Snow-white

Snow-white
Bab 8 : Larii!!



Anandita perlahan bergerak mendekati Dinie yang menggigil berdiri di belakang Bebbi. Anandita mengangkat tangannya yang berkuku panjang dan runcing, menunjuk Dinie.


“Aku mau gadis itu mati!” geram Anandita garang. “Minggir kamu, pengkhianat!!”


“Dinie tak ada sangkut – pautnya dengan dendammu, Anandita! Untuk apa kamu menginginkan dia mati?”


“Bodoh! Dendam adalah dendam, aku ingin semua gadis mati! Dan aku juga paling benci pada semua gadis yang dekat denganmu! Kamu milikku seorang, tak ada gadis lain yang boleh merebutmu dariku!” Anandita menjerit penuh kecemburuan, dan menatap tajam pada Dinie. “Aku Snow White yang cantik, tak ada yang boleh menandingiku!!”


Anandita menggeram keras, yang ditelinga Dinie bagai mendengar geraman harimau betina yang begitu buas hendak menerkam mangsanya, membuat gadis itu semakin menggidik ngeri. Dinie melihat Bebbi juga mulai bersikap waspada, wajah indo pemuda itu begitu pucat dibalik rambut gondrong sebahunya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Mata coklat mudanya menatap tajam pada Anandita. Dinie setengah mati berusaha meyakinkan kalau matanya tidak salah lihat, urat – urat punggung tangan Bebbi mulai berkedut - kedut bagai ada yang menjalar keluar menuju ujung jemarinya. Kuku – kuku bagai cakar harimau muncul pada ujung – ujung jemari itu, kian memanjang dan runcing seperti milik Anandita. Dinie tercekat memandang Bebbi dan merasa mulai mendengar geraman – geraman halus keluar dari tenggorokan pemuda itu.


“Sudahlah, Anandita...”


“Apanya yang sudah?!“


“Sudahi semua dendam dan ambisimu, and...Just go away!”


“Kamu mengusirku?! Ingat, arwahmu masih dalam genggamanku! Jangan coba – coba melawanku! Dan kita juga sudah terikat tali pernikahan, jangan sampai lupa itu!”


“Tak usah mengingatkanku berulang – ulang! Kamu tau kamu yang sudah menjebakku dengan perjanjian itu!” Bebbi setengah menggeram.


Dinie terbelalak mendengar itu, apa? Anandita dan Bebbi sudah terikat tali pernikahan?! Bukankah Bebbi sudah meninggal pada bencana gempa pada tahun 2009, ( baca : Buku Satu ) mendahului Anandita? Kapan mereka menikah? Ibu Anandita waktu itu tak ada cerita masalah ini...


“Diam bodoh!!...Sekarang lebih baik minggir saja kamu!” Anandita menjerit marah.


Dinie tak tau, apakah ini hanya imajinasi yang muncul karena dia sedang ketakutan atau bagaimana, gadis itu merasa ruangan gudang tiba – tiba menjadi sempit, seperti ingin menyesakkan mereka. Pada saat – saat seperti itu Bebbi menyentuh tangan Dinie.


“Dinie, kamu lihat pintu gudang? Kalau aku bilang, lari, larilah sekencangmu kesana, jangan menoleh lagi, ok?” bisik Bebbi.


“Kamu juga ikut lari kan?” Dinie bertanya gugup. Bebbi menggeleng.


“Tidak, Dinie...”


Tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan Dinie, sementara ruangan gudang kiat melesak sempit. Anandita bagai harimau betina yang makin bergerak liar, sudah kian mendekati mereka. Aroma melati bercampur bau anyir darah menguar kuat sangat mengganggu pernafasan. Dinie tak terasa memegangi lengan Bebbi erat - erat, karena begitu tegang, sementara pemuda itu tampak semakin waspada mengawasi setiap gerak – gerik Anandita.


