
Setelah meninggalkan Amara begitu saja, aku berjalan mencari keberadaan Kak Arga. Aku merasa aneh dengan dia yang menghilang begitu saja.
Apa semua itu ada hubungannya dengan Amara? Lebih lagi Amara adalah mantan pacarnya.
Aku menghela napas. Mungkin benar kalau Kak Arga menghindari mantan pacarnya tersebut.
Aku pun meraih ponsel dan mencoba menghubunginya. Ponselnya berdering, namun tak juga ia angkat.
"Angkat dong," ucapku dengan perasaan yang tidak enak.
"Halo?"
Aku tersenyum lega begitu ia menjawab teleponku. "Halo Kak, kamu dimana?"
"Aduh, sayang. Aku minta maaf banget ya, aku harus buru-buru pulang."
Aku mengerutkan dahiku. "Kenapa emangnya?"
"Mamaku baru aja pulang dari Singapura, dia minta aku jemput di bandara sekarang," ujarnya.
Aku mencoba mengerti. "Oh, yaudah kalau gitu."
"Maaf ya karena pergi gitu aja nggak bilang dulu ke kamu."
Aku tersenyum tipis berusaha bersikap biasa saja. "Nggak papa kok. Aku pikir kamu menghindar dari mantan kamu."
"Mantanku?"
Aku hanya menjawab dengan helaan napas.
"Sayang jelasin dulu. Maksud kamu mantan aku yang mana. Amara?"
"Menurut kamu siapa lagi? 'Kan yang aku tahu mantan kamu ya Amara."
Aku mendengar Kak Arga menghela napas kasar. "Jadi kamu baru aja ketemu sama Amara?"
Aku mengangguk refleks. "Iya," jawabku.
"Dia ngomong apa aja sama kamu? Dia nggak nyakitin kamu 'kan?" tanya terdengar panik.
"Enggak, kok. Yaudah, kamu jemput mama kamu aja. Aku mau pulang."
"Kok kamu jutek gitu ngomongnya. Kamu marah ya?"
Aku memutar bola mataku, malas sekali menjawabnya. Aku tidak marah dia meninggalkanku demi menjemput Mamanya. Tapi yang aku kesalkan, mengapa dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.
"Sayang?"
"Apa?" tanyaku kesal.
"Kamu nggak marah 'kan?"
Aku kembali memutar bola mataku. "Enggak."
"Yaudah aku matiin ya teleponnya? Assalamualaikum?"
"Wallaikumsalam," jawabku setelah sambungan teleponku dengannya terputus.
Aku memutar bola mataku malas, menatap sebuket bunga yang berada di tanganku dengan perasaan kesal.
Aku pun membalikan tubuhku untuk berjalan pulang. Namun saat aku melihat lurus ke depan. Aku tak sengaja melihat Kavin bersama Nabila.
Nabila terlihat bahagia, tawa bahagia seolah menghiasi wajahnya tersebut.
"Kita nonton aja mau nggak?" tanya Nabila pada Kavin.
"Nonton apa?" tanya Kavin.
"Apa aja,"
Kavin mengangguki ucapan Nabila.
Keluar dari Mall tersebut, aku pun menghentikan sebuah taksi. Hingga sebuah taksi berhenti tepat di hadapanku dan membawaku pulang ke rumah.
"Assalamualaikum," Aku melangkah memasuki rumah.
Aku sedikit terkejut saat melihat Ayah dan Ibu seperti bersiap untuk pergi.
"Ayah sama Ibu mau kemana malem-malem gini?" tanyaku penasaran.
"Nenek kamu sakit, Ayah sama Ibu harus kesana sekarang," jelas Ibu padaku.
"Nenek sakit? Alina ikut ya?"
Ayah menggeleng. "Kamu harus kuliah. Biar Ayah sama Ibu aja yang kesana."
Aku merenggut sebal. "Tapi Alina khawatir sama keadaan Nenek, Yah, Bu."
Ibu menggeleng dan meraih tanganku. "Kamu berdoa aja nggak terjadi apa-apa ya?"
Aku pun mengangguk.
Ibu tersenyum. "Yaudah, sekarang Ayah sama Ibu anter kamu ke rumah Tante Mira ya?"
"Alina di rumah aja, Bu," ujarku.
"Kamu berani di rumah sendiri? Apa Ayah telpon aja Tante Mira supaya kesini?" tanya Ayah padaku.
"Jangan ah, nggak enak sama Dodi. Dia 'kan baru aja pulang dari luar kota, masa harus di tinggal Mira kesini," ujar Ibu. Om Dodi adalah suami Tante Mira, sekaligus ayah Anan.
Aku menghela napas. "Yaudahlah Yah, Bu. Alina sendiri aja di rumah. Alina berani kok."
Ayah dan Ibu saling menatap sebelum akhirnya mengangguki ucapanku.
"Yaudah, kamu hati-hati ya? Kalau mau makan, Ibu udah siapin di meja makan. Sayuran juga banyak di kulkas. Kalau besok mau berangkat kuliah, jangan lupa rumahnya di kunci. Ibu sama Ayah mungkin agak lama di rumah Nenek. Nanti kalau ada apa-apa, kamu telepon aja Ayah sama Ibu," ujar Ibu.
"Inget, jangan bawa cowok ke rumah."
"Siap 86!" ucapku menjawab pesan Ayah dan Ibu.
"Yaudah, Ibu sama Ayah berangkat ya?"
Aku mengangguk dan mencium tangan keduanya secara bergantian.
"Hati-hati ya Yah? Bu?"
Ibu dan Ayah mengangguk lalu mencium keningku.
"Assalamualaikum"
"Wallaikumsalam,"
Aku mengantarkan Ayah dan Ibu sampai depan.
"Hati-hati Yah! Bu!" teriakku sebelum akhirnya mobil yang Ayah kendarai menghilang dari pandanganku.
Setelah melihat jalanan mulai sepi, aku pun segera mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar.
Sepi. Ya, kini yang aku rasakan sekarang. Aku pun meraih ponselku yang masih berada di dalam tas.
Membuka aplikasi WhatsApp dan mencari nama pacarku disana. Aku tersenyum saat melihat profil yang ia gunakan adalah fotoku.
Aku pun menekan tombol telepon. Ah iya! Aku lupa. Aku lupa jika dia sedang menjemput Mamanya. Aku pun mematikan sambungan tersebut dan meletakan ponselku di kasur.
Pikiranku kini mengarah pada Amara. Aku penasaran, seperti apa hubungan Amara dengan Kak Arga dulu?
"Gak penting soal Amara. Amara cuma masa lalunya. Gue masa depannya."
Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya!