yang tengah kami berdua rasakan. Aku ingin sekali merutuki mengapa Nabila memilih duduk disini, padahal jelas-jelas kursi kosong masih banyak dan dia malah memilih duduk bersamaku.
Aku meraih ponselku yang berada di dalam tas. Aku melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Kak Arga.
Tak lama, tedapat panggilan masuk lagi darinya. Aku segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda persegi itu ke telingaku.
"Halo, kak?" ucapku mengawali.
"Halo, Na. Lo dimana? Udah dapet kelompok?"
Aku mengangguk refleks, "Udah, kak. Ini gue udah di bis."
"Yaudah, syukur kalau gitu. Gue ada di bis panitia. Kalau lo ada apa-apa, lo kabarin gue atau lapor ke panitia yang lain ya?"
"Iya, kak."
"Na,"
"Iya, kak? Ada apa?" tanyaku.
"Saat matahari mau tenggelam nanti, lo temuin gue ya?"
Entah mengapa aku langsung teringat dengan ucapan Alia saat di mobil tadi. Apa Kak Arga benar-benar akan memintaku untuk menjadi pacarnya.
"Halo, Na? Gimana? Bisa 'kan?
"Emm, iya kak. Bisa kak."
"Yaudah kalau gitu, gue matiin teleponnya."
Aku menaruh kembali ponselku ke dalam tas setelah Kak Arga memutuskan sambungan.
"Pacar lo?" tanya Nabila membuatku menoleh.
Aku menggeleng, "Bukan. Cuma temen aja," jawabku seadanya.
"Gue pikir lo udah ada pacar baru lagi," ucap Nabila yang sepertinya ia tahu apa yang terjadi denganku dan Kavin. "Kalau gue jadi lo, mungkin gue udah nyesel dan mungkin gue bakal sulit buat buka hati untuk cowok lain."
"Maksud lo?" tanyaku tak mengerti dengan apa yang Nabila ucapkan.
Nabila menatapku tanpa ekspresi, "Lo bego, Na. Lo bego!"
Aku menggeleng, "Gue gak ngerti,"
Nabila tersenyum kecut, "Gue tahu lo masih sayang sama Kavin dan bahkan masih cinta sama dia. Tapi, apa lo tahu apa yang terjadi sama Kavin selama ini? Apa lo tahu betapa terpuruknya Kavin saat orang tuanya bercerai? Apa lo tahu betapa sakit hatinya Kavin saat harus ngiklasin lo ke mantan pacar lo itu?"
Aku terdiam.
Nabila masih menatapku dengan senyum kecutnya, "Lo kemana aja selama ini? Apa ini yang lo sebut cinta? Seharusnya kalau lo memang cinta sama dia, kenapa lo ngebiarin dia pergi Na? Kenapa lo gak usaha buat nyari dia? Seharusnya lo yang ada disamping dia saat masa-masa sulit dia, bukan gue."
Air mataku jatuh namun segera aku menyekanya, "Maafin gue Bil. Gue memang cewek bego."
"Buat apa lo minta maaf sama gue? Lo pikir dengan lo minta maaf ke gue, gue bakal nyerahin Kavin buat lo? Sorry, Kavin udah terlanjur sayang sama gue. Karena gue-lah satu-satunya cewek yang ada di samping dia saat dia terpuruk!"
Aku meraih tangan Nabila, "Boleh gue ngomong sama Kavin? Gue mohon, Bil. Kasih gue kesempatan untuk minta sama Kavin. Setelah itu gak bakal ganggu-ganggu dia lagi."
"Lo yakin?"
Aku mengangguk mantap, "Gue yakin! Setelah gue minta maaf dan nyelesain masalah gue sama dia, gue bakal pergi dan gak akan muncul lagi di kehidupannya."
Nabila mengangguk, "Gue bantu lo untuk nyelesain masalah lo sama dia."
Aku tersenyum.
"Tapi setelah itu lo harus lupain dia dan biarin dia bahagia sama gue."
Aku menghela napas dan akhirnya mengangguk. Walau dalam hati sebenarnya aku tak rela jika harus merelakan Kavin dengan wanita lain.
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------