Started Without Love

Started Without Love
SWL 53 (END)




Aku menatap diri di depan cermin. Dengan balutan yang berbeda dari hari biasanya, aku terus mengulum senyumku.


"Calon pengantin udah cantik aja," goda Nana yang sudah berada di sampingku.


Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Kavin. Dan aku, tak sabar menanti Kavin mengucapkan ijab Kabul di depan penghulu dan juga keluarga besarku.


Sebelum pernikahan ini akan berlangsung, akan ku ceritakan sedikit kisah hidupku yang belum banyak kalian tahu.


Pertama tentang Nabila. Ya, Nabila memang sudah memutuskan hubungannya dengan Kavin. Setelah kejadian di kafe itu, Nabila sering menjauh saat melihatku. Dari cerita yang aku dengar, Nabila merasa tak enak karena selama ini telah merebut Kavin dariku.


Meskipun begitu, aku akan tetap bersikap biasa saja dan menganggap tak pernah terjadi apapun antara kita.


Kedua, aku akan menceritakan sedikit tentang Amara. Seperti yang dikatakan Alia saat itu, Amara memang sedang mengandung. Namun tak lama setelah itu, aku mendengar kabar dari Alia jika Amara telah menggugurkan kandungannya dan memutuskan kembali ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya.


Ketiga, aku akan menceritakan soal Kak Arga. Ya, dia memang masih di penjara. Bahkan aku tidak tahu kapan ia akan di bebaskan. Orang tuanya saat terpukul atas apa yang Kak Arga alami. Aku sendiri pun merasa sedih dan sering menyalahkan diri sendiri. Namun, kembali lagi ke takdir, mungkin memang ini sudah jalannya.


Dan terakhir, aku akan menceritakan tentang Rafa. Sudah lama sekali 'kan kalian tidak mendengar kabar tentangnya?


Baiklah, akan ku ceritakan sedikit tentangnya. Aku mendengar kabar Rafa dari Kak Rina bahwa saat ini Rafa tengah menjabat sebagai Putera kampus di Universitasnya. Dengan segala prestasi yang ia miliki, ia kini menjadi mahasiswa yang sangat populer di Universitasnya.


Aku memejamkan mataku dan menatap sekeliling. Nana telah berada disini dan mendampingiku sejak pagi tadi.


"Doain aku ya Na, supaya cepet nyusul." Nana mengucapkan hal itu membuatku mengangguk dengan senyuman.


"Aku pasti doain," ucapku membuat Nana terkekeh. "Oh ya, Deca kemana?" Mataku mengitari sekeliling mencari keberadaan Deca.


"Dia bilang mau nemuin Ari di depan."


Aku mengernyit. Selama ini aku memang tahu jika Deca masih sering bertemu dengan Ari. Bahkan saat acara reuni pun ia datang bersama Ari. Namun aku tidak tahu jika mereka kembali menjalin hubungan. "Jadi Deca resmi balikan sama Ari?"


Nana mengangguk, "Dulu sih katanya dia mau jodoh di kampusnya. Eh, taunya Ari satu kampus sama dia."


Aku tertawa, "Jodoh emang nggak kemana."


"Hayo ngomongin siapa?" Suara lantang milik Deca menggema membuatku dan Nana menoleh.


"Baru juga di omongin, udah nongol aja," ujar Nana di sertai tawa.


Deca mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Nana lalu beralih padaku, "Oh ya Na, ada temen kamu tuh, aku udah suruh mereka masuk."


Mendengar ucapan Deca, aku menoleh ke depan dan mendapati dua manusia berjalan menghampiriku dengan senyum lebar di wajah keduanya.


"Alina! Selamat!" Yoga dan Alia memelukku dengan sangat erat.


"Pelan-pelan Mbak, Mas, meluknya. Kasihan calon pengantin nanti bajunya rusak," ucap Deca ceplos membuat kami yang berada di sini tertawa.


"Nggak nyangka Alina mau nikah sama Kavin," ucap Alia seraya menyenderkan kepalanya di pundak Yoga.


Aku tertawa, "Makanya kalian berdua juga nyusul," ujarku.


Alia beralih ke Yoga, "Nyusul yuk?"


Yoga mengangguk mantap, "Yuk!"


Aku menggelengkan kepala, "Gak jadian, gak nikah, gercep lorang!"


Dan kami yang berada disini kembali tertawa akibat kedua pasangan yang bernama Alia dan Yoga.


"Mbak Alina,"


Kami semua menoleh ke pintu begitu Mbak Susi memanggil namaku.


"Kenapa Mbak?" tanyaku padanya.


