Snow-white

Snow-white
Episode 19 *Dikantor



Ketika tiba dikantor, Kennan berjalan dengan gaya cool nya menuju ruang kerjannya.


Betapa terkejutnya ketika membuka, dilihatnya Jihan yang sudah berada disana.


..."Kennan sayang! " ucapnya yang langsung berdiri dari sofa...


..."Untuk apa kamu disini?" tanya Kennan dengan tatapan dinginnya....


Tanpa mempedulikannya, Kennan langsung membuka komputernya membuat Jihan merasa kesal karena Kennan mengabaikannya.


..."Kennan, kita sarapan dulu, ya! " ucapnya namun Kennan tetap tidak mempedulikannya....


Merasa kesal dengan Kennan yang mengabaikannya, Jihan malah mendudukkan diri di meja serta kaki jenjangnya diangkat seperti sedang menggoda Kennan.


Namun Kennan hanya menatapnya sekilas dan kemudian kembali fokus pada komputernya.


Melihat Kennan yang masih mengabaikannya, Jihan menarik dress yang dikenakannya, memperlihatkan paha mulusnya.


Melihat tingkahnya, Kennan langsung berdiri dari tempat duduknya dan menariknya turun dari meja.


..."Keluarlah dari ruangan ku! " tegas Kennan dengan nada kasarnya....


Namun tidak membuat Jihan takut , tetapi malah terus melakukan tingkah menjijikan nya. Karena ia berpikir bahwa Kennan marah padanya, karena Kennan tergoda olehnya.


..."Aku hanya ingin disini sebentar, ayo kita bersenang-senang, kebetulan situasinya disini tengah sepi." rayu Jihan dengan liciknya...


Tangannya langsung menari-nari dipipi mulus Kennan sambil memainkan jari-jemari, ia terus melakukan tingkahnya untuk menggoda Kennan.


..."Keluarlah dari ruangan ku, sekarang! " tegas Kennan dengan kasarnya sambil menunjuk ke arah pintu....


Walau Kennan membentak nya dengan kasar, Jihan tetap tidak mempedulikannya, ia bahkan terus mendekati Kennan.


Tiba-tiba Kennan menarik tubuhnya mendekat dan mencium bibirnya dengan kasar.


Begitu juga dengan Jihan yang langsung membalas ciumannya, kini mereka semakin memperdalam ciumannya sampai mengaitkan lidah.


Mata Jihan menatap ke arah pintu dengan tersenyum, rupanya Jihan sudah memasang kamera didepan pintu. Entah apa tujuannya?


Ciuman yang berlangsung kurang dari tiga puluh detik itupun membuat Jihan seperti sangat menikmatinya.


..."Sudah puas, keluarlah dari ruangan ku sekarang juga! " ucap Kennan dengan datar setelah melepaskan ciumannya....


Jihan melangkah sambil tersenyum yang sulit diartikan.


Saat Jihan telah pergi, Kennan memijat pelipisnya karena kesal,kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


*******


Di sebuah gedung sekolah terlihat sangat ramai, karena semua guru sedang rapat sehingga para siswa menghabiskan waktu dengan bermain basket dan bercanda.


Namun ada yang menyempatkan diri dengan membaca buku di perpustakaan.


Sementara Dabria kini bersama Annisa sedang duduk dikantin menikmati minuman dan cemilan yang mereka pesan sambil bercerita.


Rasanya ingin sekali Dabria memberitahukan kepada Annisa bahwa dirinya sudah disentuh oleh Kennan, namun banyak hal yang dipikirkannya termasuk ibunya, karena Dabria tak ingin ibunya syok nanti. Mengingat Annisa yang tak bisa menjaga bicaranya.


..."Bria, kamu gak diapa-apain sama Tuan Kennan kan? " tanya Annisa seketika membuat Dabria keselek dengan minumannya....


..."Bria , kamu gak apa-apa? " ucap Annisa sambil menepis punggung Dabria dengan lembut....


Dabria yang terlihat gugup dengan ucapan Annisa sehingga ia mencoba mengalikan perhatian Annisa.


..."Ibu baik, bahkan terlihat sangat baik ketika aku menceritakan padanya bahwa kamu baik-baik saja. " jelas Annisa membuat Dabria semakin tak berniat menceritakan semuanya, apalagi mendengar ucapan Annisa....


