
Aku berjalan memasuki rumah tahanan. Menemui seseorang yang kini tengah terdiam di balik jeruji besi.
Aku tak sendiri. Melainkan ditemani Yoga dan Alia. Aku sengaja tak memberitahu Kavin masalah ini dan kedatanganku kemari. Biarkan nanti aku yang menjelaskan padanya.
Aku berbalik dan menatap kedua sahabatku tersebut. Keduanya mengangguk dan menguatkan jika aku bisa.
Tak menunggu waktu lama, Kak Arga datang menghampiri kami dengan di kawal seorang polisi.
Ia menatapku dari kejauhan. Ada rasa menyesal yang menghinggapi raut wajahnya.
"Alina," ucapnya saat sampai dan duduk persis di hadapanku.
Aku melihat kantung matanya yang menghitam, rambut yang berantakan, serta kaus pidana yang ia kenakan. Penampilannya saat ini jelas sangat jauh dari dia sebelumnya.
Alia sudah menangis lebih dulu, namun untungnya Yoga segera menenangkannya dan mengajaknya berbicara di luar.
Dan kini, tinggallah aku dan Kak Arga, serta seorang polisi yang mengawasi kami dari kejauhan.
Aku terdiam dan terus menunduk. Bibirku masih sulit untuk mengeluarkan sepatah kata. Aku seolah membeku dan tak mampu walau sekedar manatap matanya.
Ada rasa takut, menyesal, marah, benci, sekaligus rasa bersalah dalam diriku. Semua rasa itu bercampur dan membuatku bingung harus melakukan apa.
Hingga tangan Kak Arga perlahan meraih tanganku. Namun dengan reflek, aku malah menepisnya. Seolah-olah ia adalah sesuatu yang tidak pantas untuk di sentuh.
Aku merutuki diirku dan kembali menunduk. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Diam, diam dan diam.
"Sorry," ucapnya dengan suara parau.
Aku masih terdiam. Namun dengan memberanikan diri, aku menatapnya dan berkata, "Kenapa kaya gini?"
Kini malah Kak Arga yang menunduk. Ia tak menjawab pertanyaanku.
"Kenapa Kak?" Air mataku luruh begitu saja. Ada rasa sesak yang menghinggap di dalam sana. Aku segera menyekaku dan kembali menatapnya. "Kenapa?"
Kak Arga masih terdiam.
Aku menggoyangkan lengannya dan kembali berkata, "Kenapa jadi kaya gini?"
Kak Arga tetap diam. Hingga sebuah air mata jatuh melewati pipinya. Baru kali ini aku melihatnya menangis.
Kalau boleh aku deskripsikan, mungkin saat ini Kak Arga terlihat seperti orang yang tak berdaya. Tak tahu apa yang harus dilakukan dan tak tahu harus berkata apa.
Aku kembali menangis dan kali ini akau menangis sejadi-jadinya. Bukan karena rasa cinta ataupun semacamnya. Bukan. Ini bukan perasaan seperti itu. Melainkan sebuah rasa kecewa, marah pada diri sendiri dan merutuki apa yang sudah terjadi.
Jika boleh mengulang waktu, mungkin aku memilih untuk tidak menerima perasaannya. Atau mengijinkannya untuk memasuki kehidupanku. Atau bahkan aku tak akan mengijinkannya untuk mengenalkan.
Sebab jika tidak mengenalku, semua ini tidak akan terjadi padanya. Dia tidak akan menderita dan tentunya dia tidak akan masuk ke penjara seperti ini.
Aku menatapnya dengan tatapan bersalah yang amat besar.
Namun detik setelahnya, ia juga menatapku dengan tatapan yang sama. "Maafin aku, Na. Aku sama Amara itu nggak ada—"
"Iya aku tahu!"
Kak Arga melebarkan matanya. Ia terkejut dengan penuturan ku yang mengatakan jika aku sudah tahu apa yang terjadi.
"Alia yang kasih tahu semuanya," ujarku.
Tatapan terluka kembali terlihat di wajahnya. "Jadi kamu udah tahu semuanya?"
Aku mengangguk membenarkan.
"Iya, aku maafin Kak Arga. Aku juga minta maaf karena selama ini aku lebih mentingin perasaan aku sendiri tanpa aku peduliin perasaan Kakak."
Kak Arga tersenyum. "Aku lega kamu maafin aku, Na. Tapi, aku sedih karena setelah aku nggak bisa liat kamu lagi."
Aku menaikkan kedua alisku.
"Orang yang aku tabrak meninggal di tempat kejadian."
Aku terkejut. Sangat terkejut.
Kak Arga mengangguk seolah membenarkan rasa terkejut ku. "Aku seneng kamu udah kembali dapetin Kavin. Dan aku harap, emang Cuma Kavin-lah yang terbaik buat kamu. Karena aku tahu gimana besarnya rasa cinta kamu ke dia dan bagaimana juga rasa cinta dia ke kamu."
Aku terdiam dan tak percaya dengan apa yang Kak Arga ucapkan.
"Tenang aja. Aku nggak akan minta kamu balikan sama aku kok. Lagipula, apa kata orang-orang kalau kamu pacaran sama narapidana kaya aku," ucapnya dengan nada tertawa.
Aku tersenyum tipis. Aku tahu bahwa ia sedang menutupi lukanya. Ia tak benar-benar sedang bercanda.
"Oh ya, boleh aku titip pesen buat Kavin?"
Aku menaikan kedua alisku, "Apa itu?"
"Bilangin, kayanya tahun depan dia cocok jadi ketua BEM."
Aku melebarkan mataku. "Nggak! Nggak! Nggak!"
"Kenapa?"
"Aku nggak mau dia jadi famous di kampus," ujarku seraya melipat kedua lengan.
Kak Arga tertawa. "Kenapa?"
"Ribet tau punya pacar di kenal banyak orang. Apalagi ketua BEM. Nggak! Nggak! Nggak!"
"Bilang aja nggak mau nahan cemburu," godanya membuat pipiku merona karena malu.
"Ya, itu tahu!"
"Jadi selama ini aku juga udah sering bikin kamu cemburu dong?"
"Itu tahu!"
Kak Arga terkekeh dan tak lama setelah itu seorang polisi yang mengawasi kami tadi menghampiri dan mengatakan bahwa jam besuk sudah habis.
Aku mengangguk mengerti dan membiarkan Kak Arga kembali masuk ke dalam jeruji besi itu.
Sebelum benar-benar masuk ke dalamnya, Kak Arga sempat melambaikan tangan kepada dan mengatakan, "Semoga lo bahagia sama Kavin," itulah kalimat yang dapaat ku dengar dari bibirnya.
Aku masih tersenyum ke arahnya sampai benar-benar ia masuk dan polisi menguncinya.
Ia masih memandangku dengan senyuman. Seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya.
Aku kembali membalas senyumannya dan menitihkan air mata. Dadaku terasa sesak. Aku mendongak ke atas namun percuma, air mataku tetap jatuh.
"Ayo pulang, Na. Gue nggak mau liat Bang Arga semakin terluka karena lo masih disini."
Aku mengangguk dan menyeka air mataku. Lalu melangkah pergi meninggalkan tempat ini.