
"Lo mau gak jadi pacar gue?"
Aku terdiam.
Kak Arga menatapku dengan penuh harap. Sadar akan tatapannya, aku sengaja mengarahkan pandanganku ke arah lain. Aku menatap tepat lurus ke depan, dimana matahari mulai tenggelam.
"Na,"
Aku menghela napas panjang dan membalas tatapannya. Aku menatap mata Kak Arga yang begitu mengharapkanku.
"Plis, terima gue ya?" Kak Arga menatapku lekat. "Gue sayang sama lo, Na." Kak Arga menggenggam tanganku dan terus meyakinkan.
"Tapi kak,"
Kak Arga mengangguk, "Gue tahu lo gak ada rasa apapun ke gue. Tapi gue yakin gue bisa buat lo jatuh cinta sama gue. Beri gue sedikit waktu, Na."
Aku menghela napas, "Maaf kak,"
"Gue gak minta jawaban lo sekarang. Gue bakal nunggu waktu yang menurut lo tepat. Tolong lo pikirin lagi, Na."
Aku menunduk. Aku tak tahu apalagi yang harus aku ucapkan. Aku tak mencintainya. Aku tak ada rasa sedikit pun padanya. Dan cinta tak bisa di paksa.
"Plis, Na. Gue mohon, tolong beri gue sedikit waktu. Biar cinta datang karena terbiasa." Kak Arga menggenggam tanganku dengan begitu erat.
Aku mengangguk membuatnya tersenyum. Namun entah mengapa, aku tak merasakan hal apapun. Aku hanya tersenyum menutupi lukaku.
Ketika aku memberikan sebuah harapan baru, aku merasa seakan menanam luka yang suatu saat ia akan tumbuh dan berkembang hingga akhirnya melukai seseorang.
Aku tak tahu yang aku lakukan ini benar atau salah. Bahkan yang aku lakukan ini pun bukan keinginan hatiku. Kak Arga memang baik. Dia sangat baik. Dia lelaki yang sempurna. Namun, aku tak bisa membuka hatiku untuknya.
Jika memang cinta datang karena telah terbiasa. Aku akan melakukannya. Namun bagaimana caraku untuk melupakan Kavin? Aku tak tahu caranya dan akupun tak ingin melakukannya. Cintaku terlalu besar padanya.
Bagaimana bisa aku berharap kepada seseorang yang jelas-jelas tidak mengharapkanku.
"Emm, Kak, aku balik ke tenda ya?" Aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan Kak Arga sendiri di bibir pantai.
Perasaanku tidak tenang. Aku ingin segera sampai di tenda dan menenangkan pikiranku. Setidaknya aku masih memiliki waktu sebelum acara inti dari makrab ini dilaksanakan.
Mengenai Kak Arga dan Kavin yang berkelahi tadi, tidak banyak yang tahu.
Aku yang baru saja sampai di tenda, tak sengaja melihat Kavin dan Nabila. Nabila tengah mengobati luka Kavin. Aku yang melihat hal itupun segera masuk ke dalam tenda. Aku tak ingin semakin melebarkan luka.
"Lo kenapa, Na? Muka lo kok di tekuk gitu?" tanya Latifa yang tengah sendiri di dalam tenda.
Aku menggeleng, "Yang lain kemana?" tanyaku.
"Lagi liat sunset kayanya."
"Lo gak liat juga?" tanyaku padanya.
Latifa menggeleng, "Gue gak suka liat sunset."
Aku mengangguk hingga bibirku membentuk huruf 'o'. Aku merebahkan tubuhku di samping Latifa.
"Na, denger-denger katanya lo pacarnya Kak Arga ya?" tanya Latifa membuatku terbatuk dan langsung mendudukan diriku.
"Enggak, ah. Kata siapa? Gue sama Kak Arga gak pacaran kok. Cuma deket aja," jawabku.
Latifa tertawa, "Lo deket sama Kak Arga pasti di comblangin sama Alia, ya?"
Aku mengerutkan keningku, "Lo tahu mereka kakak beradik?"
Latifa menghela napas, "Ya tahulah, gue 'kan dulu satu SMA sama Alia. Cuma kita orang gak deket sih. Cuma sekedar say hello aja. Dan Kak Arga pun dulu kakak kelas gue."
"Jadi lo tahu dong Kak Arga itu orangnya kaya gimana," ucapku yang langsung mendapat anggukan oleh Latifa.