"Calon penganti pria udah dateng," lanjut Mbak Susi.


"Asik!" Mereka semua menatapku dengan tatapan menggoda membuatku semakin gugub dan pipiku merona karena tersipu malu.


"Kita berdua ke depan dulu ya? Mau lihat simulasi. Supaya nggak bingung kalau nanti kita berdua nikah," ujar Yoga membuat Alia terkekeh dan mencubit pingganya.


"Kavin Artana Bin Arsen Artana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ananda Alina Ayu Amanda binti Rahman dengan mas kawin perhiasan dan seperangkat alat solat dibayar tunai," ucap penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alina Ayu Amanda Binti Rahman dengan mas kawin tersebut , tunai," dengan satu tarikan napas Kavin melafalkan ijab-Qabul.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu kepada para saksi.


"SAH!" Terdengar para saksi serempak menjawab.


"Alhamdulillah,"


Rona bahagia nampak jelas di wajahku. Jelas aku bahagia akan ini. Ini adalah hari pernikahanku, dan sekarang aku akan telah resmi menyandang gelar sebagai istri seorang Kavin Artana.


Kedua sahabatku memelukku dari samping. "Selamat ya Na. Kamu udah resmi jadi isteri orang," ucap Deca membuat mataku terasa panas dan ingin menangis.


"Jangan nangis, nanti make up-nya rusak," ujar Nana membuatku dan Deca terkekeh.


Ah, aku tak bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini, yang jelas aku sangat bahagia.


Tok! Tok! Tok!


Pintu terbuka lebar sehingga menampilkan Ibu tengah berdiri seraya menatapku dengan tatapan bahagia juga terharu. Aku melihat air mata menetes di wajah Ibu, namun segera ia seka dan berjalan menghampiriku dan memelukku.


"Anak Ibu udah jadi istri Kavin, sekarang." Ibu mencium keningku membuatku semakin ingin menangis. "Gak boleh cengeng. 'Kan sekarang Alina bukan anak kecil lagi."


Aku mengulas senyum dan mengangguk.


"Gimana kalau sekarang kita bawa Alina ke depan, Bu. Suaminya pasti udah nggak sabar," celetuk Nana membuat kami tertawa.


Aku melangkah ke depan di iringi kedua sahabat di samping. Aku terus menebarkan senyum saat semua tamu memandangku dengan tatapan bahagia.


Mataku tertuju pada satu laki-laki yang kini tengah menantiku duduk di sampingnya. Ya, dia adalah Kavin. Kavin terlihat tampan mengenakan kemeja putih di balut jas dan celana bahan berwarna hitam. Senyum Kavin melebar saat aku sampai di sampingnya membuat pipiku semakin merona.


Selesai menandatangani berkas yang di butuhkan, Kavin melirik ke arahku dengan lesung pipi yang terlihat jelas di wajahnya. Ia terkekeh membuatku tersipu malu.


Tak tergambarkan bagaimana bahagiaku kali ini. Aku meraih tangan Kavin dan mencium punggung tangannya, lalu di susul Kavin yang mencium keningku membuat semua tamu dan keluarga yang hadir bersorak ria.


"Nurut ya sama suami," bisik Kavin dengan senyum menyeringainya.


Aku terkekeh di buatnya.


"Turutin juga kemauan istri," bisikku yang membuatnya tertawa dan mengacungkan jempolnya lalu kembali mencium keningku.


Seperti yang dikatakan Stenberg, cinta merupakan sebuah kisah, yang mana di tulis setiap orang. Dan dalam kisah ini, aku menulis Kavin sebagai pemeran utama dalam kisahku. Aku, mencintainya, selamanya!


SELESAI



a/n :


HWAAAA!


Akhirnya Started Without Love selesai :"


Terima kasih ya temen-temen karena udah ngikutin Alina dan Kavin sampai akhir :))


Dari yang awalnya Alina gamov dari Rafa, Alina galau karena ditinggal Kavin, kehadiran Arga di hidup Alina, sampai Alina kembali lagi bersama Kavin.


Jujur, awalnya aku males banget mau ngelanjutin cerita ini dan nggak nyangka juga sih bisa nyelesain sampai part 53. Karena menurutku ini udah banyak banget.


Ya, walaupun ini nggak sebanding sama penulis-penulis lain yang bisa update cerita sampai beratus-ratus episode.


Tapi aku mau berterima kasih banyak sama temen-temen yang mau baca SWL sampai akhir. Dan karena temen-temen juga, aku jadi semangat buat update part (walaupun suka ngaret, hihi)


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Jangan lupa follow instagramku ya teman-teman. Nanti aku follback 🤪