Started Without Love

Started Without Love
SWL 28




Tidak semua yang ada di dunia ini bisa aku miliki, termasuk Kavin. Meskipun aku sangat menginginkannya, tetapi takdir mengatakan tidak, lalu aku bisa apa?


Mungkin kalian jengah mendengarku yang selalu menceritakan tentang Kavin, Kavin, Kavin dan selalu Kavin. Mengapa bukan Arga?


Karena ini hati. Hatiku terjebak dengan nama Kavin. Aku sangat mencintainya.


Namun saat ini aku sadar, sekarang bukan saatnya aku terus-terusan terjebak dalam kegalauan yang membuatku tak bisa belajar membuka hati untuk yang lain.


Benar yang dikatakan Latifa dan ibu, yang namanya cinta tidak bisa dipaksakan sesuai mau kita. Jodoh sudah ada yang mengatur. Kuncinya kita hanya perlu berusaha. Tetapi kalau kita sudah berusaha dan hasilnya tetap sama, kita hanya perlu menyerahkan semuanya pada Tuhan. Pasti kita akan diberikan yang terbaik. Dan aku percaya akan itu.


"Alina!" teriakan Yoga menggelegar begitu aku melangkah memasuki kelas.


Pagi ini kelas masih sepi, hanya menampilkan Yoga dan dua temanku lainnya. Aku berjalan menuju kursiku yang berada tepat di samping Yoga.


"Kangen gue sama lo," ucapku membuatnya tersenyum lebar.


"Jelaslah! Gue 'kan orangnya ngangenin. Oh ya, lo gak bareng Alia berangkatnya?" tanya Yoga.


Aku menggeleng pelan. Sebenarnya setelah kejadian dimana Kak Arga dan Kavin berkelahi, aku tidak melihat Alia. Karena meskipun kami berada di tempat yang sama, kami berada di kelompok yang berbeda, begitu pun dengan Yoga.


"Nyariin gue ya?" Alia muncul bersamaan saat kami tengah membicarakannya.


Alia langsung memelukku dengan sangat erat membuatku kesulitan bernapas. "Kangennnn,"


"Lo gak mau meluk gue juga gitu?" tanya Yoga.


Alia melepas pelukannya padaku dan beralih ke Yoga. "Mau banget gue peluk?"


Yoga menaikkan bahunya, "Males sih, sebenarnya. Tapi kalau lo mau meluk, ya ayo pelukan,"


"Ogah!" Alia merenggut sebal mendengar ucapan Yoga yang menurutnya menjijikan.


"Udah, udah, debat mulu kalian ini," ucapku membuat keduanya diam.


Alia menarik kursi dan duduk disampingku dan Yoga, "Maafin gue ya karena udah gak jujur sama kalian berdua."


Aku langsung mengerti arah pembicaraan Alia. Namun sepertinya Yoga bingung.


"Soal apa sih?" Yoga menaikan kedua alisnya.


Alia menghela napasnya, "Jadi gaes, gue itu adik kandungnya Denis Arga Laksana."


"Hah? Demi apa lo?!" Yoga menatap Alia dengan perasaan tak percaya. "Beneran, Na?" Yoga beralih padaku.


Aku mengangguk, "Gue juga baru tahu kemaren," ucapku.


Alia menahan tawanya, "Lo orang sebenarnya lemot, tau gak! Seharusnya dari awal lo orang itu curiga kenapa nama gue persis banget sama Kak Arga. Dania Alia Laksani, Denis Arga Laksana. Mirip 'kan?" Alia menaikkan kedua alisnya.


"Iya, juga ya?" ucapku dan Yoga bersamaan.


Alia tertawa melihat ekspresi yang aku dan Yoga tampilkan.


"Terus nama Kak Dimas apa?" tanyaku.


Alia mengerutkan keningnya, "Lo kenal sama Kak Dimas?" tanyanya.


Aku menggeleng.


"Kok bisa tahu? Perasaan gue gak cerita tuh, dan memangnya Kak Arga cerita ke elo ya, Na?" tanya Alia bingung.


