
3 Tahun Berlalu
Hai, ini aku Alina. Alina Ayu Amanda.
Sudah lama ya tidak berjumpa?
Bagaimana kabar teman-teman semua? Apakah masih ingat dengan kisahku? Kisahku dengan Kavin. Laki-laki tengil yang kini menjadi suami sahku, hihi.
Dulu aku pernah mengingatkan pada kalian :
Jangan terlalu jauh dalam perasaan, jangan terlalu percaya hanya karena rasa cinta.
Hingga akhirnya aku melupakan kalimat itu. Kalimat yang lenyap setelah aku bertemu dengannya. Dia Kavin Artana, laki-laki tengil yang berhasil membuatku menaruh rasa.
"Sayang!"
Sebentar, Kavin memanggilku.
Aku segera menutup laptopku dan berjalan menghampirinya. "Kenapa sih?" tanyaku sembari bermanja di punggungnya.
"Temenin aku yuk?"
Aku menaikkan kedua alisku. "Temenin kemana?"
"Tiba-tiba aku pengen makan kue Ibu. Kayanya enak," pintanya seraya mengusap lembut rambutku.
Aku terkekeh. "Ini yang hamil siapa, yang ngidam siapa?" ucapku tertawa.
Oh iya, aku hampir lupa memberitahu kalian. Saat ini aku tengah mengandung bayi Kavin. Dan saat ini usia kehamilanku tengah berjalan 5 bulan. Mual, muntah, lemas, sudah aku rasakan. Dan sekarang aku merasa lebih kuat dan sehat dari usia kehamilanku sebelumnya. Tentu, aku sangat bersyukur dengan kehamilanku ini. Jadi, sembari menunggu kelahiran bayiku, aku sempatkan waktu untuk menulis novel. Seperti yang aku lakukan tadi.
Kavin mengerucutkan bibirnya dan mencium bibirku.
Aku terkekeh dan mengalungkan tanganku di lehernya.
"Ayolah sayang. Ya? ya?"
Aku berdecak. "Mager banget, Yang."
Kavin mengerucutkan bibirnya dan beralih pada perutku. Ia mencium perutku dan membelainya. "Kana, kamu mau nggak temenin Papa ke rumah nenek?"
Kana adalah sebutan yang Kavin berikan untuk bayi kami. Kavin bilang, jika bayi kami lahir, ia ingin memberikan nama Kana Artana. Tentu kalian tahu, Kana adalah singkatan nama kami berdua. Kavin dan Alina.
Aku menghela napas dan mengangguk dengan senyuman. "Tapi sebelum ke rumah Ibu, mampir beli martabak ya?"
"Martabak manis atau martabak telor?"
Aku langsung berpikir. Dengan senyuman, aku menjawab, "Dua-duanya," jawabku dengan senyuman memohon.
Kavin mengangguk dan merapihkan poniku. "Ternyata istriku maruk ya?" godanya dengan tertawa.
Aku terkekeh dan memukul pelan dada bidangnya. "Tega emang. Suami siapa sih lo?"
Kavin menunjuk dirinya. "Lah? Gue suami siapa ya? Terus, lo siapa? Suami lo mana?"
Aku mengedikkan bahu seraya melipat kedua lenganku di depan dada. "Ntah ah!"
Kavin terkekeh dan kembali mencium pipiku. "Uluh! Uluh! Istriku ngambek nih?"
Aku menahan bibirku. Mencoba untuk tidak tersenyum. Namun apalah dayaku, setiap gerak gerik Kavin, selalu saja membuatku tertawa.
Aku menatap lekat wajah Kavin dan memeluknya. "Thank You so much for all the love you gave. I promise that only you, you, you and you will always be in my life."
Kavin mengangguk. "I know." Tangan Kavin mengusap lembut pucuk kepalaku. "I will always love you too. And I also promise only you, you, you and you will always be in my life."
Aku terkekeh dan bermanja di dada bidangnya. Terima kasih Tuhan, engkau telah memberikan anugerah terindah untukku.
"Kavin sayang Alina." Kavin mendekap dan memelukku manja.
Aku menatap wajahnya dengan senyuman. "Alina juga sayang Kavin."
Aku memejamkan mataku dan menenggelamkan wajahku di dada bidangnya.
Sekali lagi ku katakana, terima kasih karena kalian sudah mengikuti kisahku dengan Kavin. Sejak awal pertemuan kami, hingga penantian lahirnya buah hati kami.
Kavin dan Alina pamit, dan sampai jumpa!
Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi di lain kisah. Tentunya dengan cerita yang berbeda.
- Alina Ayu Amanda