Started Without Love

Started Without Love
SWL 50




Aku melipat kedua lengan dan menatap seseorang yang berada di hadapanku dengan tatapan datar.


“Na, gue tahu lo marah sama gue, tapi gue mohon, lo jangan benci bang Arga. Dia nggak seratus persen salah, Na.”


Aku tersenyum miring mendengar ucapan Alia. Di saat seperti ini masih bisa-bisanya ia membela Kak Arga yang jelas-jelas sudah mempermainkanku.


“Gue nggak nyangka Al, lo tega ngebiarin sahabat lo sendiri jadi selingkuhan abang lo. Atau jangan-jangan selama ini lo nggak nganggep gue sahabat lo?” Aku menaikkan kedua alisku.


Alia menggeleng. Air matanya ikut jatuh. “Enggak, Na. Gue nggak kaya gitu. Dan Bang Arga nggak jadiin lo selingkuhannya.”


Aku menghela napasku gusar. “Denger ya Al, gue udah bahagia sama Kavin. Gue udah dapetin apa yang selama ini gue harepin. Dan soal abang lo, gue udah cukup di sakitin sama dia.”


"Tapi, Na,”


“Lo nggak tahu Al, gimana sakitnya gue saat gue di permaluin di depan temen-temen gue. Dan itu karena abang lo!”


Alia menangis sejadi-jadinya. Entahlah, aku tak tahu ia memang merasa bersalah atau hanya mengelabuhiku saja. Yang jelas, aku sangat kecewa dengannya.


"Mulai sekarang, gue nggak mau kenal lo lagi Al,” ucapku dan akan menutup pintu.


“Kak Arga di tahan di penjara!”


Aku terdiam membeku. Kaki melemas. Aku mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Alia. Dengan helaan napas, aku mendongak ke atas, berusaha menahan agar aku tidak menangis.


Aku membalikkan tubuhku dan kembali menatap Alia. “Terus, lo fikir, gue bakal peduli?” Aku tersenyum miring. “Mungkin itu balasan yang tepat untuk dia karena udah sering mainin cewek.”


Alia menatapku dengan tatapan tak percaya. “Lo tega Na. Lo udah berubah sekarang. Lo bukan lagi Alina yang gue kenal.”


"Lo bilang gue tega? Gue nggak akan kaya gini Al kalau abang lo nggak mulai duluan.”


“Tapi abang gue cintanya sama lo Na!”


“Cinta? Lo bilang cinta? Itu bukan cinta, tapi nafsu buat buat dapetin semua cewek yang dia mau.”


“Lo bener-bener udah berubah, Na.” Alia menggelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya. “Abang gue nabrak orang, itu karena dia abis dari rumah lo dan lo usir! Abang gue mabuk, itu karena dia kecewa sama lo.”


“Gue yang seharusnya kecewa sama dia!”


“Ya itu karena lo nggak dengerin penjelasan dia. Lo langsung kemakan omongan Amara yang jelas-jelas cuma akal-akalannya!”


Aku terdiam. Apa maksud Alia? 


“Maksud lo?” tanyaku yang tidak terima ia membawa-bawa nama Kavin. “Lo boleh ngata-ngatain gue. Tapi gue nggak terima kalau lo sampai bawa-bawa Kavin di urusan ini.”


“Tuh, ‘kan.” Alia tersenyum miring. “Belum apa-apa aja pikiran lo udah ke Kavin. Apa kabar sama Abang gue yang selama ini berusaha bikin lo bahagia dan cinta sama dia?”


Aku sudah muak dengan semua ini. Aku maju beberapa langkah membuatnya ikut mundur. “Cukup ya, Al. Gue nggak mau berantem sama bekas sahabat di rumah gue sendiri.”


Alia kembali menggelengkan kepalanya. Ia bertepuk tangan. “Hebat. Alina yang selama ini gue kenal cewek yang baik, ternyata bisa berubah Cuma karena cowok.”


"Cukup Al!” ucapku tak kuasa lagi ingin menghentikannya.


Alia tersenyum miring. “Lo bodoh! Lo bodoh dengan mudahnnya di tipu sama Amara. Amara sama Bang Arga nggak pernah balikan. Dan nggak akan pernah.”


"Maksud lo?”


“Amara udah hamil dengan pacarnya sekarang. Dan soal Bang Arga dateng ke acara reuni kalian, itu karena dia di ancem sama Amara. Sekarang lo puas?”


Aku menggelengkan kepalaku tak percaya. “Lo bohong!”


"Untuk apa gue bohong? Gue denger sendiri dengan telinga gue. Gue denger,  kalau Bang Arga nggak mau nemenin dia ke acara reuni kalian. Amara bakal bikin pernyataan kalau Bang Arga yang udah bikin Amara hamil.”


Aku menutup mulutku tak percaya. 


"Semalem Bang Arga dateng ke rumah lo karena dia pengen jelasin semuanya. Tapi lo nggak mau. Akhirnya Bang Arga kalut dan dia mabuk.” Alia menghela napasnya. “Gue nggak minta lo untuk balikan sama Bang Arga, tapi gue mohon, tolong maafin dia. Gue nggak mau beban dia semakin berat setelah kejadian kecelakaan kemarin. Cukup dia menderita di penjara karena kesalahannya.”


Aku menunduk, pikiranku sudah melayang jauh. Hatiku benar-benar sakit. Aku masih tidak percaya jika semuanya akan serumit ini.


“Gue mohon, tolong maafin dia.”


Aku menjantuhkan air mataku dan segera menyekanya.


“Apa perlu gue bersujud di depan lo supaya lo mau maafin dia?”


Aku menggeleng, namun juga sulit untuk aku mengucapkan sepatah kata pun.


“Ini ucapan gue yang terakhir, tolong maafin dia. Gue nggak akan minta lo balikan sama dia. Tapi tolong, maafin dia, Na.”