Started Without Love

Started Without Love
SWL 41




"Hati-hati ya!" teriakku pada Alia dan Yoga setelah turun dari mobilnya.


Sekarang tepat pukul tujuh malam. Aku segera masuk ke dalam karena takut di tunggu oleh Ibu. Walau sebelumnya aku sudah bilang pada ibu kalau aku akan pergi menonton bersama Alia dan Yoga.


"Assalamualaikum,"


"Wallaikumsalam," jawab Ayah dan Ibu yang tengah menonton televisi.


Aku menghampiri kedua orang tuaku dan duduk di antara mereka. "Lagi nonton apa Yah, Bu?"


"Tahu tuh, Ayahmu. Dari tadi berita mulu. Padahalkan Ibu mau nonton sinetron kesukaan ibu," dumal Ibu membuatku terkekeh.


"Iya, iya, ngadu terus aja sama anaknya." Ayah mengganti channel televisi membuat Ibu tersenyum lebar.


"Nah, gitu geh," ucap Ibu tersenyum puas membuatku tertawa.


"Ayah sama Ibu ini lucu. Kaya temen aku tahu gak," ucapku tertawa.


Ayah menoleh, "Pasti temenmu itu ganteng?"


"Pasti yang cewek cantik?" timpa Ibu.


Aku melipatkan kedua tanganku di depan dada. "Ya, lumayan. Mereka baru aja jadian. Dan tahu gak Yah, Bu? Mereka itu awalnya berantem mulu tiap hari di kampus. Eh, tahunya dua-duanya saling memendam rasa. Hadehh," ucapku membayangkan Alia dan Yoga yang setiap hari bertengkar.


Ibu mengangguk, "Kaya Ayah dulu. Ayah selalu aja ngajak Ibu berantem. Kayanya belum lengkap kalau belum bikin Ibu marah."


Aku tertawa mendengar cerita Ibu.


"Ibumu tu yang dari dulu ngambekan. Padahal 'kan Ayah cuma bercanda, eh Ibumu udah ngomel panjang lebar," sahut Ayah.


"Gak gitu Mas, kamu itu dari dulu gangguin aku terus, ya aku kesellah. Tapi aku udah tahu sih sebenarnya kamu gangguin aku karena kamu ada rasa sama aku. Ya 'kan?" ucap Ibu.


Ayah mengangguk, "Emang iya. Salah siapa bikin orang jatuh cinta."


Ibu tersipu malu mendengar ucapan Ayah. Aku pun ikut tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Ayah sama Ibu lucu,"


Ayah dan Ibu pun tertawa.


Tak lama, Ibu menepuk jidatnya karena teringat sesuatu.


"Kenapa, Bu?" tanyaku.


Ibu menengok ke arah jam yang menempel di dinding. "Kamu capek gak, Na?"


Aku menggeleng, "Enggak kok, Bu. Kenapa emangnya?"


Ibu tersenyum lega, "Kalau gitu tolong kamu ke minimarket ya? Beliin Ibu pasta gigi. Tadi ibu udah ke warung sebelah, tapi katanya abis."


Aku mengangguk setuju, "Oke, deh."


Ibu tersenyum dan menyerahkan selembar uang padaku.


"Alina ke kamar dulu ya, Bu. Ganti baju dulu."


"Na, ayah titip minuman dingin ya?" ucap Ayah dan langsung ku balas dengan acungan jempol.


Aku melangkah ke kamar dan menaruh tas serta menganti pakaianku. Setelah selesai, aku pun meraih kunci motor dan segera pergi ke minimarket yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah.


"Udah, deh. Ini aja kayanya," ucapku pada diriku sendiri.


Setelah di rasa cukup, aku pun berjalan menuju kasir untuk membayarnya.


"Ada lagi Mbak?"


Aku menggeleng, "Udah itu aja Mbak," ujarku.


Kasir itu tersenyum lalu menyebutkan total belanjaanku. "Totalnya Empat Puluh Delapan Ribu Lima Ratus, Mbak."


Aku mengangguk dan meraih dompetku.


Aku membelalakan mataku saat aku sadar bahwa dompetku tertinggal dan berada di dalam tas. Aku menepuk jidatku dengan bodohnya.


"Bagaimana, Mbak?" tanya kasir tersebut membuatku semakin panik.


Aku merongoh kantongku dan tak menemukan uang disana. Rasanya ingin sekali aku merutuki diriku yang sangat bodoh ini. Bisa-bisanya dompet dan uang yang Ibu beri tadi aku tinggal di dalam tas dan tasnya ku taruh di kamar.


'Astaga, Alina. Kenapa **** lo kelewatan sih?' batinku.


Aku menggigit bibir bawahku menutupi rasa malu, "Maaf Mbak, barangnya bisa di balikin gak? Dompet saya ketinggalan," ucapku malu.


"Gabungin aja sama belanjaan saya Mbak," ucap seseorang di sampingku membuatku menoleh.


"Kavin?" ucapku dengan mata yang tak lepas menatapnya.


Kavin tersenyum tipis, "Kebiasaan," ucapnya membuatku mengerucutkan bibirku kesal.


"Setelah di gabung dengan belanjaan Embak ini, totalnya jadi Sembilan Puluh Sembilan Ribu Tujuh Ratus, Mas," ujar kasir tersebut.


Kavin menyerahkan selembar uang senilai seratus ribu pada kasir tersebut. "Kembaliannya ambil aja buat embak. Saya ikhlas," ucap Kavin membuat kasir itu terkekeh.


Bagaimana tidak terkekeh, uang cuma tiga ratus rupiah, dikasihin Mbak kasir.


"Nih," Kavin menyerahkan kantong plastik yang berisikan belanjaanku.


"Makasih ya? Nanti gue ganti," ucapku seraya berjalan keluar dari minimarket berbarengan dengannya.


"Gak usah, gue gak akan nagih kok.


"Serius nih?"


Kavin berdecak, "Yaelah Na, kek apa aja."


Aku mengangguk dan tersenyum. "Thanks ya?"


Kavin tersenyum membalasku.


Aku menggigit bibir bawahku dan menatapnya sejenak, "Kalau gitu, gue duluan ya?" ucapku lalu melangkah pergi meninggalkannya.


Setelah meninggalkan minimarket, aku membayangkan perkataan Nana yang ingin mengadakan reuni. Dan lebih membuatku dilema adalah Nana mengajak Kavin dan pacarnya, sedangkan Nana menyuruhku mengajak Kak Arga.


Apakah aku bisa?



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentar ya!