Snow-white

Snow-white
Bab 4 : Kisah Tragis Anandita



“Apa yang terjadi, Din? Kenapa kamu bisa ada di atas kuburan? Kuburan itu jauh lho dari rumah kostmu...Bagaimana bisa? Tengah malam lagi...” Rikki bertanya – tanya kuatir ketika menjemput Dinie dengan motornya pagi itu, dari rumah salah satu warga yang menemukan Dinie kebingungan di kompleks perkuburan di tengah malam menjelang dini hari. 


“A..Aku pun tidak tau, Rik..Seingatku malam itu aku berada dalam kamar kostku, tapi terus tau – tau aku sudah berada di atas kuburan...” jawab Dinie dengan wajah shock. “Sulit untuk menjelaskan, aku pun tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada diriku...Dan rasa – rasanya aku bertemu dengan Bebbi...”


“Apa?! Bebbi? Idolamu itu ya? Bukannya dia sudah meninggal...” Rikki terdengar sedikit cemburu mendengar Dinie menyebut – nyebut nama Bebbi.


“Rikki, please deh! Aku sedang bingung nih...” rutuk Dinie.


“Iya, tapi kenapa harus menyebut nama Bebbi sih?”


“Karena memang aku bertemu dengan dia malam tadi...Dia bilang Agnes dibunuh karena sudah memanggil ‘Snow White’...”


“Snow White?? Putri Salju maksudmu? Yang di film kartun itu? Yang benar saja...” Rikki tertawa mencemooh.


“Jangan ketawa! Aku serius nih!”


“Oke, oke...Maaf...”


“Tapi selain itu Bebbi juga ada menyebut nama Anandita...Seperti nama yang ada di batu nisan kuburan tempat aku ditemukan warga...Suatu kebetulan yang aneh bukan?”


“Lalu?”


“Jangan - jangan Anandita ada sangkut – pautnya dengan kematian Agnes...”


“Hmm?...Ceritamu agak membingungkan, Din...Oke, begini deh, aku tau kamu pasti belum sarapan, yuk kita duduk di warung itu, lalu sambil sarapan, pelan – pelan ceritakan deh padaku apa yang sudah kamu alami, dari awal ya biar aku paham...” usul Rikki sambil menunjuk sebuah warung mie rebus yang berada tak jauh dari depan mereka.


“Iya deh...” Dinie menuruti usulan Rikki yang lantas menghentikan motornya, di depan warung mie rebus yang dia maksud.


Keduanya duduk berhadapan sambil menikmati pesanan mie rebus mereka. Dinie sebetulnya tak sanggup menelan mie rebus itu, karena masih terpikir dengan kejadian yang dialaminya. Tapi dipaksakannya juga untuk makan.


“So...Bagaimana cerita nya?” Rikki membuka percakapan. Dinie menatap Rikki ragu – ragu. Aku harus mulai darimana ya? Nanti salah – salah malah jadi bahan tertawaan...batin Dinie. Tapi akhirnya gadis itu mencoba menceritakan semua kejadian yang timbul sejak dia membeli cermin antik ‘Snow White' dari almarhum bapak tua tukang loak itu. Rikki tampak mengerutkan kening mendengarnya, Dinie tau Rikki tak terlalu percaya akan ceritanya, tapi pemuda itu tampak mencoba menghargai dirinya.


“Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya Rikki ketika Dinie selesai bercerita.


“Aku pikir aku akan mencoba memanggil Bebbi lagi, kurasa dia tau banyak soal kematian Agnes...” jawab Dinie sambil berpikir – pikir.


“Tapi hati – hati, bukankah kamu bilang yang disebut Anandita oleh Bebbi tampak sangat marah ketika Bebbi mencoba memberitaumu tentang pembunuh Agnes.” Rikki mengingatkan.” Kita tidak tau seberapa bahayanya mahluk yang bernama Anandita itu...”


“Anandita perempuan sepertinya, Rik..”


“Aku tau, tapi dia kan bukan manusia, makanya aku sebut mahluk.”


“Hmm, atau begini deh, mungkin kita bisa bertanya – tanya dengan warga sekitar perkuburan itu tentang Anandita...Mereka pasti tau siapa saja yang dikuburkan di daerah mereka kan?” kata Dinie kemudian.


“Yah bisa jadi...Tapi untuk apa bertanya soal Anandita?”


