
"Makasih ya, Na, lo udah maafin Bang Arga,” ucap Alia saat kami bertiga sampai di jalan untuk mengantarku pulang.
Aku mengangguk dengan senyuman dan memeluk Alia. “Gue minta maaf kalau kemarin perkataan gue udah bikin sakit hati.”
Alia mengangguk dengan senyuman dan membalas pelukanku. “Gue juga minta maaf, Na.”
“Yah, jadi gue nggak di ajak pelukan juga nih?” tanya Yoga yang tengah mengemudikan mobil ini.
Aku dan Alia saling melepas pelukan dan langsung memeluk Yoga dari belakang.
“Makasih ya, karena kalian berdua udah mau jadi sahabat,” Alia menoleh padaku lalu melirik pada Yoga, “sekaligus teman hidup gue.”
“Apapun yang terjadi, kita bertiga harus selalu jadi sahabat. Oke?” ujarku dan di angguki keduanya dengan senyuman.
“We are friends and will always be the best friend!” ujar Alia.
Yoga mengangguk dan menoleh pada Alia. “Walaupun nanti kita jadi suami isteri, kita akan tetep jadi best friend. Best friend until jannah.”
“Aamiin,” ujarku dan keduanya.
Tak terasa kami pun sampai tepat di depan rumahku. Aku langsung turun dan melambaikan
tangan pada keduanya. Hingga mobil itu melaju meninggalkan rumahku dan akupun langsung masuk ke dalam.
“Kavin?” ucapku saat Kavin tengah duduk mengobrol bersama Ayah dan Ibu di ruang tamu.
Ayah bangkit dan mengulurkan kedua tanganya. Aku mengangguk dan langsung memeluk Ayah.
Dengan perasaan penasaran, aku melirik pada Kavin yang kini tengah tersenyum lebar.
Ada apa ini?
“Ayah udah tahu apa yang terjadi antara kamu dan Arga. Ibu udah jelasin semuanya.”
Aku menoleh pada Ibu dan Ibu mengangguk menjawab isi pikiranku.
“Setelah Ayah liat keseriusan bocah tengil ini,” Ayah menunjuk Kavin. “Ayah izinin kalian berdua untuk jalin hubungan,” lanjut Ayah membuatku melebarkan mata sekaligus tersenyum bahagia.
Aku melepas pelukanku dan menatap Ayah serius. “Ayah izinin Alina sama Kavin?”
Ayah mengangguk dengan senyuman.
Aku melebarkan senyuman dan kembali memeluk Ayah. “Makasih ya Yah, Alina sayang banget sama Ayah.”
“Sama Ibu nggak sayang?” tanya Ibu.
Mendengar ucapan Ibu pun aku langsung beralih memeluk Ibu. “Alina sayang juga sama Ibu, sayang banget!”
“Sama aku nggak sayang?” tanya Kavin sembari mengulurkan kedua tangannya.
Aku mengangguk dan berjalan ke arahnya.
“HEY!” teriak Ayah dan Ibu sebelum aku memeluk Kavin.
Aku dan Kavin langsung tertawa dan bertos ria.
Tiga tahun kemudian ...
"Lo inget nggak sih pertama kali kita ketemu gue ketus banget sama lo?"
Aku menahan tawa dengan senyuman dan menatapnya, "Gak ada satu hal pun yang gue lupain, apalagi itu tentang lo."
Kavin terkekeh pelan dan kembali menatap lurus ke depan, "Kenapa lo bisa cinta sama gue, Na?"
Aku menghela napas. Tanpa berpikir panjang aku menjawabnya, "Cinta itu buta, Vin. Gue juga bingung kenapa takdir bisa mempertemukan kita."
Kavin tersenyum lebar dan menatapku lekat, "Gue jatuh cinta pada pandangan pertama begitu gue liat lo, Na."
"Gue terlambat jatuh cinta,Vin. Setelah lo pergi, gue baru sadar kalau cinta itu udah tumbuh."
Kavin mendekat ke arahku dan merangkulku, "Kita ditakdirin untuk bersama. Semesta udah ngirim lo untuk gue, Na. Sepedih apapun lika-likunya, kita akhirnya tetep bersama."
Aku mengulas senyum mendengar ucapannya. Aku menatapnya lalu kesekian detik ku sandarkan kepalaku pada dada bidangnya.
"Makasih ya Vin, lo selalu ada untuk gue." Aku memejamkan mataku.
"Nikah sama gue yuk, Na?"
Aku melebarkan mataku dan menatapnya tanpa ekspresi. Kavin baru saja melamarku?
"Lo serius? Kita 'kan masih kuliah," ujarku.
Kavin terkekeh, "Nikah aja dulu. Buat anaknya nanti," ucapnya membuat pipiku memanas lalu ku cubit pinggangnya membuatnya meringis tertawa.
Kavin meraih sebuah benda dari dalam sakunya dan di perlihatkan padaku. Sebuah cincin yang memiliki bentuk elegan ditambah dengan permata di bagian tengah membuatnya terlihat cantik.
"Lo mau 'kan nikah sama gue?" Kavin menatapku penuh harap.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakan ajakan Kavin untuk menikah.
Kavin tersenyum lalu meraih jemariku dan ia pasangkan dengan cincin yang sudah ia siapkan untukku.
Setelah memakaikan cincin, aku dan Kavin saling menatap dan tersenyum. Kavin menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku erat.
"Kisah kita harus happy ending," ucapku dalam pelukannya.
Perjalanan cinta kami memang tidak semulus harapan. Banyak lika-liku yang harus kami lalui. Entah karena masa lalu, keluarga, ataupun hadirnya seseorang yang baru. Namun aku percaya, kekuatan cinta itulah yang mampu melawannya.
Dan benar, cinta tahu kemana ia harus kembali. Serumit apapun dan sejauh apapun aku dipisahkan dengannya, kami akan tetap bersama pada akhirnya.
Aku mencintai Kavin dan Kavin mencintaiku.
Teruntuk kalian, satu pesanku :
Cintai dia yang tulus mencintaimu. Terkadang, tingkah konyolnya hanya menjadi topeng untuk menarik perhatianmu.
“Hore aku nikah sama Alina!” teriak Kavin membuatku tertawa dan menggelengkan kepala.
WAH, SEPERTINYA INI DETIK DETIK MENJELANG AKHIR CERITA 😭