Setelah jam pulang sekolah, Dabria dan Annisa yang sudah berjalan sampai pertigaan dan saat berpamitan untuk berpisah, tiba-tiba Zain membunyikan klakson mobil membuat Dabria berhenti dan memandangnya.


..."Dea, ayo! " ucapnya, namun Dabria hanya terdiam dan kemudian menatap ke arah Annisa yang hanya mengangguk....


Zain membuka pintu mobil di sampingnya dan mempersilakan Dabria masuk. Kemudian ia kembali mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan luas itu.


Beberapa menit telah berlalu, tibalah mereka didepan rumah.


..."Dea, sebentar kita jalan-jalan , ya! " ucapnya ketika hendak masuk kedalam rumah yang megah itu....


..."Tapi Tuan, saya.. " ucap Dabria dengan kebingungan , mengerti dengan apa yang membuatnya keberatan, Zain langsung memotong ucapannya....


..."Sudah, jam segini kakak belum pulang, lagian kan kemarin kakak larang karena hari sudah malam! " tuturnya...


..."Yasudah, Dabria pikir-pikir dulu! "sahutnya membuat Zain mengangguk pelan, kemudian Dabria melangkah menuju kamar begitu juga dengan Zain....


Saat membuka pintu kamar, Dabria menarik napas panjang mengingat ucapan Zain yang mengajaknya jalan berdua. Namun ia mungkin harus meminta ijin pada Kennan mengingat ucapan Kennan semalam padanya.


Tapi bagaimana ia melakukannya, sedangkan Kennan baru pulang dari kantor saat petang , ingin mengirim pesan, namun ia sendiri tak punya handphone.


Sehingga ia berinisiatif untuk mengajak Zain nonton drama favoritnya di televisi sambil menunggu Kennan kembali dari kantor.


Ya, dan juga agar mengundang amarah Kennan karena mereka hanya menonton televisi.


Setelah menganti pakaiannya, Dabria menghampiri Zain yang sedang duduk diruang tengah.


..." Tuan, bagaimana kalau kita nonton drama favorit aku? " ucap Dabria sembari menampilkan senyum manisnya....


..."Apa kamu keberatan kalau kita jalan? " tanya Zain yang dapat menebak pikiran Dabria dari ucapannya....


..."Maaf Tuan, tapi saya tidak bisa pergi tanpa ijin dari Tuan Kennan! " jelasnya membuat Zain mengangguk paham....


Zain beranjak dari tempat duduknya menuju dapur, membuat Dabria merasa tak enak karena menolak ajakan Zain. Namun apa boleh buat, Kennan sudah menegaskan nya untuk tidak pergi berduaan bersama Zain, adiknya.


Dengan raut wajah murung, Dabria mendudukkan diri disofa, tiba-tiba Zain datang sambil membawa sebuah keranjang yang berisi cemilan dan diletakkannya diatas meja.


..."Ayo kita nonton, bukannya seperti ini sama saja kita nonton dibioskop? " ucapnya membuat Dabria tersenyum....


Ia mengiranya Zain kecewa padanya karena menolak ajakannya, namun melihat tingkah Zain yang walau kekanak-kanakan membuatnya bernapas lega.


Keduanya duduk menghadap ke layar lebar yang berada di depannya untuk menonton serial televisi pilihan mereka, sambil menikmati cemilan yang disediakan oleh Zain.


Karena serial televisi mereka tonton adalah komedi membuat mereka tertawa terbahak-bahak, hingga tanpa mereka sadari hari sudah sore.


..."Dasar anak nakal, apa yang kalian lakukan? Kenapa ini terlihat berantakan sekali seperti tong sampah? " ucap Kennan membuat keduanya terkejut....


Mereka baru menyadari bahwa ternyata mereka menghabiskan waktu setengah hari hanya dengan menonton, dan saat melihat bungkus cemilan membuat mereka terkejut, karena banyak sekali cemilan yang mereka habiskan.


Wajar saja karena Zain sudah hampir lima kali kedapur hanya untuk mengambil cemilan. Bahkan, walau belum sempat makan siang saja sudah membuat mereka kenyang karena banyak cemilan yang mereka habiskan.


Tanpa memperdulikan ekspresi Kennan yang kesal menatapnya, mereka langsung bergegas memungut bungkus cemilan yang berserakan dia lantai.


..."Mereka benar-benar terlihat seperti anak kecil." gumamnya yang terus memperhatikan keduanya yang sedang sibuk memungut bungkus cemilan serta remah-remah yang berserakan di lantai....


Bersambung.......