Started Without Love

Started Without Love
SWL 34




Lembaran kertas putih dengan beberapa tumpuk buku memenuhi seisi kamarku. Dengan punggung yang ku sandarkan di kursi, aku fokus mengerjakan tugas yang diberikan Pak Purbi. Sepulang dari kampus, aku, Yoga dan Alia berpisah di jalan dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Ini sudah hampir Lima jam aku berkutik di depan laptop dengan deadline tugas yang harus di kirim paling lambat jam 5 sore.


"Na, ada tamu." Ibu berjalan menghampiriku dan melihat lembaran kertas memenuhi seisi kamarku.


Aku berdecak kesal. "Siapa lagi sih jam segini namu? Nggak tahu apa aku lagi pusing."


Ibu tersenyum. "Yaudah, temuin aja dulu," Ibu kembali berjalan keluar dan menuju dapur.


Aku kembali berdecak lalu bangkit dan berjalan keluar untuk menemui tamu yang Ibu maksud.


Dengan wajah kusut dan rambut yang ku ikat asal, aku berjalan menuju ruang tamu. Namun aku segera mengerutkan dahiku saat melihat tidak ada orang disini.


"Kemana tamunya?" tanyaku pada diri sendiri lalu berjalan keluar mencari keberadaan tamu yang ibu maksud.


Aku melebarkan mataku dan tersenyum saat menyadari Kak Arga tengah berdiri dann menampilkan deretan giginya. Ia berjalan menghampiriku dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Nih," ucapnya memberikan paper bag tersebut.


Aku tersenyum dan meraihnya. "Buat aku?"


Kak Arga mengangguk. "Aku tahu kamu lagi pusing," ujarnya.


Aku membuka paper bag yang ia berikan dan melihat banyak makanan ringan yang aku sukai di dalamnya. Aku tersenyum lebar dan menatapnya. "Makasih banyak," ucapku terharu.


Ia lagi-lagi mengangguk. "Seneng 'kan?"


"Seneng banget," jawabku membuatnya terkekeh.


Ia terkekeh sembari mengacak rambutku gemas. "Nggak usah terlalu pusing sama tugas. Jalanin aja, nanti juga kelar."


Aku mengangguk membenarkan. "Makasih ya,"


"Makasih terus," ucapnya tertawa membuatku ikut tertawa.


"Masuk dulu yuk?" ajakku padanya.


"Aku mau langsung pulang aja," ujarnya.


Aku mengerutkan dahiku, "Lah kenapa?"


Ia tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku dengan lembut seraya mencondongkan badannya ke depan. "'Kan tugas kamu belum kelar. Kalau aku disini, yang ada nggak kelar-kelar."


Aku tersipu. "Makasih loh udah ngertiin."


Kak Arga mengulas senyum dan menghela napas panjang. "Makasih mulu. Nggak capek apa? Aku aja capek denger kamu makasih-makasih-makasih." Kak Arga mempraktikan gaya bicaraku.


Aku terkekeh melihatnya. "Yaudah, gomawo,"


Kak Arga melebarkan matanya. "Gomawo apaan?" tanyanya tak mengerti.


Aku tertawa. "Gomawo artinya makasih. Itu dari bahasa Korea."


Aku mengangguk membenarkan. "Suka musik sama dramanya aja sih."


"Kapan-kapan nonton konsernya, mau?"


Aku melebarkan mataku dan berbinar. "Seriusan?"


Kak Arga mengangguk mantap. "Seriuslah. Masa boong?"


Aku melebarkan mataku dan langsung memeluknya erat.


"Bayar sendiri tapi," ucapnya membuatku melebarkan mata dan kesal.


Aku pun segera mencubit pinggangnya membuatnya berteriak.


"Ampun, Na. Ampun!"


Melihatnya meminta ampun, tiba-tiba aku terdiam. Aku teringat Kavin. Bukan-bukan, maksudku aku teringat moment seperti ini. Kavin,


Ya, aku ingat jika aku sering sekali mencubit pinggang Kavin dan membuatnya berteriak minta ampun seperti yang Kak Arga lakukan tadi.


Aku terdiam dan menunduk. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Aku memegang dadaku yang terasa sesak dan memejamkan mataku. Entah mengapa rasanya sakit.


"Kamu kenapa?" Kak Arga terlihat khawatir dan menatapku.


Aku menghela napas dan menggeleng dengan senyuman. "Aku nggak papa kok."


"Yakin?"


Aku mengangguk. "Aku nggak papa. Beneran," ujarku meyakinkannya.


Kak Arga akhirnya mengangguk mengerti. "Yaudah, kalau gitu, aku pulang ya? Kamu jangan capek-capek, terus di makan cemilannya. Biar nggak bad mood."


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Aku pulang ya?" ucapnya.


"Iya. Hati-hati ya?"


Kak Arga mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan rumahku.


Setelah memastikan mobilnya tak terlihat lagi, aku pun kembali ke kamarku dengan paper bag yang ku bawa ke kamar.


Dengan pandangan kosong, aku mendudukan diriku di atas kasur.


"Kenapa lo selalu muncul di hati dan pikiran gue sih, Vin?" ucapku lalu mengusap wajahku gusar. "Gue seharusnnya lupain lo. Nggak kaya gini," Aku menghela napasku kasar. "Seharusnya dengan adanya Kak Arga yang begitu perhatian, gue harusnya lupain lo. Bukan makin teringat lo. Meskipun rasa cinta gue ke Kak Arga mulai tumbuh, tapi kenapa lo semakin muncul di pikiran gue?"


Aku beralih menatap makanan ringan yang berada di dalam paper bag tersebut. "Lo terlalu baik buat gue yang udah jahat sama lo, Kak." Aku menghela napas gusar. "Tapi gue bakal terus berusaha mencintai lo. Gue pasti bisa. Buktinya aja, gue seneng setiap ada di hari-hari gue. Ya, gue yakin gue udah mencintai lo."



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!