“Minggir!! Aku menginginkan gadis itu!!” Anandita menggeram melihat Dinie yang semakin merapat di belakang Bebbi. Tangan Anandita yang berkuku panjang dan runcing itu tiba – tiba mengacung ke depan, membuat Dinie terkejut dan menjatuhkan senter yang selama ini dikantongi gadis itu dalam saku piamanya, bunyinya nyaring berdentang beradu dengan lantai keramik gudang itu. Anandita tersentak menoleh ke arah senter yang menggelinding ke arah kakinya. Mata Bebbi berkilat senang melihat kesempatan bagus itu.


“Sekarang Dinie! Larii!!” Bebbi tiba - tiba mendorong Dinie keras – keras ke arah pintu gudang, membuat gadis itu hampir saja terjerembab jatuh. Bersamaan dengan itu Bebbi menubruk Anandita, keduanya lantas terguling di lantai gudang. Setengah mati Bebbi kemudian berusaha menahan Anandita agar tidak bangkit mengejar Dinie.


“Lepaskan aku, tolol! Biarkan aku menghabisi gadis itu!” jerit Anandita mengamuk. Kekuatan Bebbi tidak sebanding dengan kekuatan ilmu hitam yang dimiliki Anandita. Ditambah tubuhnya yang penuh luka dan rantai – rantai yang berat membelenggu, membuat Bebbi tak mampu menahan Anandita lama - lama.


“Cepat, Dinie, cepat! I can't hold her any longer!” teriakan Bebbi membuat semakin Dinie panik, gadis itu berlari menuju pintu gudang yang mendadak begitu susah digapai, pintu itu dekat, tapi jalan menuju kesana bagai menjadi semakin sempit mempersulit Dinie melewatinya. Setelah dengan membabi buta menabrak barang – barang yang menumpuk digudang itu, menerjang apa saja yang ada dihadapannya, Dinie akhirnya berhasil keluar dari gudang.


Anandita yang dengan mudah melepaskan diri dari Bebbi, segera melayang keluar gudang, mengejar Dinie.


“Oh tidak!” Dinie bagai gila melintasi dapur dan ruang tengah, memburu pintu – pintu kamar kost teman – temannya, menggedornya, menjerit minta tolong. “Tolong! Lisa! Reni bangun! Tolong akuu!! Airin!!”


Anehnya, sekeras apapun Dinie menjerit – jerit, menggedor pintu, tapi tak seorangpun teman – teman kostnya yang terbangun.


“Bu Rosnah!! Tolong bu!!” Dinie menjerit memanggil ibu kostnya yang tidur di kamar yang terletak di lantai dua rumah kost itu. Tapi nihil. Rumah kost itu bagai mendadak kosong tak berpenghuni. Sunyi .Sepi. Tak ada jawaban. Apa yang terjadi, kemana semua orang?! Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Dinie mendekap mulutnya, begitu frustasi. Tubuhnya mendingin bagai es.


Gadis itu mondar – mandir, pucat – pasi. Sementara Anandita tampak melayang di langit – langit rumah kost, bagai setan dengan wajah yang sangat menyeramkan, tubuhnya yang bagai berpendar – pendar hilang – timbul, perlahan turun mendekati Dinie. Geraman Anandita bagaikan sanggup membangkitkan mahluk – mahluk kubur lainnya, mendirikan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya.


Dinie terpojok disudut ruangan, bagai tikus kecil yang terperangkap, menggigil ketakutan melihat Anandita yang berdiri tegak dihadapannya, dekat sekali, tertawa menyeringai. Tangan – tangan berkuku panjang milik Anandita mulai merayapi wajah Dinie, membuat gadis itu meringis kesakitan karena kuku – kuku Anandita menggores pipinya.


“Anandita, jangan sentuh dia!!” teriakan Bebbi membahana dari belakang. Pekikan kesakitan Dinie, membuat Bebbi meraung mengutuki rantai yang membelenggunya dan luka – luka pedih menyiksa yang menghalangi dirinya untuk bisa bergerak lebih cepat.


“Aaarrghh!! Tanganku!!” tapi tiba – tiba sebuah jeritan terdengar nyaring.


Diluar dugaan, Anandita mendadak terhentak ke belakang melepaskan Dinie, membuat Bebbi juga Dinie terperangah melihatnya. Tangan Anandita tampak membara seperti terbakar.


“Aarrghh, tanganku panaas!! Panaas!!”