
Setelah kejadian menyakitkan di kafe dan tergantikan dengan kebahagiaan di halte, aku di antar pulang oleh pacarku.
Ya, Kavin Artana. Manusia paling menyebalkan yang pernah aku kenal.
Meskipun kini aku telah resmi menjadi pacarnya, entah mengapa aku masih sulit untuk memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Ya, mungkin saja karena kami terbiasa bersahabat.
Aku mengeluarkan kardus berwarna cokelat dari dalam lemari dan mengeluarkan sebuah bingkai foto.
Aku tersenyum menatap foto itu. "Kavin, Kavin, kenapa sih lo berhasil buat gue cinta mati sama lo?"
Aku menggenggam bingkai itu lalu merebahkan tubuhku di atas kasur. Tatapanku masih mengarah pada dua manusia yang saling jatuh cinta di foto itu. Ya, walau pun, saat foto itu di ambil, aku belum merasakan cinta padanya.
Karena pada saat itu, hatiku masih mengarah pada Rafa.
Bicara soal Rafa, apa kabar ya dia?
Ah, sudahlah. Aku tidak peduli. Yang jelas saat ini aku hanya ingin memikirkan Kavin. Kavin, Kavin dan Kavin.
"Kamu kenapa sih senyum-senyum dari tadi?" tanya Ibu yang melihatku sudah menggila sejak pulang tadi.
Ibu berjalan menghampiriku dan ikut merebahkan tubuhnya di atas kasurku.
Aku kembali tersenyum dan memeluk Ibuku. "Bu,"
"Apa?"
"Alina lagi seneng banget!"
Ibu mengernyit, "Kenapa? Pasti karena Arga? Iya?"
Aku berdecak. "Ish, kok Arga sih Bu? Ya, bukanlah!"
"Loh, terus?" tanya Ibu penasaran.
"Alina jadian sama Kavin!" ucapku membuat Ibuku terkejut.
"Kamu jadian sama Kavin?"
Aku mengangguk.
"Terus hubungan kamu sama Arga gimana? Kalian putus?"
Raut wajahku berubah, mengingat kejadian di kafe tadi membuatku sakit hati. Walaupun sudah ada Kavin yang mengobati, tetapi tetap saja aku benci dengan Arga.
Dia yang dulu mohon-mohon meminta waktu supaya aku jatuh cinta dengannya, dan dia juga yang meminta kesempatan untuk mengambil hatiku. Dan sekarang, saat dia berhasil. Dia hanya mempermainkan ku.
Memang, lelaki tidak tahu diri!
Aku benci dengannya! Sangat membencinya!
"Na, kenapa? Kamu belum cerita sama Ibu."
Aku menghela napas, "Bu, Arga nyakitin Alina."
"Nyakitin gimana maksud kamu?"
"Ternyata selama ini Kak Arga belum putus dari mantan pacarnya Bu."
Ibu melebarkan mata lalu mendekat ke wajahku. "Jadi dia cuma mainin kamu?" ucap Ibu lirih.
Bukan apa, Ibu hanya takut Ayah dengar. Sebab, seperti yang kita semua tahu, Ayah begitu menyukai Kak Arga. Aku takut Ayah akan marah dan malah menjadi super protektif setelah mengetahui anaknya disakiti.
"Terus, gimana kamu bisa jadian sama Kavin? Kata kamu, Kavin udah punya pacar."
Aku tersenyum lalu menjelaskan semuanya pada Ibu. Semua tentang hari ini dan tentang perasaan Kavin yang sebenarnya.
Kalian tahu sendirilah, Ibuku dan Ibu Kavin memang bersahabat. Bahkan mereka sempat membuat keputusan untuk menjodohkan anak mereka. Walaupun, saat itu mereka hanya bercanda.
"Kapan Kavin mau main kesini? Nanti Ibu buatin kue kesukaan dia."
Aku terkekeh dan memeluk Ibu. "Ibu seneng 'kan Alina sama Kavin?"
"Tentu Ibu senang, sayang." Ibu terkekeh lalu membalas pelukanku dan mengusap rambutku. "Malah Ibu pengen kamu jalanin hubungan yang serius sama Kavin."
Aku tersenyum, dalam hati aku berkata 'Aamiin'. Aku melepas pelukanku dan kembali menatap Ibu. "Emm, Bu, Alina boleh nanya?"
Ibu menaikkan kedua alisnya. "Nanya apa?"
"Alina boleh tahu nggak kenapa Ibu seneng banget kalau Alina pacaran Kavin?"
Ibu tampak berpikir. "Kenapa ya, Na? Ibu juga bingung. Tapi yang pertama sih, karena Ibu ngerasa Kavin anak baik-baik. Ya, walaupun anaknya suka nggak jelas gitu, tapi Ibu percaya kalau dia nggak mungkin nyakitin kamu."
"Kedua?" tanyaku.
Ibu kembali berpikir, "Anaknya asik."
Aku terkekeh. "Asik gimana?"
"Kamu tahu nggak, pas pertama kali Kavin dateng ke Ruko Ibu,"
"Oh, pas Alina disuruh beli tepung itu ya?" tanyaku.
Ibu mengangguk. "Iya, pas itu."
"Terus-terus gimana Bu?" tanyaku penasaran.
Ibu sudah tertawa lebih dulu sebelum menceritakannya padaku. "Jadi, dia itu 'kan bawa motor. Nah, mana motornya berisik banget 'kan? Dia itu turun dari motor langsung teriak."
Aku mengernyit, "Hah? Teriak gimana Bu?"
"Teriak gini, 'Bu! Kavin mau kue Bu!'" ucap Ibu sambil memperagakannya.
Aku tertawa mendengar cerita Ibu. "Lucu banget sih dia itu."
Ibu mengangguk. "Iya Na. Nah, terus, kamu inget 'kan pas kamu ke toko buku nggak izin dulu sama Ibu. 'Kan Kavin kesini sih,"
"Oh, iya iya! Alina inget! Yang dia nelpon nyuruh Alina cepetan pulang," potongku.
"Iya itu! Nah, dia itu dateng bawa tepung, margarin sama bahan-bahan kue lain. Terus dia bilang gini, 'Bu, tiba-tiba Kavin pengen kue buatan Ibu, buatin ya?'."
"Kavin bilang gitu Bu?" tanyaku yang sudah tak kuasa lagi menahan tawa.
Ibu mengangguk membenarkan. "Mana dia bilangnya itu sambil ngerangkul Ibu dah kaya anak sendiri gitu."
Aku tertawa, "Kavin, Kavin, ada-ada aja dia itu."
"Bu, Alina mana?" terdengar suara Ayah membuatku dan Ibu berhenti membicarakan Kavin dan menoleh ke arah pintu.
"Kenapa Yah? Itu martabak dari siapa Yah?" tanyaku saat Ayah masuk ke kamar dengan membawa martabak.
"Biasa, dari calon menantu Ayah. Itu dia ada di depan, Ayah udah suruh dia masuk."
"Maksud Ayah siapa?" tanyaku.
"Arga lah, siapa lagi," ucap Ayah lalu berjalan meninggalkan kamarku dengan senyuman lebar.
Jangan lupa klik ♥️ dan tulis komentarnya ya!