"Dia baik banget Na, orangnya. Gue juga dulu pernah suka sama dia, dulu tapi. Sekarang udah enggak kok. Pokoknya ya Na, waktu di SMA dulu, dia itu most wanted boy-lah." Latifa menjelaskan dengan begitu semangat.
"Sepopuler itu ya dia di SMA?"
Latifa mengangguk. "Karena itu Alia males ngaku ke orang-orang kalau Kak Arga itu kakaknya. Karena apa coba?"
Aku menaikan kedua alisku.
"Karena, kalau orang-orang tahu dia adiknya Kak Arga, mereka bakal ngedeketin Alia dan ngebuat Alia jadi temen deketnya. Tapi setelah mereka gagal dapetin Kak Arga, mereka bakal ninggalin Alia gitu aja."
Latifa mengangguk.
"Bye the way, lo tau mereka kakak beradik dari mana?" tanyaku penasaran.
Latifa tertawa, "Gue waktu itu dapet tugas kelompok sama Alia, dan gue gak sengaja liat Kak Arga ada di rumah Alia. Gue kaget dong saat itu. Tapi Alia langsung ngejelasin ke gue yang sebenarnya. Karena itulah gue tahu. Tapi gue gak nyebarin ke yang lainnya sih. Karena gue tahu gimana rasanya jadi Alia kalau gue di posisi dia."
Aku mengangguk, "Iya, lo bener."
Latifa tersenyum, "Eh, lo tahu gak sih, pacarnya Nabila itu ternyata anak tenda sebelah ya?"
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"*****! Pantes aja dari tadi dia betah di depan. Gue kira ngapain tuh anak. Pas gue intip, ternyata lagi pacaran." Latifa kembali mengintip dari balik tenda, "Ganteng sih, cowoknya."
Aku menghela napas kasar. Sakit sebenarnya mendengarnya.
"Oh ya, kata Nabila lo penulis ya?" pertanyaan Latifa sontak membuatku melebarkan mata.
"Nabila bilang gitu ke elo?" tanyaku tak percaya.
Latifa mengangguk, "Iya, waktu kita di tenda tadi 'kan lagi bahas soal novel wattpad yang mau difilm-in tuh. Apa ya judulnya? lupa gue. Nah, terus Nabila bilang, katanya lo juga penulis novel."
Aku menggigit bibir bawahku, "Kok Nabila tahu ya?"
"Lah, bukannya kalian emang deket ya?" Latifa mengerutkan keningnya.
Aku menggeleng pelan, "Sebelumnya kita emang udah saling kenal sih. Tapi gue gak tahu kalau dia tahu gue suka nulis novel," ujarku.
"Ya mungkin sebelumnya dia liat novel lo kali. Makanya dia tahu. Novel lo udah sampai toko buku seluruh indonesia 'kan?" tanya Latifa.
"Iya."
"Nah, ya mungkin karena itu kali makanya dia tahu," ucap Latifa dan mungkin memang seperti itu.
Aku menghela napas dan melihat ke depan melalui celah jendela. Sedih rasanya melihat seseorang yang kita cintai bersama wanita lain. Seharusnya aku yang berada di samping Kavin, bukan Nabila.
"Fa," panggilku membuat Latifa menoleh. "Gue boleh nanya gak?" tanyaku.
Latifa tertawa, "Nanya tinggal nyanya kali."
Aku tersenyum mendengar ucapannya, "Kalau seandainya lo cinta seseorang, tapi seseorang itu gak cinta sama lo. Dan tiba-tiba ada orang baru yang bilang kalau dia cinta sama lo dan dia nembak lo. Apa yang lo lakuin?"
"Terima orang baru itulah," ujar Latifa.
"Kenapa?"
"Ya, gimana ya Na. Ketika kita mencintai seseorang, tapi seseorang itu gak cinta sama kita. Ya, buat apa sih? Buang-buang waktu aja, Na."
Aku mencerna ucapan Latifa, "Jadi lo bakal terima orang baru itu? Tapi kalau lo gak cinta, gimana?"
Latifa menghela napas, "Susah juga sih. Tapi, coba lo percaya kalau cinta ada karena terbiasa Na," ujarnya.
"Emang lo percaya kalau cinta ada karena terbiasa?" tanyaku padanya.
Latifa mengangguk, "Karena kita gak bisa memaksakan semua yang kita inginkan, Na. Coba lo belajar menerima dia, gue yakin lo bakal terbiasa dan lama-lama lo akan cinta."
Aku mengerutkan keningku, "Kok gue?"
"Lo lagi bahas Kak Arga, 'kan?"
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------