“Siapa tau Anandita ada kaitannya dengan kematian Agnes...Dan ada clue tentang 'Snow White' juga..”


“Ooh begitu...”


“Yuk?”


“Sekarang?”


“Ya iya lah, memangnya tahun depan?” Dinie sedikit sewot dengan pertanyaan Rikki ‘Sekarang?’


“Hei bukan begitu, maksudku, kamu nggak pulang dulu, istirahat, kan kamu hampir tidak tidur semalaman?”


“Ah nggak apa – apa kok, aku justru tidak tenang sebelum aku mendapat jawaban tentang kematian Agnes yang tidak wajar ini...”


“Dinie...Dinie...Aku tau kamu sedih kehilangan Agnes, tapi jangan ngotot begini dong? Nanti kamu yang sakit...” Rikki menggeleng – gelengkan kepala, melihat Dinie yang begitu bersikukuh.


“Please Rik? Sebentar saja kok hanya tanya – tanya...Please?”


“Oke, baiklah...Tapi setelah itu kita langsung pulang, dan kamu istirahat? Okey? Sweetie darling?”


“Ah Rikki...Jangan pakai sweetie lah...”


“Kenapa? Mengingatkanmu dengan Bebbi?”


“Sudah ah, jangan dibahas...”


Maka setelah menghabiskan mie rebus masing – masing, Dinie dan Rikki kembali ke kompleks perkuburan itu. Seorang penggali kubur yang sedang bekerja, segera menjadi perhatian keduanya. Penggali kubur itu adalah orang pertama yang menemukan Dinie tersesat di perkuburan itu tadi malam.


“Maaf pak, boleh kami mengganggu sedikit pekerjaan bapak?” tegur Dinie sopan.


“Ya? Ada apa?” penggali kuburan itu menyeka keringatnya, memandang Dinie dan Rikki. “Oh, ini nona yang tadi malam tersesat di kuburan nona Anandita ya?”


“Iya pak...Ehm, ada yang mau kami tanyakan.. ”


“Bertanya apa?” penggali kubur meletakkan cangkul yang sedari tadi menjadi alat kerjanya, merapikan gundukan tanah sebuah kuburan.


“Bapak bisa cerita sedikit tentang kuburan Anandita?“


“Kuburan nona Anandita? Oh, tidak...Anu..Maksud saya...Saya tidak tau apa – apa kalau soal kuburan nona Anandita, mungkin nona bisa bertanya pada orang lain saja...” raut wajah penggali kubur itu tiba – tiba berubah begitu mendengar pertanyaan Dinie.


“Tapi pak...” Dinie tercengang melihat perubahan sikap penggali kubur itu.


“Maaf, tapi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya...” penggali kubur itu kembali mengambil cangkulnya.


Rikki memberi isyarat pada Dinie agar mereka sebaiknya pergi saja dari situ. Penggali kubur itu tampak tidak terlalu suka ditanyai masalah Anandita, seperti ada sesuatu yang ditakutkan olehnya.


“Kenapa Rik? Aku kan masih ingin menanyai bapak itu?” tanya Dinie kecewa, ketika mereka sudah keluar dari kompleks perkuburan.


“Kamu tidak melihat ekspresi bapak itu? Dia ketakutan!” tukas Rikki.


“Ketakutan kenapa?” tanya Dinie tak paham, sementara Rikki hanya mengangkat bahu.


“Mungkin ada hal yang sangat menakutkan berkaitan soal Anandita...Saranku sih, kita pun sebaiknya jangan terlalu melibatkan diri deh...”


"Hei, jangan begitu dong, Rik?"


"Perasaanku nggak enak terus sejak dari ceritamu itu...Terlalu aneh bagiku...Dan bapak penggali kubur yang seharusnya terbiasa dengan yang menyangkut kematian saja bisa takut...Berarti ada sesuatu yang sangat berbahaya..."


“Tapi Rikki....Sepertinya suka nggak suka, kita terpaksa harus melibatkan diri saat ini, soalnya bagaimana dengan Agnes, Rik? Apakah kita tega membiarkan Agnes meninggal sia – sia? Agnes sepupu terdekatku, Rik! Dan aku sangat sayang padanya...” Dinie begitu serius ketika mengatakan itu, hingga matanya sampai berkaca - kaca seperti hendak menangis.


