
Anandita akhirnya raib ditengah jeritan – jeritan kesakitannya. Dinie terduduk lemas, menyeka keringat dingin yang mengucur dari keningnya. Gadis itu meraba lehernya karena merasa ada sesuatu yang terasa hangat mengayut disitu. Tangannya beradu dengan benda hangat itu, dan ketika ditarik ternyata benda itu tersangkut dilehernya, benda itu mengeluarkan cahaya yang begitu terang. Dinie terkesiap, itu kalung jimat pemberian Siti, gadis cucu bapak tua tukang loak itu. Dinie baru sadar kalau dia memang mengenakan kalung itu untuk menghargai Siti.
'Jimat itu hanya bekerja apabila ada yang berbuat jahat dengan kak Dinie...' Dinie teringat kata – kata Siti sewaktu memberikan kalung jimat itu padanya.
“Apa itu, Dinie?” kedua alis mata Bebbi bertaut, memandangi kalung jimat itu dengan sikap waspada.
“Entahlah, aku mendapatkannya dari seorang gadis tukang loak. Katanya ini jimat...”
“Tidak berpengaruh apa – apa denganku...Tapi kenapa Anandita?“
“Gadis itu mengatakan bahwa jimat ini hanya bekerja jika ada yang berbuat jahat padaku. Kamu kan tidak berbuat jahat padaku, mungkin karena itu kamu tidak merasakan pengaruh apa – apa.”
“Oh...”
Hari hampir menjelang subuh, saat Dinie dan Bebbi masih terduduk di pojok ruang tengah rumah kost Dinie, menghilangkan rasa ketakutan, gusar dan panik yang berkecamuk karena kehadiran Anandita.
“Beb..” tegur Dinie setelah lama keduanya saling terdiam.
“Ya?”
“Sebaiknya kamu jangan kembali...”
“Aku tak bisa, Dinie...Aku sudah terikat...”
“Terikat tali pernikahan itu?”
Bebbi memandang Dinie karena kata – kata itu. Tapi pemuda itu hanya membisu, tak menyahut.
“Apa yang terjadi hingga kamu bisa terjebak dengan pernikahan itu? Bukankah kamu mencintai Yola? Dan seingatku...Bukankah kamu sudah lebih dulu meninggal daripada Anandita, bagaimana bisa? Kapan pernikahan itu dilangsungkan?”
Bebbi mengeluh, seperti enggan menjawab pertanyaan itu.
“Sesudah kami berdua meninggal...” katanya datar.
“Haa? Bagaimana bisa?”
“Dengan upacara pernikahan arwah...”
“Apa?!”
“Aku memang terjebak dengan Anandita, pilihanku waktu itu adalah menikah dengan Anandita atau Yola mati...Anandita ingin menghabisi Yola, Di...”
“Bagaimana kamu bisa bertemu Anandita, Beb? Kamu kan...Meninggalnya di kota...”
“Yah....Waktu itu...” Bebbi akhirnya menjelaskan pada Dinie, bagaimana dulu takdirnya terputus karena terkena musibah gempa saat sedang mencari Yola di kota Padang tahun 2009 silam. Arwahnya yang penasaran dan rapuh terperangkap oleh mantra pemanggil arwah dari seorang dukun ilmu hitam, mbah Surti, yang ternyata adalah guru ilmu hitam Anandita semasa hidup. Mbah Surti melakukan itu atas permintaan arwah Anandita yang mendatangi dukun itu.
“Anandita... Kamu...” Bebbi terperangah saat pertama kali bertemu Anandita, melihat cacat sebelah wajah Anandita yang bagai meleleh dan membusuk, penuh belatung, begitu mengerikan. Sungguh berbeda 180° dari wajah Anandita yang dulu dia kenal.
“Ya kenapa aku? Kamu terkejut melihat wajahku?!” kata Anandita pada Bebbi yang terikat secara gaib di sebuah kursi yang sudah dimantrai oleh mbah Surti. “Ini akibat kamu meninggalkanku! Seandainya kamu tidak pergi mencari si Yola itu, aku tak akan dipaksa menikah dengan pak Jarwo, dan wajahku tidak rusak seperti ini!”
“Karena aku? Apa hubungannya dengan aku? Yola kekasihku, sudah tentu aku mencarinya. Dia kabur juga gara – gara kehadiranmu!” jawaban Bebbi membuat Anandita menggeram marah.
“Yola, Yola!! Aku benci nama itu!! Lupakan Yola mulai dari sekarang, karena kamu akan menikah denganku, asal kamu tau!!” jerit Anandita melengking.
“Apa?! Menikah denganmu?! Tapi aku tidak mencintaimu...”
“Aku tidak peduli! Kamu harus menikah denganku bagaimanapun caranya!”
“Jika aku tidak mau?”
