
Aku kembali ke barisanku dengan rasa lega. Setidaknya aku sudah menampilkan sesuatu yang sesuai dengan isi hatiku saat ini.
Kelompokku menatapku dengan senyum lebar serta mengacungkan ibu jari mereka. Aku pun ikut tersenyum. Namun tidak dengan Nabila, ia menatapku dengan tatapan cemburu.
"Lo keren, Na!" ucap Umi mengalihkan tatapanku dari Nabila.
Aku tersenyum, "Gue gugub banget tadi, Mi."
Umi tertawa, "Gak papa. Yang penting lo udah maju dan lihatlah, semuanya pada kagum liat penampilan lo. Cowok-cowok aja yang ngeliatin lo sampe matanya mau lepas. Pokoknya lo keren, deh!" ucap Umi membuatku tersenyum senang.
"Makasih ya, Mi."
Setelah rangkaian acara selesai dan waktu juga sudah menunjukkan tengah malam, kami di minta untuk kembali ke tenda dan beristirahat, sebelum besok pagi kami akan kembali ke rumah masing-masing karena acara makrab telah selesai.
"Alina," panggil Kak Arga begitu aku akan masuk ke tenda.
Latifa yang berada di sampingku pun memutuskan untuk masuk ke tenda lebih dulu dan meninggalkanku bersama Kak Arga.
"Iya, Kak? Ada apa?"
Kak Arga mengulas senyumnya, "Selamat istirahat ya," ucapnya.
Aku mengerutkan keningku dan tertawa, "Mau ngomong itu aja?"
Kak Arga menggaruk tengkuknya dan tertawa hingga menampilkan gigi gingsulnya. "Intinya selamat tidur," ucapnya.
Aku mengangguk namun belum berniat untuk masuk karena aku merasa jika ada yang ingin Kak Arga ucapkan.
"Sana masuk," titahnya.
"Kak Arga beneran gak ada yang mau di omongin lagi?" tanyaku.
Kak Arga menghela napas dan tersenyum, "Gak ada. Udah sana masuk, istirahat."
Aku mengangguk dan segera masuk ke tenda, namun aku tak sengaja melihat Kavin yang tengah menatap ke arah kami. Aku tak mengerti arti tatapan yang Kavin berikan. Aku segera membuang pikiranku tentang Kavin dan masuk ke tenda.
Aku merebahkan tubuhku karena merasa lelah atas hari ini. Teman-temanku sudah tidur sejak tadi, termasuk Nabila. Namun aku belum bisa tidur.
"Alina,"
Aku menoleh begitu mendengar Nabila memanggilku. Rupanya dia belum tidur.
"Gue mau ngomong sama lo," lanjutnya.
Nabila bangkit dan mengajakku keluar. Kami bedua berjalan ke pinggir pantai dan mendudukan diri di pasir pantai.
"Gue tahu lo deket sama Arga. Tapi rasa lo masih ke Kavin 'kan?" Nabila menatapku. Namun kali ini cara bicaranya berbeda dengan saat di bis. Kali ini terlihat lebih tenang.
"Gue udah lupain Kavin kok," ucapku.
Nabila tersenyum miring, "Kita sama-sama cewek, Na. Lo gak bisa bohong soal perasaan."
Aku mengangguk membenarkan.
"Lupain Kavin, Na. Buat gue," Nabila bicara lirih dan penuh harap.
Nabila menggeleng, "Dia memang milik gue. Tapi gue gak bisa miliki hatinya. Hati dia masih stuck di elo, Na." Nabila mengucapkan itu dengan rasa terluka. Entah mengapa aku bisa merasakannya.
"Lo bohong," ucapku dengan senyum miring menutupi rasa lukaku yang sengaja ku sembunyikan.
"Lo gak percaya? Asal lo tahu, Na. Gue terus berusaha supaya Kavin lupa sama lo. Tapi apa? Kavin tetep mikirin lo. Meskipun Kavin jalan sama gue, tapi dia manggil gue Na, bukan Bil. Apa itu kurang menyakitkan buat gue? Gue sakit, Na."
Aku menggelengkan kepalaku tak percaya dengan ucapannya.
"Yang lebih menyakitkan buat gue. Kavin dengan terangnya ngajak gue ke toko buku cuma untuk beli novel lo, Na!"
Aku menyipitkan mataku. Kavin membeli novelku? Jadi Kavin sudah tahu isi novel itu?
Nabila menghela napas kasar, "Maafin gue karena waktu di bis gue terkesan nyalahin lo. Itu karena gue sayang banget sama Kavin, Na. Gue seneng banget waktu dia balik ke Jogja dan kami ketemu lagi. Tapi gue ikut hancur begitu gue tahu dia dateng ke Jogja dengan problem yang begitu besar. Gue setiap hari selalu support dia supaya dia mau bangun lagi dari keterpurukannya."
Tanpa sengaja Nabila menitihkan air matanya dan melanjutkan ucapannya.
"Gue support dia supaya dia mau sekolah lagi. Tapi dia bilang dia gak mau. Akhirnya gue kasih usul supaya dia mau ambil paket C dan supaya kami berdua bisa sama-sama daftar kuliah bareng. Akhirnya dia mau, Na. Gue seneng waktu gue bisa bareng ke Jakarta sama Kavin buat kuliah. Tapi, rasa senang gue hilang saat gue tahu lo ada di sini, Na. Dengan adanya lo disini, semakin membuat Kavin sulit ngelupain lo."
Aku menghela napas gusar, dadaku terasa sesak mendengar ucapan Nabila.
"Ikhlasin dia, Na. Lupain dia. Biarin dia bahagia sama gue."
Aku menggeleng pelan, "Gue gak bisa, Bil."
Nabila meraih tanganku, "Gue mohon, Na. Ada Arga di sisi lo. Lo bisa pilih Arga sebagai pacar lo. Dan lo lupain Kavin."
Aku menggigit bibir bawahku. Walaupun aku sadar Kavin adalah pacar Nabila. Namun aku sangat berat 'tuk melakukannya.
"Gue mohon," Nabila menatapku dengan tatapan terluka. "Cintailah apa yang lo miliki saat ini, Na. Lupain yang udah pergi."
Dadaku semakin terasa sesak. Rasanya tak rela jika aku memang harus melupakan Kavin. Dulu, aku memang mudah melupakan Rafa. Namun itu semua karena hadirnya Kavin.
Dan jika sekarang aku harus melupakan Kavin, bagaimana caranya?
Kak Arga bukan Kavin yang bisa dengan mudahnya meraih hatiku. Meski sebesar apapun perhatian Kak Arga kepadaku, itu tidak bisa membuatku melupakan Kavin.
Nabila menggenggam tangaku erat dan menatapku penuh harap. "Gue mohon, Na."
Aku menghela napas dan menggelengkan kepala pelan. Walau dengan berat hati aku mengatakan, "Akan gue coba."
Nabila mengangguk dan tersenyum tipis, "Semoga lo bahagia sama Arga, Na."
-------
Jangan pelit-pelit vote dan comment ya :)
Terima kasih!
-Prepti Ayu Maharani
----------------------------------------------------------