Aku pun sebetulnya takut, Rik, batin Dinie sambil memandang Rikki. Aku juga tidak tau apa yang akan kita hadapi, karena kematian Agnes sepertinya melibatkan sesuatu yang bukan dari alam manusia, sesuatu yang berdekatan dengan maut...Tapi aku tak bisa...Tak bisa membiarkan kematian Agnes menjadi sia – sia, Agnes meninggal begitu cepat tanpa sempat meninggalkan pesan apapun...Kita harus mengungkap misteri kematian Agnes, Rik...Maafkan aku jadi melibatkanmu, tapi kamu satu – satunya tumpuanku sekarang...


“Ya sudah, jangan menangis dong? Oke, oke, kita akan coba cari ketua RT atau apalah, untuk kita tanyai masalah Anandita kalau kamu masih penasaran.” Rikki akhirnya mengalah tak sampai hati melihat wajah sedih Dinie.


“Terima kasih ya Rik...”


“Ah no problemo lah...” sahut Rikki ringan.


Tapi yang namanya Ketua RT juga ternyata tidak mau berbicara banyak soal Anandita dengan alasan dia ketua RT baru di daerah itu sedangkan Anandita hidup dimasa bapaknya menjadi RT dulu, kini bapaknya sudah lama meninggal.


“Maaf, saya tidak tau soal Anandita, mungkin nona lebih baik tanya dengan keluarganya yang tinggal diujung jalan...Itu di rumah besar yang berwarna krem...”


“Oh begitu ya pak?”


Dinie dan Rikki diantar sampai ke depan pagar rumah besar itu oleh ketua RT tersebut, tapi anehnya, jangankan memperkenalkan Dinie dan Rikki pada pemilik rumah besar itu, menemani sampai pemilik rumah besar itu keluar saja, ketua RT itu tampak begitu enggan.


“Maaf, saya sedang ada urusan lain, kalian tunggu saja sampai pemilik rumah ini keluar...Mudah – mudahan...” pamitnya terburu – buru.


“Apa maksud bapak dengan mudah – mudahan?” tanya Dinie bingung melihat ketua RT itu berlalu dengan cepat, meninggalkan mereka begitu saja.


“Hei, ada apa ini? Aku kok mulai merasa nggak enak ya?” komentar Rikki sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal itu. “Sepertinya semua orang disini ketakutan pada Anandita...”


Tiba – tiba pagar rumah besar itu terbuka tanpa sempat mereka sentuh. Sepertinya itu pagar otomatis yang dikendalikan dari dalam, pemilik rumah itu sudah tau akan kedatangan Dinie dan Rikki.


“Oh yah bagus...Pagarnya terbuka sendiri...Apakah kita diterima masuk disini?” lanjut Rikki setengah panik karena melihat pagar yang bergeser sendiri itu. Dinie mengangkat bahu dan menggamit Rikki agar mengikutinya masuk ke dalam halaman rumah besar itu. Dinie tau perbuatannya itu jelas - jelas membuat Rikki ternganga melihat keberaniannya yang tanpa gentar memasuki begitu saja halaman rumah besar yang belum mereka kenal sama sekali, padahal sebetulnya kakinya saja sudah begitu susah rasanya untuk melangkah karena gemetar.


Setibanya didepan pintu rumah besar itu, seorang wanita setengah baya berwajah seperti peranakan India menyambut mereka dengan senyumnya, walau bagi Dinie, senyum itu tampak seperti dipaksakan.


“Ah setelah sekian lama, akhirnya ada juga yang mau bertamu ke rumah ini...” gumam wanita itu hampir – hampir seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


“Eh begini, teman saya tadi malam ditemukan tersesat di sekitar kuburan Anandita, padahal kami tinggal jauh dari sini, so...Teman saya ini bingung dan ingin bertanya...” tiba – tiba Rikki sudah mendahului Dinie berbicara blak – blakan soal tujuan mereka, membuat pemuda itu hampir terjungkal ke depan saking kerasnya Dinie menyikutnya. Dinie mendelik pada Rikki, pandangannya seolah berkata, ‘Jangan bikin kacau dong, Rik..’ Pemuda itu hanya cengengesan disikut Dinie.


“Tersesat di kuburan Anandita? Ah...Terjadi lagi...” diluar dugaan, wanita itu ternyata merespon baik kata – kata Rikki.


“Maksud, ibu?”


