Started Without Love

Started Without Love
SWL 40




"Kenapa gue berasa jadi obat nyamuk ya?" ucapku pada kedua sahabatku yang sudah resmi jadian.


"Ah, jangan ngerasa gitu, ah," ucap Alia lalu tertawa.


"Iya, Na. Jangan ngerasa gitu," timpa Yoga.


Aku memutar bola mataku, "Iya, iya, gak ngerasa gitu lagi."


Aku menghela napas lalu menyenderkan punggungku di dinding. Tanpa sengaja, aku menoleh ke samping dan melihat dua orang yang sangat tak asing bagiku.


"Deca? Nana?" ucapku lirih. Aku berusaha duduk tegak dan memperjelas apa yang aku lihat. Ya, itu Nana dan Deca.


"Nana! Deca!" teriakku pada keduanya.


Keduanya menoleh dan langsung menghampiriku. Aku memeluk keduanya begitu erat.


"Kangen," ucapku pada keduanya.


"Kangen juga," ucap Nana dan Deca dengan manja.


"Kalian kapan pulang? Terus kenapa nggak bilang dulu sama aku?" tanyaku yang masih ingin bermanja kepada kedua sahabatku.


"Niatnya kita itu masih ngasih kejutan buat kamu. Eh malah kamu udah liat kita duluan disini," ujar Nana membuatku tertawa.


"Yah, coba tadi aku nggak usah manggil kalian ya?" ucapku dan membuat kedua tertawa.


"Kalian memang libur kuliahnya?" tanyaku.


Nana dan Deca mengangguk.


"Kamu nggak ngampus Na?" tanya Nana padaku.


"Ngampus, cuma udah pulang. Oh ya, kenalin, ini Alia sama Yoga," ujarku memperkenalkan kedua sahabat baruku.


"Alia,"


"Nana,"


"Yoga,"


"Nana,"


"Alia,"


"Deca,"


"Yoga,"


"Deca,"


keempat sahabatku saling berkenalan membuatku tersenyum senang.


"Oh ya Na, Kavin mana?" tanya Nana membuat Yoga dan Alia saling menatap.


Aku terdiam sejenak.


"Kata Anan, Kavin ada di Jakarta, terus katanya dia satu kampus sama kamu. Bener 'kan?" Nana kembali memastikan.


Aku mengangguk lirih. "Iya, bener."


"Atau jangan-jangan malah udah jadian?" celetuk Deca.


Aku terbatuk mendengar ucapan Deca barusan.


"Alina udah punya pacar. Dan pacar Alina itu abang gue," jawab Alia kepada kedua sahabatku.


Deca dan Nana hanya bisa saling menatap lalu mengangguk mengerti.


"Sorry, Na. Kita fikir kamu baik-baik aja sama Kavin," ujar Nana lirih.


Aku tersenyum. "Aku emang baik-baik aja kok sama Kavin. Tapi kita berdua mutusin buat temenan aja."


"Yakin?" tanya Deca.


Aku menghela napas dan mengangguki pertanyaannya.


"Yah, padahal kita berharap lo pacaran sama Kavin," ucap Deca yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Nana.


Aku tertawa dan mencoba terlihat baik-baik saja. "Kenapa malah ngomongin Kavin, sih."


"Eh, kenapa kita nggak langsung masuk aja? Kalian berdua nonton Mariposa juga 'kan?" tanya Yoga pada Deca dan Nana.


Nana mengangguk membenarkan.


"Kalian studio berapa?" tanya Alia.


"Dua," jawab Nana.


"Wah, sama. Yaudah yuk langsung masuk aja," ajak Alia dan kami berlima pun memasuki studio teater.


Dan, entah kebetulan atau apa, ternyata kami berlima duduk dalam satu barisan.


"Ca, itu Kavin 'kan?" ucap Deca pada Nana. Namun terdengar olehku.


Aku yang berada di samping Nana pun ikut menoleh ke arah yang sama. Dan kini, mataku dan Kavin pun bertemu.


Kavin mencoba tersenyum dan aku berusaha terlihat biasa saja.


"Na, lo liat?" tanya Nana yang sadar jika aku juga melihat Kavin.


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


"Lo masih nyimpen rasa sama dia?"


Aku tertawa. "Ya enggaklah. Lagian aku juga udah punya pacar, dia udah punya pacar."


Nana tersenyum. "Bagus deh kalau gitu."


"Kenapa emangnya?"


"Gue pengen kita reunian,"


"Re-reunian?!" Aku melebarkan mataku.



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!