“Aku akan menghabisi Yola!”
“Apa?!”
“Aku akan menghabisi Yola...Kamu dengar?” Anandita tersenyum sinis melihat wajah Bebbi yang begitu gusar karena mendengar dia akan menghabisi Yola.
Tapi Bebbi berusaha menutupi kegusarannya, pemuda itu mendengus dengan sikap mencemooh.
“Oh really?!”
“Jangan mencemooh!! Aku bisa menghabisi Yola, menyiksa Yola kapan aku mau, membuat Yola menyesal sudah merebutmu dariku!!” Anandita mencengkram wajah Bebbi dengan kasar, membuat pemuda itu mendelik garang padanya. “Tapi...Jangan takut, handsome...Aku sedang berbaik hati sekarang....”
Anandita melepaskan cengkramannya. Lalu duduk mengangkang di pangkuan Bebbi yang sedang terikat dikursi. Kedua alis mata Bebbi saling bertaut memandang Anandita yang kini berhadap – hadapan dengannya itu. Bau busuk cacat wajah Anandita begitu menusuk hidungnya.
“Aku mau melepaskan Yola, dan bahkan membantumu menyelesaikan urusanmu dengan Yola, asal...” Anandita membelai wajah Bebbi, meraba bibir pemuda itu dengan penuh nafsu seolah ingin menciumnya , tapi Bebbi segera memalingkan wajahnya dari Anandita, menghindar. Anandita tak memperdulikan sikap penolakan Bebbi, gadis itu melanjutkan kata – katanya. “Asal kamu mau menikah denganku ...Bagaimana sayangku?”
“In your dream!“ Bebbi meludah, mengejek kata – kata Anandita. Walau jauh dilubuk hatinya, pemuda itu sebetulnya begitu tergiur dengan kata – kata Anandita, dia sangat ingin bertemu Yola yang sangat dicintainya dan memperbaiki hubungan mereka yang retak akibat dia terlalu akrab dengan Anandita. Tapi tak mungkin dia menerima tawaran Anandita. Menikahi gadis itu...Tidak!...Oh shit..Lagipula kenapa aku harus takut? Bagaimana Anandita bisa mencelakai, sementara Yola tinggal jauh di Padang, Sumatera Barat sana? Bebbi mengangkat bahu.
“Hei! Kamu kira aku main – main?! Kamu kira aku tak tau dimana Yola tinggal?!” Anandita seolah tau jalan pikiran Bebbi. “Lihat itu....”
Anandita turun dari pangkuan Bebbi, melambaikan tangan pada cermin besar yang ada diruangan tempat mereka berada. Lalu merenggut rambut Bebbi dengan kasar, menyentakkan kepala pemuda itu agar menoleh ke arah cermin, memaksa Bebbi untuk melihat apa yang terpantul didalamnya.
Cermin itu berpendar – pendar aneh, dan perlahan berubah, menjadi pantulan sosok seorang gadis berwajah manis syahdu, sedang menyiram bunga di halaman sebuah rumah. Bebbi terbelalak melihatnya, gadis itu Yola!
“Yo..Yola?”
“Ya, itu Yolamu itu! Nah sekarang lihat baik – baik ...Bagaimana aku bisa menyiksa Yolamu dari jauh...” Anandita menyeringai, meludahi tangannya sendiri, kemudian membuat gerakan seperti melempar sesuatu ke arah cermin itu. Sosok Yola di dalam cermin tiba – tiba terjatuh, matanya tampak mendelik kesakitan, kedua tangannya memegangi lehernya, seperti ada yang tiba – tiba mencekik lehernya.
“Yola!!” Bebbi berteriak kaget, pemuda itu memberontak dari kursinya tapi tali gaib yang mengikatnya lebih kuat darinya. “Hentikan Anandita! Jangan sakiti Yola!!”
Anandita hanya tertawa melihat Bebbi panik. Tapi gadis menyeramkan itu tidak segera menghentikan aksinya pada Yola, justru membiarkan Yola yang didalam cermin, meringkuk kesakitan karena kehabisan nafas.
“Biar saja Yola mati...”
“Anandita!!”
“Menikah denganku, atau Yola kubiarkan mati!”
“Ka..Kamu...Kamu?!” Bebbi kehabisan kata – kata, mendelik pada Anandita yang memandangnya dengan raut wajah penuh kemenangan.
Demi keselamatan Yola, Bebbi akhirnya dengan sangat terpaksa menyetujui permintaan Anandita. Tepat pada tengah malam jumat kliwon, upacara pernikahan yang tidak biasa itu pun segera dipersiapkan mbah Surti. Dua patung kecil berpakaian pengantin, pria dan wanita, mewakili Bebbi dan Anandita, berbagai sesajen pun dihidang pengganti makanan dan kue pengantin layaknya sebuah pesta pernikahan. Mbah Surti kemudian komat – kamit merapalkan mantra – mantra sambil meneteskan darah ayam hitam pada patung – patung pengantin itu. Asap kemenyan mengepul dari tungku kecil yang diletakkan di depan kedua patung pengantin.