“Sudah sering terjadi...Sejak Anandita meninggal, banyak kejadian aneh terjadi...Gadis – gadis, entah dari mana, tiba – tiba ditemukan kebingungan tersesat di kuburan Anandita...Dan biasanya mereka semua menjadi hilang ingatan...” kata wanita itu sambil menghela nafas, raut wajahnya tampak sedih.


“Hilang ingatan? Ta..Tapi saya...”


“Berarti ananda gadis yang kuat...”


“Dinie gadis indigo, bu...” celetuk Rikki.


“Nggak ada hubungannya, tolol...” desis Dinie mendelik pada Rikki. “Bagaimana bu? Kenapa gadis – gadis itu bisa tersesat di kuburan Anandita? Yah, seperti saya sendiri juga bingung kenapa saya bisa sampai di kuburan Anandita...”


“Hmm begini...Sebaiknya kita masuk dulu yuk? Biar bincang – bincangnya lebih enak...” tawar wanita itu.


“Ah nggak usah, kami diluar sa...”


“Terima kasih bu...” Dinie buru – buru memotong perkataan Rikki.


Sesaat kemudian keduanya sudah terduduk dengan gugup di sebuah ruang tamu yang begitu kental nuansa India. Sofa yang mereka duduki dan beberapa furniture yang tertata rapi di situ, begitu semarak dengan warna – warna cerah yang merupakan ciri khas budaya India. Dinie merasa jangan – jangan keluarga Anandita berasal dari India, secara nama Anandita juga sebetulnya terdengar seperti nama India. Wanita itu kemudian datang sambil membawa sepoci teh hangat dan senampan kue – kue manis untuk mereka.


“Anandita...Dia sudah meninggal bertahun – tahun yang lalu tapi warga disini masih saja ketakutan dengan Anandita...Padahal dulunya dia adalah gadis yang paling diperebutkan pemuda – pemuda disini lho?” wanita itu memulai percakapan. Dinie langsung berpendapat, adalah salah bersikap ketakutan pada wanita itu dan rumahnya, nyatanya wanita itu cukup ramah menerima mereka. Tidak seperti yang dipikirkan oleh ketua RT yang penakut itu, rutuk Dinie dalam hati.


“Anandita sangat cantik ya bu?”


“Ya...Lihat ini lukisannya...Dia cantik bukan?” kata wanita itu sambil menunjuk sebuah lukisan besar yang tergantung disalah satu dinding ruang tamu itu. Dinie memandang lukisan itu, entah kenapa gadis itu justru menggidik, alih – alih berdecak kagum. Dalam lukisan besar itu tampak seorang gadis yang sedang duduk diatas sofa, mengenakan gaun panjang berwarna krem dengan atasan ditutupi brokat berwarna kebiru – biruan, mengenakan bando merah yang menghiasi rambut hitam panjangnya yang berkilau dijalin satu, terjulur menutupi dadanya. Kulit gadis itu begitu putih bersih bagai salju, dan bibirnya yang indah begitu merah bagai darah, gadis itu memang begitu cantik jelita seperti bule, gayanya mengingatkan Dinie pada putri dalam dongeng, 'Snow White' ketimbang seorang gadis India. Cantik, tapi raut wajah gadis itu berkesan penuh aura yang menyeramkan. Entahlah, Dinie juga tidak tau, tapi dia seperti merasa tak enak saat memandangnya, seolah gadis dalam lukisan itu sedang menatapnya dengan murka. Dinie melirik Rikki yang juga sedang memandang lukisan itu, pemuda itu tampak ternganga entah karena kagum atau merasa takut, yang pasti Dinie buru – buru mencolek bahunya agar segera menutup mulutnya yang ternganga itu, takut dikira tidak sopan.


“Maaf bu, saya lihat Anandita begitu cantik tapi kenapa warga disini seperti ketakutan dengan Anandita? Dan gadis – gadis itu...Apa yang terjadi sebetulnya bu?” Dinie mengulang pertanyaannya semula, karena merasa belum terjawab oleh wanita itu.


“Yah, begitulah, nanda...”


“Maksud ibu?...” Dinie mulai tak tenang dengan jawaban wanita itu, yang tampak seperti mengulur – ulur waktu. “Ohya, maaf bu, kalau boleh tau, ibu ini siapanya Anandita ya?”


“Saya ibunya Anandita...”


