Started Without Love

Started Without Love
SWL 35




Ini sudah satu bulan aku resmi berpacaran dengan Kak Arga. Ya, ketua BEM dan juga kakak dari sahabatku.


Aku tak pernah menyangka jika aku akan menerimanya menjadi kekasihku. Lelaki yang ku pikir mirip sekali dengan Kavin dan juga Rafa.


Perbaduan keduanya sangat tampak jelas berada dalam diri Kak Arga. Walau awalnya aku terlihat cuek dan tak ingin membuka hati untuknya, namun entah mengapa perlahan namun pasti, aku semakin menyayanginya. Walau tak memungkiri masih ada nama Kavin di sini, di hatiku.


Meskipun Kavin masih berada dalam hatiku, aku tak ingin mengganggunya lagi atau mengingatnya terus menerus. Aku sadar betul kalau Kavin sudah memiliki Nabila di hatinya, karena itulah aku harus membiarkan Kavin bahagia, meski tak bersamaku. Dan selain itu juga, aku harus sadar akan adanya Kak Arga di sisiku.


Laki-laki yang selalu ada untukku dan selalu membuatku tersenyum, meski keusilannya yang tak henti ia berikan.


Banyak hal-hal kecil yang sudah Kak Arga berikan untukku. Mulai dari memberiku cemilan saat aku bad mood. Mengajakku ke suatu tempat saat pusing melandaku. Dan mengantarkan makanan-makanan padaku disaat aku ingin diet.


Aku tersenyum kecil mengingat perhatiannya padaku.


"Sayang,"


Aku menoleh dan mendapati pacarku tersebut tengah melangkah menghampiriku dengan membawa sebuket bunga ditangannya.


"Udah dari tadi?" tanyanya.


Aku menggeleng pelan. "Baru aja kok," jawabku.


Ya, kali ini aku memang berjanjian dengannya di sebuah Mall yang berada di pusat Jakarta untuk menonton film bersama.


Kak Arga mengangguk lalu menyerahkan bunga tersebut kepadaku.


"Untuk aku?" tanyaku.


Kak Arga tertawa. "Buat siapa lagi kalau bukan buat pacar aku?" ucapnya membuatku ikut tertawa.


"Makasih ya?" ucapku dan di jawab anggukan olehnya.


Aku tersenyum lalu menunduk dan mencium bunga tersenyum. "Wangi," ucapku dengan senyum di wajahku. Namun, saat aku mendongakkan kepalaku dan melihat ke depan, Kak Arga hilang dari pandanganku.


Kemana dia?


Mataku menyapu sekeliling mencari keberadaannya yang menghilang begitu saja.


"Alina?"


Aku menoleh ke belakang dan sedikit terkejut. "Amara?" ucapku menatap gadis yang kini tengah berada di hadapanku.


Amara tersenyum. "Lo ngapain disini?" tanyanya.


Aku memilih diam. Entah mengapa malas sekali rasanya aku menjawab pertanyaannya tersebut.


Amara tersenyum miring lalu menatap diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lo, dari dulu nggak berubah ya?"


Aku tersenyum tipis lalu beralih menatapnya yang sudah berubah dari segi penampilannya. Ya, ia semakin terlihat seksi dengan jeans yang amat pendek dan juga baju ketat yang menutupi tubuhnya.


Tak heran dengan penampilannya yang sekarang, sebab setahuku saat ini emang tengah berkuliah di Amerika. Dan mungkin kepulangannya saat ini karena libur.


Amara menatapku. "Lo sendirian disini? Atau sama Rafa?"


Aku melebarkan mataku mendengarnya menyebut nama Rafa.


"UPS! Udah putus deng ya?" Amara tertawa. "Oh gue tahu, pasti lo sama adik kelas itu 'kan? Siapa namanya? Ke-vin? Kevin?"


"Namanya Kavin, bukan Kevin!"


"Oh, Kavin," ucapnya tertawa lalu menatapku dengan tatapan yang meremehkan.


Aku menghela napas panjang, ingin sekali aku memakinya. Namun, tenang Alina. Aku pun tersenyum. "Nggak usah sok tahu dengan kehidupan gue ya," ucapku lalu melangkah meninggalkannya untuk mencari keberadaan Kak Arga.


"Alina, Alina, jadi cewek kok polos amat," ucapnya yang masih terdengar di telingaku.



Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!