Anandita menggandeng tangan Bebbi mengajak pemuda itu merasuki patung – patung pengantin kecil itu, membuat patung – patung itu bisa membuka matanya seakan hidup. Anjing – anjing yang melolong panjang dari kejauhan, mendirikan bulu kuduk, burung hantu bersahut – sahutan di luar rumah kecil mbah Surti yang terletak di tengah hutan belantara sepi, jauh dari jangkauan manusia fana, seolah mereka tau akan terjadi pernikahan antara dua arwah di tengah malam itu.
“Dengan ini aku nikahkan Bebbi Adinegoro dengan Anandita...” mbah Surti mengucapkan kata – katak layaknya seorang penghulu menikahkan sepasang pengantin, hanya kata – kata itu kemudian dilanjutkan dengan sederet rapal mantra – mantra mistis yang hanya orang – orang seperti mbah Surti yang tau artinya. Beberapa saat setelah mantra pernikahan itu selesai, dukun tua itu memberi isyarat pada Anandita agar mengikutinya merapalkan mantra terakhir.
“Asih pengasian ku asian semar mesem memanggil Bebbi Adinegoro. teko welas asih menyang aku Bebbi Adinegoro ora biso turu tak bantali atiku, tak kemuli sukmaku Bebbi Adinegoro ketemu turu tangikno goleki aku Bebbi Adinegoro sak tekaku kinasian, sak lungaku tinangisan, teh ngarenteh puyeng gendeng golek’i aku Bebbi Adinegoro saking kersane gusti ( sumber : spesialispengasihan.com)”
darah ayam terus dipercikkan terkhusus pada patung pengantin pria selama mantra terakhir itu dirapalkan Anandita. Entah apa tujuannya.
Yang jelas setiap percikan darah itu membuat Bebbi seperti merasa ada sensasi aneh mengaliri tubuhnya. Mula – mulai perlahan membelai kalbunya dengan lembut, begitu hangat, tapi lama – kelamaan pemuda itu merasa organ – organ tubuhnya menegang, membara, membuatnya tak dapat menahan rasa – rasa yang begitu menggebu di dalam dadanya.
“Aakhh...” rintihan panjang akhirnya keluar dari mulut pemuda berwajah indo itu karena tak tahan. Sensasi itu terasa begitu memabukkan, seperti menyesakkan libidonya, meluap – luap, membuatnya gelisah. Bebbi mengusap tengkuknya, rambutnya, berkali – kali dengan tangan bergetar.
Anandita tertawa senang melihat perubahan raut wajah Bebbi saat dirinya selesai merapalkan mantra, dan mbah Surti mengakhiri ritual itu dengan mengikatkan seutas benang merah yang menghubungkan kedua patung pengantin itu.
Anandita keluar dari raga patung wanita dan menarik Bebbi agar pemuda itu juga meninggalkan raga patung pria, mengajak pemuda itu masuk ke dalam kelambu tempat tidur yang telah disediakan mbah Surti. Dukun tua itu terkekeh – kekeh mengerikan sebelum meninggalkan tempat itu, melihat anak didiknya mulai membuka kancing kemeja Bebbi satu per satu. Sementara Bebbi yang sudah terpengaruh mantra, seperti mabuk, hanya menatap kosong pada Anandita, membiarkan gadis itu membelai wajahnya, dadanya, bahu kokohnya dan menciumi mesra bibir merah mudanya, sambil berbisik penuh nafsu.
“Akhirnya kamu menjadi milikku, sexy boy...Ayo, cumbui aku, sayang...Cumbui aku malam ini...”
Dan helai – helai mega putih pun melayang menutupi tempat tidur saat Anandita melepas bajunya sendiri.
“Beb..Bebbi..” Dinie menyentuh bahu Bebbi menyadarkan pemuda itu dari lamunan ceritanya. Dinie merasa iba pada Bebbi, gadis itu tau betul mantra apa yang telah menguasai Bebbi, pantas Bebbi seperti sulit saat diajak agar tak usah kembali pada Anandita. Mantra itu sudah mengikat jiwanya.
Padahal Yola yang dipertahankan pun, kini sudah berpaling dari Bebbi. Dinie teringat sewaktu dia browsing mencari facebook Yola, dan melihat foto – foto Yola yang sekarang, sudah bersama pemuda lain, bahkan Yola tampaknya sudah menikah dengan pemuda itu dan melupakan Bebbi. ( baca : Buku 1 )
“Ya?”