“Ooh...Maafkan saya bu...” Dinie sedikit terjengah mendengarnya. “Maafkan, mungkin pertanyaan – pertanyaan saya tidak nyaman bagi ibu, tapi saya mohon bu...Bisa ibu ceritakan pada saya kenapa? Saya baru saja kehilangan sepupu terdekat saya, bu...Ah sulit saya menjelaskannya, kematiannya sangat tidak wajar...Satu – satunya clue yang ada mengarah pada Anandita, dan mungkin hal itu juga yang membawa saya sampai ke kuburan Anandita...Jadi saya mohon cerita dari ibu...”


Wanita setengah baya yang ternyata adalah ibu Anandita itu menghela nafas, mendengar kata – kata Dinie.


“Baiklah, nanda...Ibu akan cerita..”


Walau tampak enggan, ibu Anandita akhirnya mulai berkisah bahwa bertahun – tahun yang lalu, Anandita putri tunggalnya adalah gadis yang paling cantik di daerah itu, begitu mempesona semua pemuda, bahkan kecantikan Anandita juga tak jarang mengusik lelaki – lelaki yang sudah beristri. Sudah lelah dirinya dan suami yang merupakan orang tua Anandita menerima kedatangan pemuda dari berbagai pelosok di daerah itu yang ingin meminang Anandita, karena semua pinangan itu selalu ditolak oleh gadis itu. Anandita begitu bangga akan kecantikannya hingga dia terlalu memandang sebelah mata semua pemuda – pemuda itu.


“Kenapa Dita? Kenapa kamu tolak pinangan pak Jarwo? Beliau kan seorang pengusaha yang kaya – raya, hidupmu akan terjamin jika bersama beliau..” tanya ayah Anandita menyesali penolakan Anandita hari itu.


“Tidak ayah, tidak ibu...Pak Jarwo sudah beristri...”


“Ah tidak ada salahnya menjadi istri kedua, tapi hidupmu terjamin..”


“Dita tidak sudi jadi istri kedua! Lagipula Dita hanya mencintai teman kampus Dita, tak ada yang lain!”


“Teman kampusmu yang mana, Dita?...Oh yang berambut gondrong itu? Yang suka tertawa tidak sopan itu?”


“Biasa saja kali, bu...Dia memang selalu ceria, bukannya tidak sopan...”


“Tapi dia tidak pernah datang meminangmu?”


“Mungkin dia hanya mencari waktu yang tepat saja, bu..” tapi suara Anandita terdengar tidak yakin ketika mengucapkan itu. Karena kenyataannya pemuda idamannya itu memang tidak pernah menyinggung – nyinggung soal meminangnya. Anandita merasa gundah juga sebetulnya. Pemuda itu begitu baik padanya, bahkan pada hari ulang tahunnya beberapa waktu yang lalu, pemuda itu memberi hadiah berupa sebuah cermin antik yang sangat indah, piguranya terbuat dari ukiran kayu jati yang sangat artistik. Bahkan pemuda itu mengukir sebuah nama untuk cermin itu.


“Kenapa cerminnya diberi nama ‘Snow White'?” tanya Anandita saat menerima cermin itu.


“Bukan untuk cermin ini, Anandita, nama ‘Snow White' itu untukmu...”


“Untukku?”


“Ya, karena kamu secantik putri ‘Snow White'...” begitu kata pemuda itu, membuat Anandita begitu tersanjung mendengarnya.


“Ah kamu bisa saja...” wajah cantik Anandita bersemu kemerahan saat pemuda itu mencium keningnya dan mengucapkan selamat ulang tahun.


Tapi pemuda itu tetap tak pernah datang meminangnya seperti yang dilakukan pemuda – pemuda lain. Justru suatu hari pemuda itu dengan tergesa – gesa pergi ke Bandara meninggalkan Anandita, mengejar gadis lain yang ternyata kekasih pemuda itu. Anandita merasa tertipu dengan sikap baik si pemuda selama ini, sebelum pergi bahkan dengan mudahnya si pemuda mengatakan dia hanya menganggap adik pada Anandita, membuat Anandita begitu terpukul dan sakit hati, karena selama ini tak ada pemuda yang menolak kecantikannya, semua memujanya, tapi pemuda teman kampusnya itu justru menolak cintanya dan lebih memilih gadis lain yang menurut Anandita, kecantikan gadis itu belum seberapa dibanding kecantikannya.


Belum hilang rasa terpukul dan sakit hati yang melanda, Anandita harus menghadapi pak Jarwo yang semakin gencar mendatanginya, merayunya agar mau menjadi istri keduanya.


