Started Without Love

Started Without Love
SWL 42




Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan ponsel yang ku genggam di tangan.


Aku menaruh ponselku dan menghitung hiasan bintang yang tertempel di dinding, "Ikut reuni, enggak, ikut reuni, enggak, ikut reuni, enggak, ikut reuni, enggak, ikut reuni."


Aku mengusap wajahku gusar, "Aih, kenapa harus ikut reuni sih?"


Aku berdecak sebal, dan kembali meraih ponselku. Aku mencari nomor Kak Arga dan men-dial nomornya.


Aku menempelkan ponselku ke telinga dan menunggu ia mengangkatnya.


"Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi."


"Nomornya sibuk? Dia telponan sama siapa sih?"


Aku mengeluarkan panggilanku dan mencoba mengiriminya pesan lewat WhatsApp.


ALINA AYU AMANDA : Kak, lagi dimana? Besok ada acara nggak? Aku mau ajak kakak ketemu temen-temen aku.


"Ayo dong centang biru," ucapku tak sabar.


Karena lama menunggu Kak Arga membaca pesanku, aku pun memutuskan untuk menelpon Alia. Barangkali ia sedang bersama Kak Arga.


"Halo, Na?"


Aku mendudukkan diriku, "Halo, Al. Al lo dimana?"


"Gue? Gue masih di luar nih sama Yoga, hehe."


Aku menghembuskan napas kasar. "Gue fikir lo udah di rumah, ternyata masih pacaran."


"Hehe, namanya juga baru jadian. Emang kenapa sih kok lo nanyain gue dimana?"


"Ini, gue mau nanyain Kak Arga."


"Kenapa emang sama dia?" tanya Alia.


"Gue mau ngajak dia reuni sama temen-temen SMA. Tapi dia susah banget di hubungin."


"Mungkin lagi tidur kali dia,"


"Tidur apanya? Orang teleponnya aja sibuk."


"Mungkin dia lagi ada urusan sama anak-anak BEM. Kaya nggak tahu abang gue aja lo."


Aku mengangguk membenarkan, "Iya juga sih. Yaudah deh, kalau gitu. Dah!"


"Eh, eh, Na. Bentar,"


"Apaan?"


"Besok kita udah nggak kuliah 'kan?"


"Ya enggaklah, Al. 'Kan kita udah mulai libur semester. Ya kalau lo mau kuliah, sana."


Terdengar suara Alia tertawa. "Ya nggak mau lah, haha. Yaudah deh, Na. Bye!"


Aku menggelengkan kepalaku dan kembali merebahkan tubuhku. Saat aku kembali menatap ke langit-langit kamar, tiba-tiba rasa dilema ku untuk mengikuti reuni kembali menyeruak.


Aku pun memutuskan untuk menelpon Nana, siapa tahu dia bisa ku ajak bernegosiasi.


"Halo, kenapa Na?" tanya Nana saat sambungan ku terhubung dengannya.


"Na, kamu yakin mau ajak Kavin juga ke acara reuni?"


Nana berdecak. "Astaga Na. Ini udah kesekian kalinya kamu nanya hal yang sama. Emangnya kenapa sih kalau kita ajak Kavin?"


"Ya nggak kenapa-napa sih, tapi 'kan dia bukan angkatan kita."


Aku mengerucutkan bibirku. "Emang siapa aja yang di undang?"


"Banyak dong. Kayanya hampir semuanya di undang. Termasuk mantan kamu."


"Rafa maksudnya?"


Nana tertawa. "Memangnya siapa lagi mantan kamu kalau bukan Rafa. Kavin? 'Kan kamu nggak pernah pacaran sama Kavin."


"Iya, sih."


"Oh, ya. Tapi tadi Rafa nelpon aku, katanya dia nggak bisa dateng."


"Kenapa?" tanyaku.


"Katanya sih dia ada perlombaan apa gitu. Lagipula dia juga masih di Yogyakarta. Nggak mungkin juga dia mau ikut reuni disini."


"Terus, Amara dateng nggak?"


"Tumben, nanyain Amara. Kenapa? Takut berantem lagi kaya dulu, hahaha."


"Ih, Nana. Bukan itu," ujarku.


"Terus kenapa?"


"Kamu nggak tahu 'kan kalau pacar aku itu mantan pacarnya Amara."


"WHAT?!" pekik Nana.


"Hah? Hah? Apaan?" Terdengar suara Deca di seberang sana. Sepertinya ia tengah bersama Nana.


"*Ca, ternyata pacarnya Alina itu mantannya Amara."


"What*?!" pekik Deca.


"Ish, kalian mah heboh banget denger kabar gitu doang," ucapku kesal.


"Na, sepertinya besok kamu wajib bawa pacar kamu," ucap Deca.


"Emang kenapa?" tanyaku bingung.


Aku mendengar suara helaan napas Deca. "Jadi, tadi waktu kita pulang abis nonton bioskop. Kita berdua nggak sengaja ketemu Amara di jalan, kayanya sih dia sama pacarnya."


"Dan kamu tahu nggak Na? Pacarnya Amara ganteng banget!" potong Nana.


"Ish, diem dulu Nana! Jangan potong omongan orang," ujar Deca.


"Iya, Ca. Lanjut!" ujarku.


"Nah, makanya itu Na, kamu wajib bawa pacar kamu. Karena aku yakin pasti besok Amara bakal bawa pacarnya. Jadi, kamu harus bawa pacar kamu. Kamu tunjukin kalau kamu bisa dapetin yang lebih ganteng dari pacar Amara."


"Harus banget ya ganteng-gantengan pacar?" ucapku.


"Ya haruslah kita itu---"


Tut!


Aku mematikan sambungan teleponnya dan memutuskan untuk tidur. Besok pagi aku akan menghubungi Kak Arga kembali dan mengajaknya untuk hadir di acara reuni bersamaku.


Ya, aku harus membawa Kak Arga.



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!