“Jadi ini perjanjian yang kamu sebut – sebut sewaktu kita bertemu di Padang tempo hari?” ( baca : Buku 1 )
“Yeah...”
“Dan setelah itu Anandita benar – benar membantumu mencari Yola? Bukankah waktu itu kamu hanya bisa menitipkan pesan untuk Yola melalui aku?”
“Ya, Anandita membantuku untuk bertemu Yola, tapi ternyata aku tidak bisa berkomunikasi dengan Yola karena dia tidak memiliki kelebihan seperti dirimu...”
“Ooh..”
“Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan saja untuk Yola, dan untuk itu aku harus mencari seseorang yang bisa berkomunikasi denganku agar bisa dititipi pesan, bertahun – tahun aku mencari dan akhirnya aku menemukan kamu...”
“Tapi setelah kita bertemu di hotel Axana Padang, kenapa kamu bilang kita tak bisa bertemu lagi, karena kamu sudah melanggar perjanjian? ( baca : Buku 1 ) Memangnya Anandita melarangmu untuk bertemu aku?”
“Ya, Anandita tidak ingin aku terlalu dekat dengan gadis lain...Ini akibatnya...” Bebbi menunjukkan rantai – rantai yang membelenggunya selama ini.
Dinie menghela nafas. Kasihan Bebbi...Aku harus menolongnya...Menyadarkannya dari pengaruh Anandita...
“Kenapa kamu selalu menuruti Anandita, Beb? Sebetulnya tak perlu kamu melakukannya, sampai mengorbankan dirimu...Perasaanmu...”
“Semua demi Yola, my Di, supaya Anandita tidak mencelakai Yola...”
“Tapi kan tidak perlu sampai seperti itu...Beb, apakah kamu tidak tau? Yola tidak mengharapkan kamu lagi...”
“Maksudmu?”
“Ikut aku, Beb...Akan kutunjukkan padamu...”
Dinie menarik tangan Bebbi, mengajak pemuda itu beranjak ke kamar kostnya, walau Bebbi tampak ragu – ragu mengikutinya. Dikamar kostnya, Dinie mengambil handphonenya, dan membuka facebook Yola.
“Lihat foto – foto ini....Yola sudah bersama pemuda lain...” terang Dinie, membuat Bebbi seperti terpana memandangi foto – foto Yola. “Maaf, aku terpaksa memperlihatkannya padamu, tapi Ini kenyataannya Beb...Yola sudah tidak mencintaimu lagi, jadi untuk apa kamu masih terus melindunginya?”
Bebbi tampak terdiam, lama, ada luka yang mendalam terlihat pada sorot mata coklat mudanya, sampai Dinie merasa tak enak hati melihat wajah indo itu tampak begitu muram. Apakah aku terlalu kejam pada Bebbi? Ta..Tapi Bebbi harus tau kenyataannya...
“Beb...Maafkan aku mungkin sudah melukaimu...Tapi...”
“Aku sudah tau...” kata Bebbi pelan. “Sudah tau Yola tidak mengharapkan aku lagi...”
“Sudah tau? Lalu kenapa?”
“Karena dia pernah menjadi kekasihku...Aku tak pernah bisa melupakannya, Dinie...Walau aku tau aku tak bisa memilikinya lagi, tapi aku...Aku tak bisa membiarkan dia celaka karena Anandita jika aku meninggalkan Anandita...”
Dinie iba mendengarnya, ah Bebbi, cintamu pada Yola...Dan mantra itu tampaknya juga masih kuat menguasai dirimu...Padahal kamu bisa saja meninggalkan Anandita, toh Yola sudah bersama pemuda lain, tidak ada yang perlu dicemburui lagi oleh Anandita, asalkan Anandita jangan mengada – ada saja - tetap mencelakai Yola walau tidak ada hubungan apa – apa lagi dengan Bebbi...
“Tapi Beb...” kata – kata Dinie terhenti karena kokok ayam jantan yang terdengar dari kejauhan, menyadarkan mereka, kalau hari telah pagi. Bebbi berdiri.
“Aku harus pergi...” sambil berkata demikian, pemuda itu menoleh pada Dinie seperti teringat pada sesuatu. “Jika kamu ingin menghentikan Anandita...Cari gadis itu..Cermin itu harus merasakan darah gadis itu sekali lagi agar segelnya kembali terkunci...”
“Beb, tunggu...Kamu belum memberitau siapa gadis itu...Dimana aku harus mencarinya...Lalu kamu sendiri bagaimana, Beb? Kamu juga harus menyelamatkan diri..” sia – sia Dinie berbicara.
Bebbi hanya tersenyum sedih pada Dinie tanpa berkata – kata lagi sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata, bersamaan dengan merekahnya sinar pertama mentari pagi dari celah – celah gorden kamar kost Dinie.