“Saya yang salah...Saya yang salah...” kata wanita setengah baya, ibu Anandita itu dalam penuturannya, sorot penyesalan yang mendalam terlihat pada mata ibu Anandita, membuat Dinie tak dapat menahan rasa iba dan membelai bahu wanita itu, mencoba menenangkannya. “Saya dan ayah Anandita sudah begitu terlena dengan hadiah – hadiah mahal yang diberikan pak Jarwo, sulit kami menolak permintaan pak Jarwo untuk menikahi Anandita...Hingga akhirnya pada hari pernikahan itu...”


Sampai disitu, ibu Anandita tampak begitu sulit menahan tangisnya karena teringat lagi pada kejadian yang menimpa anak gadisnya waktu itu. Ibu Anandita seperti tak bisa memaafkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.


Karena hari pernikahan itu ternyata menjadi hari yang paling buruk dalam sejarah hidup Anandita. Tidak ada yang mengira Istri pertama pak Jarwo datang pada hari itu dengan penuh amarah, dan menyiramkan air keras ke wajah cantik Anandita, sehingga wajah yang selama ini jadi kebanggaan Anandita, hancur meleleh separuh meninggalkan cacat yang mengerikan.


“Sejak itu Anandita berubah...Anandita putriku yang cantik berubah menjadi gadis yang mengerikan...Tak ada lagi Anandita yang lembut, tidak ada lagi Anandita baik hati...” tangis ibu Anandita begitu tertekan.


Karena sejak itu Anandita begitu menaruh dendam dengan istri pak Jarwo yang sudah menghancurkan kebanggaannya, gadis itu lalu terjerumus mempelajari ilmu – ilmu hitam yang mengerikan agar bisa menyiksa dan membunuh istri pak Jarwo. Tidak sampai disitu, Anandita bagaikan gila setiap kali melihat gadis – gadis lain yang berwajah cantik, dia begitu sakit hati karena bukan dia lagi yang dipuja – puja para pemuda, dia kini menjadi tertinggal dan diremehkan karena cacat di wajahnya. Anandita tidak bisa menerima kenyataan itu, dan bertekad menghabisi dan merusak wajah gadis – gadis itu agar menjadi senasib dengannya. Tapi sebelum semua dendamnya terlaksana sebuah kecelakaan mobil menghabisi nyawa Anandita. Gadis itu meninggal dengan jiwa yang masih penuh dendam.


“Sejak kematian Anandita, daerah kami selalu dibayang – bayangi oleh kejadian aneh yang mengerikan, seperti yang terjadi pada gadis – gadis itu...Warga disini ketakutan dan menuduh semua itu disebabkan oleh gangguan arwah Anandita...” lanjut ibu Anandita disela – sela tangisnya. “Katanya karena Anandita pernah mempelajari ilmu hitam jadi arwahnya tidak tenang...Ah Anandita, putriku...”


Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan seperti menyesali putrinya yang sudah terjerumus mempelajari ilmu hitam hanya karena dendam dan sakit hati. Dinie memandang Rikki dengan perasaan tidak enak. Kisah Anandita ternyata begitu tragis.


“Din...Sebaiknya kita...” Rikki memberi isyarat mengajak Dinie untuk beranjak saja dari rumah itu, kedatangan mereka tampaknya hanya membuat ibu Anandita bersedih terkenang dengan anaknya Anandita. Dinie menggigit bibirnya, tapi dia masih belum melihat kaitan antara Anandita dengan kematian Agnes. Gadis itu berpikir – pikir, apakah Agnes merupakan salah satu korban dendam arwah Anandita? Tapi rasanya nggak mungkin ya? Agnes jauh dari kehidupan Anandita, tidak mungkin ada hubungannya. Hmm....Lagipula waktu itu Bebbi juga mengatakan Agnes dihabisi karena sudah memanggil Snow White...Berarti bukan karena Anandita kan?..Oke..Tapi lalu siapa Snow White? Apakah...Apakah Snow White ada hubungannya dengan Anandita? Karena malam itu ketika Bebbi menyebutkan Snow White, arwah Anandita yang muncul penuh amarah dari dalam cermin itu...


“Eh, tunggu dulu...Cermin itu...” Dinie tiba – tiba teringat dengan cerita ibu Anandita tentang teman Anandita yang memberi hadiah cermin bernama ‘Snow White’, kok rasanya seperti ada kesamaan dengan cermin yang ada dikamar kostnya?