Aku menggeleng pelan, "Sebenarnya gue tahu Kak Dimas karena dia pacarnya Kak Rina," ucapku jujur.


Alia melebarkan matanya, "Lo kenal sama Kak Rina? Astaga, kenapa semuanya muter-muter gini sih? Perasaan sempit banget dunia ini," ucap Alia tertawa. "Jadi lo sama Kak Rina ada hubungan apa? Saudara? Sepupu?" tanya Alia.


"Kami deket aja. Dan memang sering saling curhat sih," ucapku tak menceritakan jika Kak Rina adalah kakak dari mantan pacarku. Karena jika aku ceritakan pun, semuanya akan menjadi rumit. Jadi biarlah dia tahu sendiri.


Alia tersenyum lebar, "Kebetulan yang sangat pas banget ya?" Alia tertawa. "Oh iya, gue lupa. Jadi nama Kak Dimas itu Dimas Angga Laksana. Oh ya Na, lo udah di certain belum sama Kak Rina kalau dia bakal nikah sama Kak Dimas akhir tahun."


"Oh ya?" Alia menaikkan kedua alisku. Aku memang tidak tahu soal itu, karena semenjak aku kuliah, aku tidak bertemu lagi dengan Kak Rina. Dan saat kami chattingan pun, Kak Rina tidak membahas soal pernikahannya.


"Gue wajib dateng kalau gitu," ujar Yoga.


"Lah, masa kakak ipar gue mau nikah gue gak dateng? Kan gak ethis banget etis banget."


"Kakak ipar? Sejak kapan gue nikah sama lo?" ucap Alia.


Aku yang melihat kedua temanku berdebat hanya bisa menggelengkan kepala lalu meraih ponselku yang berada di dalam tas.


Drrt!


Denis Arga Laksana : Nanti pulangnya gue tunggu di halte yang waktu itu kita ketemu ya?


Aku mengetikan sesuatu membalas pesan Kak Arga.


Alina Ayu Amanda : Iya,


Denis Arga Laksana : Lagi apa?


Alina Ayu Amanda : Lagi ngobrol sama temen-temen


Denis Arga Laksana : Ada Alia?


Alina Ayu Amanda : Ini di sebelah.


Denis Arga Laksana : Bilangin ke dia,


Alina Ayu Amanda : Bilang apa?


Denis Arga Laksana : Abangnya lagi nyari kunci.


Alina Ayu Amanda : Kunci apa?


Denis Arga Laksana : Kunci pintu.


"Al, lo narok kunci dimana? Abang lo nyariin katanya,"


Alia menaikkan kedua alisnya, "Hah, kunci apaan sih? Sini gue yang bilang,"


Aku menyerahkan ponselku pada Alia dan ia pun yang membalas pesan Kak Arga melalui ponselku.


Alina Ayu Amanda : Bang, ini gue. Kunci apaan? Gue gak pernah ya masuk-masuk kamar lo ya? Apalagi bawa kunci pintu lo.


Denis Arga Laksana : *****, maksud gue tuh gue mau ngegombalin Alina, malah hpnya di kasihin ke elo.


Alina Ayu Amanda : Awokwokwok. Makanya pinter dikit kalau mau ngegombal. Pake bawa-bawa pintu segala lagi. Hahaha LOL!


Denis Arga Laksana : Maksud gue 'kan pintu hatinya.


"Hahaha, ngakak *****!" Alia tertawa terpingkal-pingkal membuatku dan Yoga bingung.


"Kenapa? Kenapa?" tanyaku tak mengerti.


Alia mengatur napasnya dan menghentikan tawanya, "Jadi, dia itu niatnya mau ngegombali lo, tapi gagal gara-gara hp lo dikasihin ke gue. Nih, baca sendiri. Ngakak gue bacanya."


Aku meraih ponselku dan membacanya, Yoga juga ikut membacanya.


Aku berusaha menahan tawa membacanya, sedangkan Yoga sudah terpingkal-pingkal membuat Alia kembali tertawa.



-------


Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)


Terima kasih!


-Prepti Ayu Maharani


----------------------------------------------------------