“Din...Sudahlah...” desis Rikki sambil menggamit Dinie, tapi tidak digubris oleh gadis itu.


“Bu...Maaf..Tadi ibu mengatakan tentang cermin hadiah....”


“Oh cermin itu? Kenapa memangnya, nanda? Cermin itu sangat bagus, antik, piguranya terbuat dari ukiran jati dan...”


“Dan diberi nama ‘Snow White'...Iya kan bu?”


“Ya, ananda mau lihat? Ayo ibu tunjukkan...Semua barang – barang peninggalan Anandita masih kami simpan dengan baik dikamarnya...” tawar ibu Anandita sambil buru – buru menghapus air matanya.


Ibu Anandita mengajak Dinie dan Rikki naik ke tingkat dua rumah besar itu. Mereka tiba di depan sebuah kamar yang kelihatannya sudah lama tidak dibuka. Wanita setengah baya itu membuka kunci kamarnya dan menyalakan lampu. Tampak sebuah kamar yang begitu feminim, dengan tempat tidur besar bernuansa pink, lengkap dengan susunan bantal berbentuk love dan jejeran boneka – boneka bulu yang cantik. Disebelah tempat tidur tampak sebuah lemari baju yang besar. Dan sebuah meja rias yang masih penuh dengan botol – botol parfum, sisir, tempat bedak dan jejeran foto – foto Anandita. Semua utuh seolah kamar itu masih selalu berpenghuni.


“Oh tidak!” ibu Anandita tiba – tiba mendekap mulutnya, terkejut.


“Ada apa bu?”


“Cerminnya! Kenapa cerminnya tidak ada?!”


“Apa?!”


“Biasanya cermin itu tergantung di depan meja rias ini...Aduh, siapa yang sudah mengambilnya?” wanita itu tampak sangat panik karena mendapatkan cermin yang dia maksud, sudah raib dari tempatnya tergantung. Dinie masih bisa melihat bekas – bekas sebuah cermin pernah digantung pada dinding dekat meja rias. Didalam hati, Dinie jadi semakin yakin, cermin itu adalah cermin yang sama dengan yang ada di kamar kostnya. Gadis itu teringat dengan kata – kata bapak tua tukang loak yang menjual cermin itu padanya, ‘Saya baru saja dapat cermin antik ini, saya menemukannya di depan rumah orang kaya, cermin ini dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Sayang kan?’


Jadi rumah orang kaya yang dimaksud bapak tua tukang loak itu adalah rumah ini. Seseorang dari rumah ini telah membuang cermin itu, lalu ditemukan oleh bapak tua tukang loak, batin Dinie sambil mengerutkan kening. Pertanyaannya kenapa cermin itu dibuang, apakah orang yang membuangnya tau bahwa cermin itu angker? Dan kenapa ibu Anandita tampak tidak tau – menau jika cerminnya telah dibuang?


Wanita setengah baya itu tampak sibuk menanyai semua orang – orang dirumahnya tentang keberadaan cermin itu, walau Dinie tau hal itu sia – sia saja, karena cermin itu jelas – jelas sekarang sedang berada di kamar kostnya. Dinie dapat melihat semua orang disitu tampak ketakutan saat ditanyai tentang cermin. Sulit menebak siapa yang sudah mengambil dan membuang cermin itu.


Sebuah pigura foto rusak yang tergeletak di meja rias Anandita tanpa sengaja menarik perhatian Dinie. Gadis itu melirik foto yang masih terpasang didalam pigura yang rusak itu...Eh? Kok kayaknya aku pernah lihat orang yang ada dalam foto ini? Dinie tiba – tiba terkesiap.


“Itu foto pemuda teman kampus yang digila – gilai oleh Anandita, yang menghadiahi Anandita cermin antik itu...” komentar ibu Anandita ketika melihat Dinie memperhatikan foto yang ada dalam pigura yang rusak itu. “Anandita membantingnya hingga rusak, saat pemuda itu pergi begitu saja meninggalkannya...”


“Bo..Boleh saya tau siapa nama teman Anandita yang didalam foto ini?” tanya Dinie tergagap, dengan perasaan yang begitu galau tidak menentu.


“Hmm...Kalau tak salah, namanya Bebbi...Ya Bebbi Adi...Adin..”


“Bebbi Adinegoro?”


“Ya betul! Kok ananda bisa tau?”